CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Kamis, 28 September 2017

RESILIENSI WARGA TANJUNG PASCA BENCANA BANJIR

Pasca bencana banjir bandang di Tanjung 29/8, "ada 14 KK kehilangan tempat tinggal, diantaranya 3 rumah hanyut dan sisanya rusak berat," jelas Mimi tim relawan posko ketika ditanya dalam rapat FGD identifikasi masalah & rencana kontigensi 25/9. Hasil kajian 2 identifikasi korban 10/9 oleh Caritas Keuskupan Ketapang dan Caritas Indonesia serta tim posko Tanjung juga menemukan kapasitas yang masih dimiliki oleh warga adalah mereka masih punya kebun untuk menyadap terutama bagi ibu janda atau rumah tangga yang tidak jadi buruh perkebunan sawit, sebagian dari mereka masih punya tabungan di Credit Union Gemala Kemisiq untuk modal berusaha. Namun mereka dalam 3 bulan kedepan (oktober-des) masih trauma takut banjir datang lebih besar lagi karena masa itu adalah masuk awal musim penghujan seperti peristiwa tahun biasanya. Banyak warga terutama para ibu rumah tangga dan anak yang sengaja belum mengemas kembali pakingan barang dalam karung mau pun kantong dan tas.

Situasi lain juga menunjukan adanya pembangunan kembali jembatan darurat penghubung antar dua desa, jembatan penghubung kerapkali dipakai antar warga desa Tanggerang mau pun desa Teluk Runjai sebagai jalan transportasi umum dan jalan menuju usaha tani. Namun di tempat lain dibagian hilir dua desa tadi belum ada jembatan darurat yang dibanagun, tampak aktifitas anak sekolah terpaksa menyebrang dengan meniti dahan dahan dan batang pohon besar yang melintang di sungai Jelai tersebut.(Papin)



“BUAH MANIS” HASIL PETANI TANAMAN HORTIKULTURA


Mengapa tanaman hortikultura ?
Kegiatan petani hortikultura   lahir bermula dari kegelisahan yang di alami para petani tradisional di Laman Satong terhadap kondisi  ekonomi keluarga yang semakin sulit dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat dari  suplai bahan pangan (seperti sayur mayur dan buah-buahan ) dari luar. Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi tersebut  maka  dari 10 penerima manfaat program HEF muncullah kesadaran kolektif  sekitar 6 kepala keluarga  memulai  usaha tani tanaman muda (hortikultura) yang dikelola secara serius dan  menetap.

Transformasi dari system ladang ke tanaman hortikultura sistim menetap berkelanjutan
Sentra lokasi tanaman petani berjarak sekitar  8-10 km dari perumahan, yang masih berhutan murni dan tanahnya subur. 6 KK  mengawali usahatani hortikultura  dengan membuka lahan diawali ditanami padi . Pasca panen tanaman padi dilanjutkan dengan usahatani tanaman hortikultura untuk orientasi pasar.
Selanjutnya lahan bekas ladang tersebut dikelola dengan system intensif dan menetap dengan mengembangkan komoditas hortikultura  yang memiliki segmen pasar, seperti pisang, jagung, cangkok manis, terong, cabe, tentimun, dan papaya.
Petani tanaman hortikultura membuka lahan untuk budidaya tanaman hortikultura  20 tahun lalu, lebih dulu dari  perusahaan perkebunan kelapa sawit P. KAL (Kayong Agro Lestari) dan group PT.  BGA.  Masuknya koorporasi tersebut  tak terelakan terjadi “ gesekan” dengan petani hortikultura tentang rencana ekspansi lahan kelapa sawit. Kelompok petani hortikultura tidak menjual  lahan dan lokasi tanaman hortikultura mereka kepada koorporasi. “ Lahan kami hanya ini yang masih ada, luas wilayah di wilayah desa Laman Satong hamper 75% telah dikonversi untuk usaha koorporasi yang berbasis lahan dan hutan,” unggap ketua kelompok tani hortikultura, pak Paulus Pau, sambil mengenang perjuangannya mempertahankan lahannya.
Masuknya PT. KAL, sebagai koorporassi yang mengembangkan kelapa sawit yang berbatasan langsung  dekat lokasi petani hortikultura, disamping berdampak negative, tetapi disisi lain memberikan peluang yang baik bagi usahatani hortikulura. PT. KAL mempunyai  lebih 1000 an karyawan yang tinggal di perumahan perkebunan.

“Saat ini tentang pemasaran hasil dari komoditas tanaman hortikultura yang kami budidayakan tidak ada masalah, bahkan kalau musim panen, dalam satu hari kami dapat ‘meraih’ (menjual) 3 kali ke konsumen dari karyawan perusahaan dan selalu habis!” ungkap  pak Lambat dengan semangat.

Peningkatan Kapasitas dan pengelolaan petani hortikultura

Sejak Maret 2017 kelompok tani hortikultura dan kelompok tani tanaman padi di dampingi oleh CKK bekerjasama dengan HEF(Kedutaan Besar New Zealand). “ Intervensi kita  adalah meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usahataninya agar lahirnya petani yang adaptif terhadap perubahan kondisi iklim dan sumber daya alam, inovatif dan resilen,” ungkap Markus Oyen, coordinator program. Berdasarkan data assessment lapangan CKK per Agustus ,income rata-rata per bulan  dari penjualan hasil komoditas tanaman hortikultur berkisar Rp. 1.500.000,- Rp. 3.2500.000,- (MOY)

Selasa, 12 September 2017

BANJIR TANJUNG MEMBAWA BERKAH

Suasana rapat koordinasi multi pihak bersama Uskup Ketapang
Banjir yang merendam 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu dan 5 Desa di Kecamatan Manis Mata membawa berkah bagi kita, di antaranya kita menjadi semakin  bersaudara, kita semakin  dibukakan mata terhadap  situasi  dan  lingkungan  bahwa  kita  memerlukan kesadaran baru, kita belajar berkomunikasi-berkoordinasi dan mengenali yang kita beri informasi. Kita diajak untuk mengingat kembali bahwa kita punya kekuatan seperti berdoa bersama, melakukan acara adat dan lain-lain. Demikian disampaikan oleh Mgr Pius Priana Prapdi, Uskup Ketapang dalam pertemuan koordinasi dengan berbagai stakeholders di sekretariat POSKO Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, Kantor Desa Tanggerang, Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang, 11 September 2017.
Sebagaimana diketahui, Posko Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang memiliki Semboyan Bela Rasa 1 Rasa 1 Jiwa yang telah menarik perhatian dari berbagai pihak ini merupakan Posko yang pada awalnya digagasi oleh beberapa aktifis Paroki, Pemerintah desa Tanggerang dan desa Teluk Runjai, untuk menanggapi peristiwa banjir yang merendam setidaknya 1.712 rumah di 22 Desa Kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata, yang juga telah mengakibatkan putusnya jembatan Lamboi dan jembatan Tanjung, 7 rumah di Tanjung hilang, 4 rumah di Tanjung tumbang, 3 rumah di Tanjung rusak berat, 13 rumah di Tanjung rusak ringan.
POSKO ini dijalankan secara terorganisir dengan struktur relawan yang jelas apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga kepedulian para pihak terhadap kejadian ini dapat disalurkan secara tepat sasaran. Selain itu posko ini juga bekerja bukan hanya dalam kondisi tanggap darurat saja, tetapi sampai pada upaya-upaya rekonstruksi  dan  recovery.
Selain menyalurkan  bantuan, tim dibantu oleh Yayasan Caritas Keuskupan  Ketapang dan Karina (Karitas Indonesia) bekerjasama dengan tim dari Credit Union Gemala Kemisiq, menghimpun berbagai informasi untuk mengetahui menjadi penyebab maupun potensi atau kekuatan yang masih dimiliki oleh masyarakat, seperti bagaimana para korban bersikap dan bertindak pasca bencana, belajar dari kejadian ini, sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan untuk kondisi darurat, sumber daya manusia yang dapat diajak bekerjasama dan lain-lain. Dengan demikian akan mempermudah upaya mengajak masyarakat bangkit dan melakukan apa yang sebaiknya dilakukan ke depannya.
Sehingga setelah habis masa tanggap darurat berdasarkan NOTA PASTORAL Keuskupan Ketapang yang berakhir 12 September 2017, namun relawan akan terus melanjutkan upaya­upaya untuk terselenggaranya rekonstruksi dan recovery.
Dengan rencana ini maka komitmen dan kerjasama berbagai pihak sangat diharapkan, tanpa memandang siapapun kita. Kejadian ini cukup memberikan pelajaran berharga untuk melakukan perubahan, memperbaiki sikap dan cara hidup. Saatnya kita bekerjasama bukan saja hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk di bumi. Kita harus bekerjasama dengan alam. Bukan mengambil hasilnya saja, tapi kita juga mau menjaga, memelihara dan merawat alam yang menjadi sumber kehidupan. Sebelum mengakhiri pertemuan koordinasi, Uskup menegaskan bahwa Keuskupan Ketapang berkomitmen bahwa Keuskupan Ketapang ingin masyarakat bukan hanya sekedar kembali ke kondisi normal, tapi meningkat. Uskup juga mengingatkan bahwa ‘naga’ yang disebut­sebut sebagai penyebab terjadinya banjir itu merupakan simbol penguasa (kuasa punya aturan, kuasa menentukan apa yang mau dilakukan dan kuasa punya uang). Oleh sebab itu menurut Uskup Ketapang, kita harus menyuarakan apa yang menjadi hak hidup kita agar kita semakin bersaudara dengan  semua - bukan hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk yang ada di alam.

Sekarang saatnya kita "BERUBAH" (sarvianus mimi)

RAPAT PENGKAJIAN FGD BENCANA BANJIR TANJUNG

Selasa, 12 September 2017, Tim Posko Paroki St Maria Assumpta Tanjung mengadakan rapat untuk membagikan pengalaman Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan tim enumerator (kajian data) untuk memverifikasi secara kualitatif data kuantitatif yang telah dihimpun oleh tim selama masa penanganan bencana banjir yang terjadi di bantaran sungai Jelai tempo hari (30/08/17). Proses yang dilakukan tim adalah masuk ke desa-desa terdampak dan bertemu dengan warga terdampak. Warga terdampak dikategorikan laki-laki dan perempuan dengan ketentuan peserta minimal sejumlah 12 orang. Pembedaan kelompok diskusi dengan kategori laki-laki dan perempuan ini dimaksudkan untuk membaca kebutuhan lebih cermat. 
Pendalaman data melalui FGD ini dilakukan di 8 Desa yang dipilih oleh tim berdasar wilayah bantaran sungai dan tingkat kemendesakan bantuan. Desa-desa tersebut adalah Pasir Mayang, Sidahari, Tanggerang (desa-desa bagian hulu anak sungai Kiri), Karangdangin, Riam Danau, Kesumajaya (desa-desa bagian hulu anak sungai Jelai), Deranuk (desa pertemuan dua anak sungai) dan Asam Jelai (desa bagian hilir sungai Jelai).
Mengenai informasi desa-desa yang berada di bantaran sungai Jelai, klik di sini.
Banyak hal yang menarik diungkapkan para warga yang terdampak bencana banjir ini. "Mereka seperti belum memiliki tempat untuk membuang beban perasaan yang mereka lakukan," kata Jurin salah satu tim kajian data FGD. "Karena pemerintah (tingkat kabupaten -red) sangat lambat dalam proses penanganan bencana ini, maka banyak warga yang merasa terbebani atas bencana ini," kata Danang, salah satu tim kajian data FGD. "Kebutuhan laki-laki dan perempuan jauh berbeda. Para laki-laki kebanyakan mengungkapkan kebutuhan yang mendesak mereka dalam peralatan teknis untuk bekerja dan bertani. Sementara itu, para perempuan lebih banyak mengeluhkan kebutuhan-kebutuhan peralatan dapur dan rumah tangga," tambah Danang. 
Seusai melakukan FGD, Liong Kun dan para tim kajian data lainnya membantu para korban bencana untuk mulai cermat mengamati terjadinya bencana. Mereka membuat garis tanda ketinggian air sungai pada salah satu rumah warga di Pasir Mayang yang posisinya paling rendah dan menempel bibir sungai. "Kami membuat garis ketinggian 50, 75, dan 100 centimeter dari tanah. Bapak yang ada di rumah itu mengevakuasi diri sejak air setinggi 50 cm dan akhirnya selamat karena akhirnya tak lama kemudian, sungai itu merendam seluruh rumah itu yang tingginya kira-kira 2,8 meter. Saya memberi tahu kepadanya bahwa kalau air sudah sampai ketinggian 50 cm meter di desa Pasir Mayang, desa Tanggerang harus mulai siaga. Ini berguna agar mereka yang hidup di pinggir sungai sepanjang sungai Jelai ini bisa saling berbagi kewaspadaan," kata Liong Kun.
Setelah berbagi cerita tentang FGD yang dilakukan, RD Ignasius Made sebagai Penanggungjawab Capacity Building meminta agar kesempatan ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi Tim Posko Paroki Tanjung untuk semakin mampu mencari data dengan cermat. Fredericus Sundoko, tim koordinator tanggap darurat Karitas Nasional, meminta agar semua data dikompilasi menjadi satu kesatuan informasi. "Apa yang kita lakukan dalam pendataan ini sangat bagus karena dari 214 responden kita, ada 58,4% responden perempuan, 26,2 % responden laki-laki dan  7,9% anak-anak perempuan, 7,5%, anak laki-laki. Ini berarti perhatian kita pada kebutuhan perbedaan gender cukup baik," kata Sundoko. Tim kajian data FGD melanjutkan dengan kerja kelompok untuk menyatukan data-data tersebut. (MoNdhan)



MERAH PUTIH BERKIBAR DI RERUNTUHAN

Photo by Danang

Bendera Merah Putih kebanggaan Bangsa Indonesia berkibar di tengah reruntuhan bangunan rumah yang terdampak banjir Sungai Jelai (30/08/17). Tidak ada yang mengetahui siapa yang memasang bendera tersebut. Sungai Jelai memang tidak pernah banjir sekurang-kurangnya 50 tahun terakhir ini. Menurut banyak penduduk yang puluhan tahun tinggal di bantaran Sungai Jelai, bencana banjir yang terjadi selama ini, tidak pernah sebesar ini. Meski tidak ada ucapan resmi pemerintah "turut prihatin" kepada korban, bencana ini tetap merupakan bencana terbesar sepanjang sejarah sungai Jelai.
Tidak ada korban jiwa yang tercatat sejauh pengamatan tim pendataan Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Namun demikian, menurut data yang dihimpun tim per 8 September 2017, ada setidaknya 13 rumah yang mengalami kerusakan berat, dan ratusan rumah yang  rusak karena terendam air luapan sungai. Selain itu, banyak penduduk yang kehilangan harta, ternak, lahan pertanian dan Saat ini, tim pendataan yang dikoordinir oleh RD Bernardus Tedy Prasetyo sedang memusatkan perhatian untuk mendata secara khusus 75 Kepala Keluarga (KK) di desa Tanggerang agar dapat memperkirakan jumlah keseluruhan kerugian yang diakibatkan oleh banjir sungai Jelai yang melanda 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu maupun Manismata. "Data menyeluruh mengenai kerusakan bangunan ini sangat diperlukan untuk masa setelah emergency respon," kata Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang.
Sejak kunjungan beliau pada tanggal 1 September 2017, Mgr Pius menekankan pentingnya sikap bela rasa bagi korban terdampak banjir. Bela rasa adalah sikap dasar yang harus dimiliki para relawan untuk berjuang dan ikut serta merasakan apa yang dirasakan para korban bencana. Dengan sikap demikian, relawan harus membantu agar korban betul-betul dipulihkan. Oleh karena itu, bantuan dibagi dalam tiga masa yakni, Emergeny Respon (Tanggap Darurat), Reconstruction (Perbaikan), dan Recovery (Pemulihan). Mgr Pius menetapkan Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, RD Laurentius Sutadi menjadi ketua umum Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Sementara itu, RD Eduardus Banggut, pastur kepala paroki St Maria Assumpta Tanjung ditetapkan sebagai koordinator lapangan posko. (MoNdhan)
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com