CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Jumat, 19 Februari 2016

Anak kampung yang pingin jadi pentani kampung


Caritas Ketapang, Salah satu Fasilitator  yang saat ini aktip sebagai penggerak kebun tanaman muda, yang sejak tahun lalu bergabung dengan Caritas Ketapang  adalah Yohanes Budin.

Budin paling tengah bersama klpk binaan
Kalau melihat tanmpangnya yang kurus, gaya kampungan, ternyata figur ini sangat berkomitmen untuk bekerja sebagai penggerak komunitas-komunitas di pedalaman. Ia bertekat untuk membantu Komunitas Giet dan Sie Bansi bangkit kembali berbenah dan berproses mengejar ketertinggalan dalam hal karet unggul dan kebun tanaman muda.


Budin, begitu ia disapa oleh komunitas-komunitas dampingan Caritas, sangat gaul dan tahu cara “nyemplung” di tengah-tengah masyarakat, meski sepak terjangnya dalam dunia pemberdayaan masyarakat tergolong sangat muda. Ia kelahiran Kampung Pulai Laman Manismata.

Yohanes Budin  lahir dari daerah pedalaman bagian selatan Ketapang yang sudah tidak menyisakan hutan sedikitpun karena telah dipenuhi kebun sawit, sangat berbakat dalam urusan tanam-menanam tanaman muda, dan juga tidak pernah malu berjualan dari satu warung ke warung menawarkan hasil kebunnya seperti kangkung, cabe, mentimun.

Budin yang lulusan S1 Ilmu pertanian Stiper Yogyakarta, pernah mendirikan  pondok di lahan kosong di belakang universitasnya untuk tempat kostnya sekalian memanfaatkan tanah tersisia untuk ditanami sayur-sayuran agar dapat bertahan hidup dan terus menyelesaikan kuliahnya. Melihat tekat mahasiswa ini, seorang dosen akhirnya memutuskan untuk memberi pinjaman lunak untuk modal usaha dan sisanya untuk kredit kendaraan motor, sehingga bisa menjual hasil kebunnya ke luar kampus. Hingga kini revo yang dipakai untuk ke pedalaman menemani bapak-ibu menjadi saksi. Betapa sesungguhnya tekat kuat anak kampung yang tidak tahu malu ini tetap bersemangat  menggapai cita-cita menjadi petani kampung yang handal. Banyak tawaran datang dari perusahan perkebunan sawit, namun ia lebih tertarik berbagi ilmu dan ketrampilan dengan orang kampung.

Demi cita-cita saya membangun kampung, pilihan teman hidup saya pun  kelak harus orang kampung, kisahnya suatu hari tentang panggilan hidup.Mrsel

Kamis, 18 Februari 2016

BERBAGI KISAH SUKSES #2 : MEKAR, FEBRUARI 2016

Media Karitas (MEKAR) edisi Februari 2016 kali ini masih mengangkat kisah-kisah sukses beberapa orang dan beberapa komunitas dampingan CKK. Ada beberapa orang maupun kelompok yang mengalami perkembangan yang cukup signifikan, dan ini bisa menjadi contoh bagi yang lainnya untuk dapat terus berkembang. Ada beberapa juga dari mereka yang sudah merasakan manfaat yang positif bagi perkembangan pribadi maupun bagi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.
Kisah-kisah ini merupakan kisah-kisah kecil yang diharapkan bisa menjadi kisah-kisah yang memotivasi dan membangun resiliensi.
Anda dapat membaca MEKAR Edisi Februari ini di Komunitas Dampingan CKK, atau anda dapat mengunduhnya di sini

Minggu, 14 Februari 2016

Pot Organik Dari Labu

Media Karitas_Caritas Keuskupan Ketapang KSM Uncak Kontok (Jan,2016). Bagi orang yang cinta berkebun, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkreasi dalam budidaya tanaman. Seorang Koordinator Lapang Program Promosi Livelihood yang dikelola oleh Masyarakat  bapak Aloysius sedang memegang tanaman kucai lokal. Anda tahu media yang dipakainya? Bukan polibac, tapi labu yang banyak ditemukan di pedahasan. Labu ini adalah tanaman lokal bisa untuk sayur kalau lagi hijau, bila disimpan sampai tua dapat digunakan untuk ambil air. Dan kali ini untuk pot tanaman kucai.

Petrus Apin, yang pernah menjadi ComDev Officer Usaid Ifacs mengatakan, "pemanfaatan barang bekas buah labu tua menjadi pot/polibag menunjukan indikator strategi dan metode yang kreatif  oleh anggota KSM UK. Bisa jadi model mendekatan model ini ke depan penting untuk membangun ketahanan pangan" Kita menyebutnya  resilien," katanya kepada staff Karina Lora Gayatri ketika mendampingi kunjungan monitoring di pekarangan anggota KSM UK. papin

Aset Riil Menangkis Krisis

Bagi masyarakat pedalaman, alam telah menyediakan pupuk instan yaitu hasil bakaran. Apapun yang ditanam pasti akan tumbuh subur. "Berbahagialah kita yang banyak diberi kemurahan, karena alam telah memberikan segalanya buat kita," ujar Bapak Mungkin anggota kelompok tani Kontok. Lebih lanjut katanya, "tapi kapan kita akan memberi pada Alam".

Itu sebabnya dia bertekad untuk belajar membuat pupuk organik dari bahan-bahan sederhana, "Saatnya kita harus memberi pada alam," seru Pak Mungkin,  anggota KSM Uncak Kontok di Dusun Botong Kiri Desa Kualan Hulu. Lewat Program Promosi Livelihood yang dikelola Masyarakat, Caritas Keuskupan Ketapang dia mengikuti pelatihan membuat pupuk organik sederhana dan   budidaya karet unggul serta  melakukan budidaya tanaman muda di pekarangan.


 Ia  sukses dengan memanfaatkan pekarangannya dengan tanaman muda seperti terung kampung, kacang panjang. Sementara tanaman buah yang ada di pedahasan yang dikenal dengan tembawang, pada musim buah, Desember 2015 - Januari 2016, menghasilkan buah yang berlimpah. Hal itu sangat berdampak bagi penghasilan keluarganya. Ia dan keluarganya mengalami peningkatan penghasilan utamanya dari  hasil menjual buah-buahan hutan. Ada kegiatan tambahan yaitu menjual buah tengkawang.

"dengan mengandalkan dan mengelola aset riil seperti kebun buah dan kebun sayur, keluarganya mampu menghadapi harga karet terjun bebas hingga 3000 rupiah per-kg, sementara, sembako mahal. Hal senada juga dirasakan oleh anggota KSM lain seperti pak Cintul. " Seandainya kita sigap memanfaatkan pekarangan kita, seharusnya kita tidak perlu mengeluh," ucapnya lirih, ayo semangat lagi. (papin)

KSM PB: Jembatan Ba Palalau Urat Nadi Transportasi Masyarakat


Media Caritas-Jembatan Ba Palalau, Sei Bansi, KSM PB (18/01/2016)
Bagi masyarakat dusun Sungai Bansi Kec. Simpang Hulu, sudah terbiasa dengan jalan yang jelek, becek, berlumpur, tempat penyebrangan seadanya yang bisa mereka buat sendiri tanpa ribut-ribut. Bukankah ini ciri komunitas kelola-mandiri yang tidak menggantungkan perjuangan dan kehidupannya pada bantuan dari luar. 

"Ba Palalau" begitu orang kampung menyembut jembatan ini. "Jembatan ini hidup,nafas kami" ujar pak Anten. Lebih lanjut, Pak Anten, yang juga anggota Kelompok Swadaya Masyarakat Pateh Banggi (KSM PB) mengatakan, "kami selalu merawat jembatan ini, bila tiang dan kayu pengangannya mau lapuk diganti lagi dengan kayu segar, jembatan ini sangat penting bagi kami, karena selain ke ladang atau ke hutan kami juga sering melewatinya ke kebun entres kami," ujarnya kepada tim lembaga pendamping Caritas fasilitator lapang Jelly Karel Peyoh. papin


Siasat Bu Parnol Menyelamatkan Kambing Dari Banjir


Caritas Ketapang, Disaat orang terlelap tidur, banjir besar menghatam Balai Berkuak  dan sekitarnya, (21 Jan,2016).
Hujan sepanjang malam di wilayah Kuala Randau membuat sungai Balai Pinang meluap, dan hujan di Kualan tengah mengakibatkan  sungai Kwalan meluap dan merendam wilayah Balai bekuak hingga 60 cm diatas lantai rumah penduduk. 
"Banjir seperti ini akan terjadi setiap musim hujan tiba pasalnya hutan penyangga sudah jadi hamparan sawit" ungkap bapak Vinsen Balai berkuak, yang rumahnya kali ini terendam selama 3 hari. Dia sangat kesal, tidak saja perkebunan skala besar yang membuat air tak terbendung dimusim hujan, tapi juga penambangan liar di tepi sungai Kwalan yang menyebabkan air kotor pada musim kemarau. "Tolonglah kami para pengambil kebijakan" serunya memohon.

Lain lagi kisah ibu Parnol. " Saya dan suami saya buru-buru ambil papan, beli paku, dan membuat kandang darurat di teras rumah kami, agar kambing selamat dari banjir," katanya sambil tersenyum santai. Sebuah cara tanggap darurat yang sederhana dari seorang ibu rumah tangga. 

Bu Parnol yang suaminya adalah anggota polisi sektor kecamatan Simpang Hulu itu tidak pernah belajar cara tanggap darurat dan persiapan dini menghadapi banjir, dengan demikian belajar dari pengalaman banjir. Banjir di pedalaman sudah menjadi pristiwa sering terjadi, hanya kali ini memang di luar dugaan. papin


Perubahan Iklim: Balai Banjir

Perubahan Iklim; Balai Berkuak Banjir, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, (Jan,2016).


Kawasan penyangga, layanan ekosistem hutan penyimpan air di bukit Kayu Bunga sudah rusak oleh ulah manusia yang rakus. Terjadi longsor di beberapa lereng bukit di lokasi peladangan akibat peladang yang tidak lagi taat pada aturan adat dalam menghormati dan menghargai alam sebagai penyedia manfaat ekonomi, sosial budaya dan ekologi berkelanjutan. Sikap pragmatis dan instan masyrakat yang hidup di sekitar hutan, alasan krisis ekonomi menjadikan mereka mudah menjual aset warisan para leluhur kepada perusahaan pemegang konsesi perkebunan sawit. Masyarakat semakin tidak resilien karena kapasitas mereka tidak berbanding dengan ancaman dan kerentanan yang dialami masyarakat. Pegiat lingkungan pun terbatas tidak mampu mengintervensi peningkatan kapasitas masyarakat dan perlindungan sumber daya alam yang terancam kehilangan akses untuk dikelola oleh masyarakat sendiri. Presiden Jokowi mengatakan dalam konferensi Perubahan Iklim di Paris (2015), "Masyarakat Adat berperan penting dalam membangun rendah emisi," katanya. Semestinya, kehadiran pemerintah juga penting dalam strategi pembangunan rendah emisi secara nasional sampai kepada daerah-daerah. "Keputusan MK 35 sudah membuka pintu bagi kepala daerah untuk menghasilkan PERDA untuk mengakui wilayah adat dan sumber daya hutan untuk dikelola oleh masyarakat secara penuh." kata Petrus Apin, yang pernah menjabat ketua badan peaksana harian aliansi masyarakat adat ketapang utara ketika diwawancarai oleh Media Karitas (30/01/2016). Papin.

Sabtu, 13 Februari 2016

Resiliensi KSM Disorot, Jangan Terjebak Sibuk

CMLP II
Resiliensi KSM Disorot, Jangan Terjebak Sibuk

KETAPANG, MEKAR Staf Karina C.Lora Egaratri, Selasa (26/1), menyampaikan progres capaian, indikator dan target program communty Managed Livelihood Promotion (CMLP) di semester tiga, di dalam forum diskusi berdasarkan logframe. Hadir pada kesempatan itu, Koordinator Lapangan Aloysius Rachmad, dua Fasilitator Lapangan Stepanus Adiyanto dan Jelly Karel Peyoh, dan 2 Technical Support Petrus Apin dan Yohanes Budin. Kita bukan gagal, mungkin lebih tepat "gagal fokus" ungkap Lora ketika mengomentari capaian Tim Implementor program CMLP II. Lebih lanjut ia mengatakan agar team  tidak terjebak hanya karena sibuk dari masyarakat penerima manfaat lalu kegiatan tidak teratur dan terukur.

“Ciri masyarakat yang resilien itu punya 4 karakter, yaitu tangguh, ulet, berdaya tahan, dan tanggap dalam membangun kemandirian". Bila anggota melakukan budidaya tanaman muda dan  budidaya karet unggul,  dan pembukuan keuangan keluarga secara tekun kalian sesungguhnya  telah belajar mengendalikan kehidupan secara mandiri. Namun, untuk para penerima manfaat, paling penting adalah  merasakan dampak dari  program ini,” lora meneruskan pesan Martina dari Lembaga Donor Caritas Internasionalis Austria, di sela-sela penyampaiannya.

Saat ini, lanjutnya, dampak program sangat  minim hasil. Hasil okulasi  tanam karet unggul juga sangat minim. Anggota kurang kompak ditambah lagi  ternak liar merusak tanaman muda sungguh meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan pendampingan fisilitator yang mampu untuk fokus. "Jangan lari dari logframe kita, kalau tidak mau gagal fokus" tandasnya keras.

Selanjutnya dia mengingatkan agar para pendamping perlu meningkatkan kualitas pendampingan/live in. Memastikan tinggal ditengah komunitas  10 hari per KSM, dan bekerja dengan  efektif dan efisien. Untuk live in perlu berpindah-pindah dan merata(tidak hanya di ketua KSM saja), dan pertajam focus live in supaya terarah. Laporan live in dimasukan dalam laporan bulanan.

“perencanaan live in harus lebih matang dan terarah, fasilitator harus lebih jeli mengidentifikasi lesson learned dari laporan bulan sebelumnya, sebelum live in, harus lebih mengoptimalkan data yang ada untuk dianalisa dan ditindaklanjuti, jangan hanya berhenti sampai pada pelaporan ke KARINA saja,” katanya.

Sementara itu Petrus Apin, technical support program CKK, mengatakan, fasilitator pendamping harus mengubah strategi dan metode pendampingan praktek pembukuan keuangan keluarga. “Ada kemungkinan, BKH (buku kas harian) lebih disederhanakan lagi berdasarkan konteks keluarga/penerima manfaat. Ingatkan selalu para ibu untuk mencatat hasil kebun tanaman muda yang telah dipanennya, sekadar mengingatkan" ujarnya.

Ia mengusulkan ada baiknya pelibatan tim support external program untuk sisa 5 bulan pendampingan dalam tim implementor (feb-Juni 2016), sdr Yohanes Budin yang selama ini juga aktip menemani kelompok, agar hasil capaian dalam lima bulan ke depan lebih baik dan terukur.

Ditemui setelah diskusi, Koordinator Lapang Aloysius Rachmad mengatakan, kerjasama dan koordinasi antar tim merupakan prioritas. “Kami perlu koordinasi intensif untuk urusan teknis pendampingan dengan tim kerja dan staf caritas lain serta direktur,” ujarnya, ke pada sdr. Apin yang pernah menjabat Koodinator Lapang program dukungan perubahan iklim (Usaid Ifacs).

Berbekal pengalaman itu, Aloysius yakin dapat mempersiapkan tim kerja menghadapi sisa 5 bulan pendampingan KSM di Kontok, Jangat, Sei Bansi, dan Giet, Febuari – Mei 2016. Apalagi, pihaknya menyatakan didukung keberadaan tim technical support.

Lora mengatakan, fleksibelitas pelaksanaan tugas di lapangan berupa keterwakilan pelaksanaan tugas oleh pihak lain, tetap mungkin untuk dilakukan, jika yang bersangkutan berhalangan hadir namun ada support eksternal.  

Namun sebaiknya tetap semua informasi dan laporan yg didapatkan di lapangan harus di-pool pada posnya masing-masing, sehingga pada saat memerlukan koordinasi terkait tema tersebut di kemudian hari, baik pihak CKK maupun KARINA tetap bisa memakai jalur komando yang sesuai.

“Dan untuk memenuhi kebutuhan administrasi, hal ini perlu didukung dengan dokumen pendukung, yaitu mandatory dari direktur atau surat keterangan dari pihak terkait atas kendala tidak menghadiri kegiatan, “ katanya.

Kalender Musim

Untuk  agenda pendampingan sisa 5 bulan ke depan , Petrus Apin mengingatkan soal kalender musim. Pertengahan  Januari s/d Maret, petani mengetam padi. Penghujung bulan Maret s/d April ada pesta panen padi dan biasanya dimusim ini masyarakat menghabiskan waktu untuk pesta rakyat. Memasuki bulan April, sebagian masyarakat sudah ada yang memulai mencari tempat berladang (ngusok) sampai ke kegiatan menebas dan menebang di bulan Mei Juni Juli. Berdasarkan data empiris peladang setempat, disepanjang musim ini mereka sibuk, sehingga diperlukan ketrampilan dan kegigihan agar dimungkinkan kerjasama yang bermuara pada penyesuaian sehingga pendampingan berjalan baik.

Direktur Ignasius Made Sukartia (rapat tim, 4/1) mengatakan, muatan kerja tim technical support mendukung tugas tim implementor program.  “Ini menegaskan secara efektif, agenda perbaikan menejemen program di lapang secara teknis dan operasional tetap dikendalikan oleh Koordinator dan dibantu oleh sdr Apin,” katanya.

Pendekatan individu oleh fasilitator menjadi penting dalam meningkatkan motivasi anggota dan menemukan akar masalah dari trend ketidakaktifan anggota. “Semoga tim kerja punya agenda pendampingan yang strategis. Tak hanya komitmen, tapi praktik,” ujarnya.

“Saya titip secara khusus, ini hal cukup berat dan membutuhkan hasil konkret di lapangan sehingga terhindar dari jebakan karena masyarakat sibuk dan kodal (masuk kuping kiri keluar kuping kanan),” katanya.

Model promosi livelihood yang dikelola oleh masyarakat untuk menjadikan mereka resilien dipengaruhi 2 faktor  yaitu pendukung tim implementor dan penerima manfaat. “Banyak hal yang harus disesuaikan dengan seluruh pemangku kepentingan program terkait". kata  koordinator. (papin)

Lika Liku Fasilitator Pendamping



Pendampingan itu menjadi serba sulit dan menguras otak, ketika menemukan orang-orang yang berpikiran negatif dan tidak mau berproses, banyak sekali alasan yang dilontarkan para anggota, ada yang bilang sibuk, tidak bisa menanam, tidak sempat karena kalender musim. Tapi bagi yang mau berposes, kesibukan tidak dapat dijadikan alasan. Mereka hanya akan memikirkan gimana supaya berhasil, baik itu menanam sayuran maupun tanaman karet, apalagi diberikan ilmu Gratis. Pendampinganpun akan terasa menyenangkan ketika mendampingi anggota seperti Bpk. Amaik, yang mempunyai semangat yang tinggi. Dia merupakan salah satu anggota kelompok KSM KJK yang saat ini sedang mempersiapkan Lahan penanaman dipekarangan, dengan kata lain yang mau berhasil akan diutamakan untuk didampingi.  Apa lagi ada dukungan dari istri yang juga ikut ambil bagian dalam mempersiapkan konsumsi ketika bekerja persiapan lahan dipekarangan, dalam hal ini keluarga sangat berpengaruh dalam proses pendampingan, karena suatu kegiatan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan dari keluarga. Dia baru pertama kali menyiapkan lahan untuk penanaman, dengan harapan dengan adanya tanaman dipekarangan, tidak perlu mencari sayuran jauh-jauh, ataupun membeli kepada pedagang keliling, akan tetapi mampu menghasilkan sayuran sendiri dan jaraknyapun tidak jauh dari rumah. Bpk. Amaik juga berharap dengan menanam sayuran mampu mencukupi kebutuhan keluarga, baik itu untuk di konsumsi sendiri maupun untuk dijual. (BUDIN)

Cara Lestari Menangkap Ikan Sungai.

Cara Lestari Menangkap Ikan Sungai. gbrmonevcarina 50:51;52;53
Ujo sejenis penangkap ikan



Sungai Kontok adalah salah satu anak sungai Kualan di Kecamatan Simpang Hulu, letaknya di kampung Kontok  di Desa Kualan Hulu. Ketika tim monitoring caritas bersama karina berkunjung ke pekarangan tanaman muda Pak  Mungkin (25/01/2016), saya menemukan praktek baik menangkap ikan dengan cara lestari.  Adanya  sumber daya hutan seperti pepohonan dan sumber air di Kontok mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat umumnya dan bagi Pak Mungkin khususnya. Bahan baku seperti bambu, tanaman akar resam, rotan  untuk membuat ‘Ujo’ sejenis alat penangkap ikan, sangat mudah didapat. 
Seandainya saja Pak Mungkin terbiasa mencatat hasil menangkap ikan setiap harinya, atau mencatat apa saja yang telah dibelinya, entah dipapan dapurnya, sukur-sukur dalam buku keluar masuk, pasti dia akan terkejut betapa penghasilan tambahan yang diperolehnya lumayan besar. Ia hanya tahu satu hal mendapatkan ikan sungai bisa mengurangi pengeluaran keluarganya. Tidak mudah mengubah cara pikir teratur.
Sungai Kontok bersih karena secara adat, masyarakat sepakat tidak mau merusak ekosistem sungai dengan aktifitas penambangan liar maupun aktifitas sejenisnya yang merusak wilayah aliran sungai. Dengan demikian, masyarakat mudah mencari ikan dengan cara menggunakan alat-alat penangkap ikan buatan mereka sendiri. Alat ‘Ujo’ adalah salah satu alat penangkap ikan yang dipasang di posisi strategis dimana ikan akan berkumpul pada saat musim hujan mau pun kemarau. Pak Mungkin menjelaskan; “Istilah lokalnya bila ‘Ujo’ dapat ikan banyak dimusim kemarau disebut ‘nyao ikan’ sebaliknya bila musim hujan disebut ‘rinsam ikan’.”

Selain keberadaan sumber daya hutan Kontok masih lestari mampu memberi manfaat hutan sebagai penyedia kebutuhan dasar  hidup masyarakat (papan, sandang, dan pangan) sekaligus sebagai pendukung kesejahteraan hidup, secara sosial dan budaya ketersediaan bahan baku membuat alat penangkap ikan Ujo adalah  sarana untuk berbagi pengetahuan kepada generasi berikutnya. (Papin)

Perjalanan CMLP II di Semester III

Perjalanan CMLP II di Semester III, gambarmonevcarina 44-60-84-3
Tanpa terasa, program community managed livelihood promotion atau program promosi matapencaharian yang dikelola oleh masyarakat, bersama Caritas Keuskupan Ketapang sudah memasuki semester 3 di tahun kedua (26 Jan, 2016). Sejumlah cara dan strategy sudah dilakukan oleh tim implementor program untuk menjawab segala tantangan dan rekomendasi untuk memastikan agar dampak dirasakan oleh masyarakat. Program ini adalah sebuah proses pembelajaran bagi lembaga pendamping dan masyarakat dampingan agar resilien terhadap kebencanaan.

Untuk mengurangi tingkat kerusakan  sumber daya hutan, dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, Caritas mengajak masyarakat melakukan 4 model pendekatan, dalam rangka usaha  mitigasi kebencanaan terhadap kemiskinan dan dampak buruk perubahan iklim. Melalui praktek perencanaan keuangan rumah tangga, masyarakat diajak pandai dan cermat mendayagunakan semua aset keluarga agar produktif dengan  mengelola pemasukan pengeluaran keluarga dengan baik dan terarah. 
  
Pendekatan kedua adalah memanfaatkan tanah pekarangan dengan berkebun tanaman muda. Kebiasaan menanam sambilan sewaktu menugal dipindahkan ke pekarangan dengan cara penanganan yang baik dan teratur dapat mendatangkan hasil tambahan. Pendekatan ketiga adalah belajar menghasilkan karet unggul dengan okulasi sendiri. Sumber mata entres tersedia, batang bawah karet juga ada,praktek pembibitan unggul juga sudah diajarkan dan dipraktekkan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berkemampuan memiliki tanaman karet unggul. Dasar-dasar berorganisasi dalam KSM juga sudah dilalui bersama dalam kelompok. Cara menyusun proposal yang baik dengan analisa yang cermat baik, tidak asal susun, juga sudah dilalui dengan baik. Nah pendekatan-pendekatan seperti itu akan sangat membantu komunitas belajar mandiri  dan mampu mengakses dukungan dari pihak luar guna mendukung pengembangan kelompok.


Lima bulan lagi pendampingan program CMLP II Caritas kepada 4 KSM akan berakhir tepatnya pada bulan Juni 2016. Semoga apa yang telah dipelajari dalam aksi bersama, entah dalam rencana kerja kelompok, entah praktek lapangan dalam meningkatkan ketrampilan catat mencatat keluar masuk uang untuk keluarga, maupun okulasi karet, membuka mata bapa ibu bahwa bukan caritas, bukan pendamping yang akan bisa membuat kalian hebat, melainkan bapak ibu sendirilah yang mampu mengubah dan membawa perubahan.  (Papin).

SI “RENDAH HATI” SUKSES DENGAN TANAMAN MUDANYA


 Semangat anggota KSM Uncak Kontok melakukan budidaya tanaman muda sering turun naik karena beberapa alasan. Faktor pendukungnya adalah secara umum, kurangnya minat anggota KSM UK berkebun di pekarangan karena malas mempersiapkan lahan dan malas merawat tanaman. Mereka lebih memilih menanam sayur diladang dengan cara praktis tanam tinggal saja. Dan, semangat mereka semakin menyerah kalau tanaman pekarangannya diserang oleh ternak liar seperti sapi dan babi. Menurut data tabulasi tanaman muda per Des 2015, ada 62% atau 16 dari 26 anggota KSM UK sudah menanam, 10 diantaranya berhasil panen rata-rata 2 siklus, sisanya 6 orang gagal panen karena tidak terawat. Damianus Danus adalah salah satu diantara 16 orang itu, ayah satu anak ini sudah 3 kali menananam sayur di pekarangan namun menuai pengalaman pahit karena tanamannya rusak oleh ternak sapi dan babi yang berkeliaran bebas mencari makan di sekitar pemukiman.  

      Sejak Oktober 2015, Danus bersama istrinya bersepakat memilih menanam sayur di sela kebun entres kelompok, alasannya selain tempatnya aman dari gangguan ternak, pagarnya juga kokoh, mereka juga bisa sekalian merawat 220 batang bawah karet layak okulasi di demplot bersama yang tidak jauh dari bedeng sayur. Suami dari seorang Tina ini kerapkali dipanggil pak Vika oleh teman-temannya, karena menurut adat setempat memanggil seorang kepala keluarga harus menggunakan nama pendek dari anak tertua mereka. Menurut penuturan beberapa anggota KSM UK, pak Vika ini agak pendiam tetapi tidak sombong, rendah hati dan tidak pelit berbagi pengetahuan dengan sesamanya. Sejak menanam sayur di demplot si rendah hati ini selama 1 silkus panen berhasil menjual 40 kilogram mentimun ke lokasi penambang emas liar di Krukan dan sebagian lagi di sekitar kampung Kontok.

       Ada motivasi yang kuat dari keluarga kecil ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi keluarga dengan mengelola aset lama dan aset baru lewat pembukuan keuangan keluarga dibukukan. Damianus Danus bertekat menambah sumber penghasilan keluarga dengan investasi menanam 592 pohon karet unggul ke lahan pribadi dan secara bergulir menanam sayur sistem bedeng di demplot, ujarnya di dalam forum monitoring dan evaluasi dari Karina (Jan,25).

      Mulai minggu keempat Januari sampai dengan Juni 2016, Danus dan istrinya akan menanam bibit timun dan kacang panjang selama 2 siklus. Berdasarkan pengalamannya, ada tantangan mengendalikan hama walangsangit pengisap cairan pada batang dan kumbang helm pemakan daun. Selama ini yang dilakukan olehnya membasmi 2 hama tersebut hanya dengan cara kimiawi desis saja. Kedepan, berkat bimbingan tenaga teknis Caritas Yohanes Budin, Danus akan fokus cara organik buat mengendalikan serangan hama walangsangit dan kumbang helm pada tanaman timun dan kacang panjang, rencananya akan menggunakan pestisida serbaguna alami dari bahan baku tembakau, akar tuba, umbi gadung, dan buah dan daun jarak.(ADI)

PEKARANGAN TAMBAH AMAN, TAMBAH MULSA!!!






Pada bulan Agustus 2015 yang lalu di Media Caritas (MEKAR) KSM KJK lebih unggul dibandingkan 3 KSM lainnya dalam melakukan budidaya tanaman muda di pekarangan. Ini berkat kegigihan Kupong sukses dengan pekarangannya memberi nilai plus buat KSM KJK, suksesi pekarangan Kupong dan istrinya Atun memberi manfaat ekonomi buat keluarganya sendiri dan oranglain membutuhkan konsumsi sayur untuk odi menanam padi saat itu, dan memberi motivasi bagi anggota KSM lainnya menarik minat belajar dalam membudidayakan tanaman di pekarangan. Kupong larut dalam proses belajar menanam sayur dengan siapa saja, selain memproleh pengetahuan dari Caritas diprolehnya juga dari LSM LinKar Borneo dan hasil ujicoba pengalamannya sendiri mempraktekan perawatan tanaman cara organik pupuk Nasa buatan pabrik dan kimiawi sebagai perbandingan.
             Progres Kupong mempraktekan budidaya tanaman muda mengalami kemajuan, sejak Desember 2015 ada perubahan signifikan dan komitmen tinggi,mulai dia menambah lahan, memagari 2 pekarangannyasetinggi ± 2 meter dengan tiang kokoh dari bahan kayu keras dan  bambu melintang dipaku sebagian juga diikat dengan akar, ditambah lagi dengan pelepah sawit didirikan diikat dengan tali mengelilingi pagar sehingga sulit bagi semua ternak liar untuk sapi, kambing, babi, ayam untuk masuk pagar, termasuk manusia kecuali secara etika minta izin dulu ke pemiliknya untuk membuka pintu pagar. Pengalaman menarik buat Kupong ketika observasi dan berbagi pengetahuan tanaman muda dengan seorang perawat kesehatan desa Purnadinus Suwardi di pekarangan kediamannya. Temannya ini menggunakan mulsa plastik menutupi bedeng untuk mencegah gulma liar tumbuh.  Penanaman Desember kali ini memasuki siklus kedua untuk tanaman terung, sawi, kacang panjang, pare, dan mentimun. Kupong sengaja menanam banyak di dua lahan pekarangan pribadinya guna menyambut kebutuhan odi memanen padi mulai Januari sampai dengan Maret 2016.

             Mulai Maret target Kupong dan istrinya Atun akan menambah 1 lahan lagi di sekitar rumahnya khusus untuk praktek menanam bibit lokal sawi dan terung. Berdasarkan pengalamannya menanam bibit sayur hibrida tidaklah sulit karena cepat tumbuh, berbeda dengan bibit lokal agak lama tumbuhnya, sharing Kupong kepada fasilitator. Oleh karena itu, dia memanfaatkan sisa 6 bulan pendampingan Caritas untuk memproleh pengetahuan organik guna merawat tanaman muda lokal sebagai perbandingan dengan bibit hibrida. (Adi)

Kemandirian KSM UK

Sejak tahun 2012 KSM UK berdiri dan diakui oleh masyarakat dan pemerintahan lokal karena mampu menerapkan siklus menejemen program untuk mengembangkan kehidupan masyarakat Kontok mulai dari perencanaan partisipatif implementasi dan monev. KSM UK juga menjalankan menejemen dan kepemimpinan KSM yang efektif dan transparan sehingga mampu berjejaring dengan pihak luar. Kini, KSM UK menerima manfaat lagi dari program CMLP II mulai 1 Juli 2014 - 30 Juni 2016. Sampai memasuki semester 3 tahun kedua, KSM UK sudah menjalani proses penguatan kelompok yang mandiri dengan ditargetkan dalam program pendampingan adalah 80% melaksanakan rencana kerja tahunan dan diikuti proses evaluasi dan perencanaan RKT berikutnya, memiliki pembukuan, pendokumentasian, dan pengarsipan yang secara rutin diperbaharui, memproleh pendampingan penulisan proposal partisipatif diharapkan mampu mengakses dukungan pengembangan kelompok dari pihak luar termasuk terlibat dalam musrenbangdes.

Pengembangan kelompok KSM UK (September, 2014) memproleh dukungan Seedfund 17.197.500 dari Caritas untuk pemeliharaan tanaman karet dan tanaman muda dengan pengadaan perlengkapan okulasi, pengadaan pupuk, saprodi, dan bibit sayur. Dana ini dimanfaatkan dengan baik dan terserap oleh 26 anggota (sumber laporan seed fund ksm uk per Maret 2015). Pada Oktober 2014, proposal KSM UK dikabulkan oleh Dinas Kesejahteraan Rakyat  untuk membangun pagar Kebun entres seluas 5.293 m2 dengan kawat berduri dan tiang belian bernilai 10 juta rupiah. Namun untuk permohonan bantuan pengadaan 13.000 bibit stum karet unggul jenis klon PB 260 kepada Dinas Perkebunan sampai sekarang belum mendapat jawaban. KSM UK bersama masyarakat telah mengelola dana bantuan Alokasi Dana Desa untuk pembangunan jalan rabat beton menuju kontok dengan volume  1,5 meter x 80 meter (November, 2015).

Memproleh dukungan untuk pengembangan organisasi, tidak hanya dilakukan dengan dinas-dinas di pemerintah daerah Kabupaten, tetapi juga KSM memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat yang ada di pemerintahan desa Kualan Hulu. Pada tanggal 1-2 Desember 2015, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Kualan Hulu (Kaur KesRa) telah menginisiasi para pengepul karet lokal dan beberapa kelompok tani termasuk KSM UK dan KJK didalamnya menjalin kerjasama perbaikan mutu karet dan pendampingan budidaya karet unggul dengan pabrik karet PT.Kirana Prima. PemDes melibatkan pengurus KSM UK & KJK bersama jajarannya merumuskan rencana pembangunan desa untuk jangka pendek-menengah-dan jangka panjang (27/01/16). Kesempatan ini dimanfaatkan oleh KSM UK mau mengusulkan bantuan untuk pembangunan infastruktur; menambah jalan rabat beton dengan dana ADD bervolume 1,5 meter x 600 meter, lewat musyawarah pembangunan tingkat kecamatan (musrenbangcam) KSM bersama PemDes akan mengusulkan dan mengawal 3 prioritas usulan; rencana penuntasan jalan rabat beton botong-kontok bervolume 1,5x4.830 (meter), permohonan bantuan percetakan lahan sawah baru di kontok dengan hamparan seluas 3 ha,  dan bantuan percetakan lahan serta pengadaan bibit karet unggul hasil okulasi untuk masyarakat (sumber dok.musrenbangdesrkp desa kualan hulu th.anggaran 2015, < Jan,27,2016>).


KSM UK juga sudah memiliki dana operasional sendiri dan rutin setiap bulannya mendapatkan pemasukan dari 3 sumber pendapatan yaitu;  hasil penjualan kakao & sayur kelompok, iuran kas, iuran berobat. Kegiatan rutin lainnya, setiap bulan anggota bekerja bakti di kebun entres mereka dan melakukan rapat bulanan.  Berdasarkan dokumen Rencana Kerja 5 Bulanan, di awal Febuari, pengurus dan anggota akan rapat meninjau ulang posisi sekretaris agar kedepannya lebih berfungsi dengan baik menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dalam kegiatan KSM. 5 bulan kedepan, sisa waktu pendampingan program CMLP II oleh Caritas, secara organisasi KSM akan menyusun 3 proposal yang akan dikirim ke Dinas perkebunan untuk permohonan bantuan pupuk dan herbisida, dan ke Dinas Pertanian dan Peternakan untuk permohonan bantuan bibit sayur, dan ketiga ke Dinas pertambangan dan energi untuk permohonan bantuan penerangan tenaga surya. (ADI)

Puisi Penulis Buku "Menjaga yang Tersisa" Yohanes Terang















JALAN PINTAS
Sampurna adalah harapan setiap manusia
tak perduli apapun caranya.
Bagi yang lupa
 jalan pintas merupakan sebuah pilihan  sederhana.
Budak oleh rasa cemas, gelisah, kosong, hampa dan putus asa.

Nirwana agung, racun ketamakan,
orang-orang buta arti  Narkoba
Bagi yang percaya “NARKOBA” sebuah bayang hitam media pencabut nyawa.
Derita panjang kurang percaya diri, lemah, luka, derita, dan hina.

Bisa terjadi dimana-mana
kota sampai desa, tak pilih penguasa, kaya maupun papa.
Dampak dari lemahnya iman, mencari surga seketika.
Ibarat luka kusta menjalar kemana-mana
Bak kangker ganas virusnya menyebar kemana-mana.

Banyak cara dipakai  Negara untuk mencegah namun sia-sia.
Terpidana mati, hukum lama tidak membuat jera.
Dari sini kusapa semua
kita mencari sulosi agar tak terjadi kehancuran generasi muda penerus bangsa.
Orang tua, Agama Aparat Negra, Sekolah, sebuah baca untuk menghentikan itu semua.


Karya Yohanes Terang (penulis Buku “Menjaga yang Tersisa”
Laman satong, 10 November 2015


MEMBUNGKUS YANG TERSISA
Hutan-hutan yang tersedia
adalah hadiah yang paling berharga
dari sang pencipta teristimewa bagi umat manusia.
Hutan yang tersisa
hendaknya kita bungkus dengan rasa cinta,
dijaga, dikelola secara arif/bijaksana

Agar titipan anak cucu kita dan anak cucu mereka takpernah habis oleh rantangnya waktu dan lanjutnya usia
Karena hutan berguna menghadang angina dan taupan, penyimpan air serta obat-obatan, habitat  flora dan fauna

Hari ini kita buktikan tindakan nyata sebagai dewa penyelamat, melindungi, bumi dimana kita berdiri.
Kita tolak segala kebijakan yang tidak berpihak pengalihan

fungsi hutan yang seharusnya tidak boleh terjadi
Hak ulayat, tembawang, tempat keramat, hutan adat dan HCV
difungsikan sebagai HPK, APL,HGU,
konpensasi berubah jadilah orang asing ditanah sendiri.

Disanasini dijaga Security,
Masyarakat menggugat berususan dengan polisi
70 tahun Indonesia Merdeka
sematang usia harusnya dapat dinikmati semua lapisan anak Bangsa Negeri ini.

Pejuang bangsa yang menitipkan susu dan madu
demi kepentingan bersama generasi
setelah mereka bukan perpecahann penindasan dan saling menghakimi.
Konsevasi, hutan Desa hanya sebuah media pembalut luka penawar duka, pengurang kecewa bagi yang peduli.

Goresan ini kuuntukan bagi semua yang peduli lingkungan alam yang lestari,
bagi saudaraku suku anak dalam di Jambi,
suku sakai di Pekan Baru
dan saudara senasip diseluruh pelosok Negeri.
Dan bagi pejuang sejati yang rela mengorbankan jiwa dan raga,
keringat darah dan air mata demi berdiri tegaknya NKRI

Karya Yohanes Terang (Penulis Buku “Menjaga yang Tersisa”.
Laman Satong, 2 september 2015




www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com