CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Jumat, 16 Juni 2017

KRPL KWTS SEBAGAI GERAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Undang – Undang Nomor 18 Tahgun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional mau pun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah NKRI sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya local. Dan, dalam rangka ikut mendukung pembangunan nasional, Badan Ketahanan Pangan mempunyai visi tahun 2015-2019, yaitu : “Terwujudnya ketahanan pangan melalui penganekaragaman pangan berbasis sumber daya local berlandaskan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan.” Dalam misinya Badan Ketahanan Pangan harus berperan mengoordinasikan perumusan kebijakan ketahanan pangan yang meliputi aspek ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Dalam memainkan peran tersebut sehingga mencapai visi yang telah ditetapkan maka Badan Ketahanan Pangan mengemban lima misi; meningkatkan ketersediaan pangan yang beragam berbasis sumber daya local, memantapkan penanganan kerawanan pangan, meningkatkan keterjangkauan pangan masyarakat untuk pangan pokok, mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat berbasis sumber daya kelembagaan dan budaya local, mewujudkan keamanan pangan segar(sumber:Renstra Badan Ketahanan Pangan th 2015-2019). Pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan bertujuan untuk mewujudkan pemantapan ketahanan pangan masyarakat sampai tingkat perseorangan secara berkelanjutan. Kita lihat salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan pangan di provinsi KalBar programnya adalah dengan cara meningkatkan daya beli masyarakat melalui diversifikasi usaha, penciptaan lapangan kerja di sector pertanian dan non pertanian yang berbasis di pedesaan. Cara kedua, adalah menggali dan mengembangkan potensi pangan local namun pemerintah masih harus bersinergi dengan lembaga penelitian/perguruan tinggi untuk menggali dan mengembangkan pangan local karena pengembangan pangan local ini belum banyak banyak dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan upaya peningkatan ketahanan pangan di Kabupaten Ketapang sudah ada petani di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, memulai panen perdana padi varietas unggul Mekongga dan Inpari 3 hasil kerja sama dalam program ketahanan pangan Kodim 1203 Ketapang dan Dinas Pertanian setempat (sumber:Antara-KalBar.com, 27/2/2015), dan program percepatan ketahanan pangan (P2KP) melalui konsep kawasan rumah pangan lestari (KRPL) oleh Kelompok Wanita Tani Sejahtera di Dusun Kayu Bunga Desa Balai Pinang Kec.Simpang Hulu. Berdasarkan petunjuk teknis (juknis), dinas ketahanan pangan dan perikanan kabupaten ketapang lewat tim survey lapang penyuluh pertanian lapang (ppl) pak sudario kepada anggota kwts, bahwa program P2KP berkonsep KRPL punya 4 kegiatan utama yang boleh dimanfaatkan oleh masyarakat lewat kelompok adalah pertama pembuatan kebun bibit, di sini penerimaanfaat boleh menanam dan menyemai bibit sayuran bibit buah apa saja baik dari lokal mau pun dari hibrida, tapi yang diprioritaskan adalah menghidupkan bibit lokal dengan cara tanam di kebun. Kedua, pembuatan demplot, di tempat ini adalah tempat sarana belajar bagi anggota kelompok untuk berbudi daya tanam tanaman muda, atau dengan istilah lainnya dari dinas ketahanan pangan lahan demoplot adalah laboratorium lapang bagi anggota kelompok. Ketiga, pengembangan pekarangan, anggota boleh mengelola atau memelihara ternak unggas kolam ikan aquaponik/hidroponik sembari urus demplot tanaman. Keempat, perlunya sosialisasi menu pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman dikonsumsi oleh masyarakat (B2SA). Hasil KRPL lah yang akan diolah menjadi B2SA. Kelompok wanita tani sejahtera yang beranggotakan 20 orang telah menerima bantuan pemerintah sebesar 15 juta rupiah pada bulan Mei 2017. Dana banpem ini telah mereka manfaatkan untuk buat demplot 2 juta, buat kebun bibit 6 juta dan buat pengembangan pekarangan bagi anggota 7 juta rupiah. KWTS melakukan kegiatan KRPL mulai Juni 2017 s/d 2018. Selama berkegiatan, kelompok ini didampingi oleh seorang penyuluh pertanian lapang (PPL) desa (Sudario) bekerjasama dengan seorang volunteer Caritas Keuskupan Ketapang (Papin) dalam capacity building dan pengorganisasian. Diharapkan P2KP KRPL ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya bagi anggota KWTS. (Papin).

Rabu, 15 Maret 2017

SEMILOKA : PENINGKATAN KAPASITAS PETANI DESA LAMAN SATONG



Caritas Keuskupan Ketapang bersama dengan lembaga donor HEF New Zealand kembali hadir di tengah-tengah komunitas petani di Manjau, Desa Laman Satong. Kegiatan yang mempunyai tema besar

"PENINGKATAN KAPASITAS PETANI YANG SEDANG DAN/ATAU TERANCAM KRISIS RAWAN PANGAN DAN KERUSAKAN ALAM MELALUI KEGIATAN PENDAMPINGAN TERHADAP PETANI  TENTANG SISTEM PERTANIAN INTENSIF/MENETAP TANPA ‘BAKAR’DI DESA LAMAN SATONG" 

diawali dengan semiloka yang diadakan di Manjau pada tanggal 12-13 Maret 2017.

Petani di wilayah Kabupaten Ketapang khususnya dan seluruh wilayah Kalimantan umumnya dihadapkan pada situasi dilematis Karena sistem pertanian ladang saat ini dan di masa yang akan datang mengalami hambatan dan tantangan yang semain hebat, seperti semakin menurunnya produktivitas hasil pertanian, semakin terbatasnya lahan/SDA yang ideal untuk lokasi pertanian,  dampak perubahan iklim global dan/atau local yang sudah  tidak mendukung proses pertanian,  dan  mindset (pola pikir) dan kinerja (etos kerja) masyarakat/petani belum/tidak optimal dalam melakukan peralihan dan adaptasi  terhadap perubahan-perubahan tersebut,  dan relatif terbatasnya aplikasi dan replikasi pelbagai praktek-praktek baik/kearifan lokal dan inovasi pertanian ( lokal dan adopsi) dalam system pertanian yang intensif/menetap sehingga produktif sepanjang musim.






Desa Laman Satong merupakan salah satu daerah yang sudah mulai terdampak situasi tersebut. Menurut data, diperkirakan hampir 70%  dari total luas wilayahnya telah dan/atau sedang dirubah peruntukannya atau dikonversi untuk pembangunan fisik dan areal korporasi berbasis lahan/hutan (perkebunan kelapa sawit ,pertambangan,dll )serta kawasan konservasi /kawasan milik adat (hutan desa dan tembawang). Perubahan bentang alam tersebut diperkirakan turut andil dalam menurunkan  daya dukung/daya tampung dan daya dukung lingkungan, sehingga dalam 1 dekade terakhir wilayah tersebut rentan terjadi bencana banjir, kekeringan, kebakaran/bencana asap, dll.

Atas fakta dan litani yang sedang dan/atau akan di alami  masyarakat / petani tersebut, maka Caritas Keuskupan Ketapang (CKK) bersama para pihak yang peduli akan melakukan kegiatan untuk ambil bagian dalam mencari solusi terhadap tantangan dan hambatan yang sedang dan/atau akan dialami masyarakat/petani di wilayah Desa Laman Satong, dengan program “Peningkatkan kapasitas petani  (petani ladang) yang mengalami krisis rawan  pangan dan kerusakan lingkungan melalui kegiatan pendampingan keluarga petani tentang sistem pertanian yang intensif/menetap  (produktif) dengan meminimalisir  pembakaran lahan ”.

Agar tujuan program ini tercapai maka diperlukan sinergi dan ketulusan/kesadaran yang nyata dari masyarakat/petani yang terdampak masalah, tokoh masyarakat dan parapihak yang terkait.  Kegiatan ini akan di awali dengan semiloka tentang “peningkatan kapasitas petani yang sedang dan/atau akan mengalami krisis rawan pangan melalui kegiatan pendampingan tehadap petani tentang sistem pertanian intensif/menetap tanpa bakar.”



       Tujuan
  1. Tereksplorasi dan teridentifikasinya pola pikir (mindset), sistem nilai (pola tingkah laku, pola sikap mental dan orientasi usahatani) masyarakat/petani yang menghambat atau menunjang pengembangan sistem pertanian intensif/menetap tanpa bakar di desa Laman Satong.
  2. Terindentifikasinya praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi di tingkat local maupun adopsi dari luar yang dapat direpllikasi dan diterapkan dalam sistem pertanian intensif tanpa bakar di desa Laman Satong.
  3. Adanya rencana kerja yang dibangun secara partisipatif dan  sesuai konteks masalah serta solusi pelaksanaan  sistem pertanian  intensif tanpa bakar di desa Laman Satong

  Output
  1. Peserta /petani memiliki  pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran tentang pola pikir (mindset)  dan sistem nilai-nilai (value) yang dapat dipertahankan/menunjang atau dihilangkan/menghambat pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar, berkelanjutan dan ramah lingkungan
  2. Peserta/petani mendapatkan informasi dan acuan tentang pelbagai solusi dalam pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar dalam bentuk praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi di tingkat local maupun adopsi.
  3. Adanya rencana kerja kelompok tani yang disusun secara partisipatif, menjawab permasalahan dan konteks di desa Laman Satong.
  4. Terbentuknya 3 kelompok tani untuk pengembangan program pertanian sistem intensif tanpa bakar di Desa Laman Satong.




      Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Dusun Manjau-Desa Laman Satong, Kec. MHU, Minggu-Senin, tgl. 12-13 Maret 2017

      Agenda Kegiatan ( Jadwal Semiloka terlampir).
  1.   Kajian, identifikasi dan eksplorasi tentang pola pikir (midset) dan sistem nilai (value) masayarakat/petani yang perlu dikembangkan/menunjang atau menghambat/dihilangkan dalam pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar, berkelanjutan dan ramah lingkungan  di desa Laman Satong.
  2.       Identifikasi praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi yang dapat direplikasi dan dikembangkan dalam sistem pertanian intensif tanpa bakar.
  3.       Menyusun rencana kerja partisipatif dan pembentukan kelompok tani sistem pertanian intensif tanpa bakar.


P              Pemateri
-          P. Ign. Made Sukartia (Direktur Caritas Keuskupan Ketapang)
-          Tobias Sukanto (Praktisi Peternakan dan pertanian)
-          Yohanes Terang ( Praktisi lingkungan )
-          Aloysius R (Pelopor sistem tembawang masa kini)
-          Petrus Apin (Praktisi pertanian organik/peneliti)
-          Markus Oyen ( Pemerhati/peneliti pertanian)
-          Danang S ( Praktisi IT/media/ manajemen sistem informasi)
-          Marselus ( Pemerhati sistem pertanian konvensional dan  intensif )

      Metode/Proses
Metode/proses yang digunakan di dalam ruangan/diluar ruangan, FGD,  komunikasi  dua arah, simulasi dan praktek serta metode pendidikan orang dewasa. Bagan alur (flow-chart proses semiloka)  : terlampir.

       Peserta/participant.
1
Perwakilan petani
45 orang
2
Utusan stakeholder terkait
5 orang
3
Tim CKK/narasumber
11 orang
4
OC lokal
8 orang
Total
69 orang

      Penutup
Kami berharap kepada petani atau parapihak yang terlibat dalam proses kegiatan ini untuk membangun mindset (pola pikir) yang konstruktif-edukatif dan terlibat aktif dalam mencari jalan keluar dalam pengembangan sistem pertanian intensif tanpa bakar. Semua peserta adalah sebagai sumber pengetahuan/kekerampilan atau jendela dunia. Diharapkan dari  kesadaran individu dapat menjadi kesadaran bersama membangun semangat dan tindakan-gerakan dalam mengembangkan sistem pertanian intensif tanpa bakar di wilayah desa Laman Satong. Semoga, GBU.

Ketapang, 1 Maret 2017
Hormat kami,
Tim SC/CKK,

JADWAL SEMILOKA

NOTULENSI SEMILOKA


Hari & tanggal         : Minggu, 12-13/3-2017
Waktu                       : Minggu 11.00 – 17..00 WIB
Tempat                      : Gedung PNPM dusun Manjau desa Laman Satong
Materi rapat            : PENINGKATAN KAPASITAS TANI YANG TERANCAM KRISIS PANGAN DAN KERUSAKAN ALAM MELALUI KEGIATAN PENDAMPINGAN TERHADAP PETANI TTG SISTEM PERTANIAN INTENSIF/MENETAP TANPA BAKAR DI DESA LAMAN SATONG
Moderator               : Pia Sezi Nurwanti
Notulis                       : Yohanes Budin
Jumlah peserta        : Hadir: 42 Orang
                         
Susunan acara        : 1. Pembukaan
·        Doa pembukaan oleh : Bpk. Yohanes Terang
·        Pengarah Steering Committee Bpk. Oyen
·        Sambutan dari Bapak Kades Laman Satong, Bpk. Sri Yanto
·        Sambutan dari Direktur Yayasan Caritas Keuskupan Ketapang
                                   

Pokok bahasan  :  1.Menjelaskan Tor semiloka, tujuan kegiatan, tema
                                2. Waktu dan pelaksanaan seminar.
                                3. Peserta seminar, kelompok tani dari dusun Manjau
                                4. Biaya penyelenggaraan seminar,
                                5. Pembicara seminar
                                6. Pembentukan panitia peyelenggara seminar.
Point-point bahasan: Pada Pertemuan Sesi I, Minggu, 12/3
Bapak Markus Oyen selaku program Manager untuk program pendampingan kelompok tani mengingatkan kembali hasil kompilasi assessment yang pernah diadakan di wilayah dusun Manjau kepada 20 responden acak mengenai mata pencaharian utama penduduk dan cara mengusahakan mata pencaharian. Pada umumnya penduduk di sekitar dusun Manjau adalah bertani sawah payak dan bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit. Rata-rata kebiasaan petani masih membakar ladang. Setahun ini pemerintah telah mengusahakan sistim bersawah dengan cara membuat pematang dan pengairan dengan alat-alat berat, agar para petani lebih cepat dan mudah mengelola sawah mereka. Payak yang mereka garap adalah Payak Bujang, 10 Km dari pemukiman petani. Tempat itu dulu adalah pondok atau dahas penduduk yang sekarang menetap di dusun Manjau. Maka bagi mereka yang pernah tinggal di pedahasan Bujang, tentu memiliki kedekatan hati dan pengalaman sejarah yang lebih baik dari mereka yang berasal dari pedahasan lain yang sekarang juga ikut bergabung mengolah paya itu karena hanya itu tanah payak yang boleh diolah dan diijinkan pemerintah. Oleh karena itu siapapun ingin bergabung dalam pendampingan bersawah tanpa membakar harus memiliki kemauan kuat dan komitmen tinggi untuk bekerja dalam kelompok.
Tanah yang luas dan subur tidak sejalan dengan penghidupan atau matapencaharian, karena ternyata sebagian besar responden menjawab  bahwa mereka mengalami krisis pangan, karena beras saja membeli, padahal lahan siap, akan tetapi tidak diolah karena keterbatasan SDM. Kesimpulannya, krisis pangan menjadi persoalan dan masalah yang harus dicari jalan keluarnya. Pendampingan sangat diperlukan. Maka Caritas Keuskupan Ketapang sebagai lembaga kemanusiaan ingin hadir menemani kelompok membantu mereka yang bener berkomitmen membantu diri mereka sendiri lepas dari ketergantungan.
Maka tujuan semiloka ini adalah memetakan kembali persoalan, hambatan, akar penyebab masalah krisis pangan ini, memetakan praktek baik yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan hidup. Menyusun rencana kerja dengan terukur bertanggungjawab serta menyusun timeline kegiatan.



Apa harapan Bapak Kades selaku pemangku Desa yang bertanggungjawab untuk masyarakat desanya. Kehadiran Caritas sangat kami dambakan, meski kami belum tahu apa yang akan menjadi kegiaatan utamanya.Seperti apa model pendampingannya kelak.
Selama ini Dusun Manjau banyak mendapat bantuan dari lembaga non pemerintah, banyak mendapat perhatian dari perusahan yang bekerja di wilayah ini melalui program CSR, namun pendampingan hanya sekilas-sekilas saja, sehingga mudah terbang menghilang terbawa angina.
Kedepan kami berharap agar terjadi perubahan pada pola piker masyarakat, tidak tergantung dari bantuan luar, tapi sungguh mampu berdiri diatas kaki mereka sendiri, dengan mengolah sumber alam ini melalui cara-cara yang maju. Kelompok dampingan juga serius tidak anget -anget tai ayam, tidak setengah-setangah melainkan serius.



Caritas Keuskupan Ketapang hadir untuk membantu komunitas yang benar-benar mau membantu diri mereka sendiri. Model pendampingan darurat sudah bukan opsi tunggal lagi. Comunitas yang sanggup membangun tata kelola diri menjadi sangat penting dan mendesak. Semuanya itu dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan diri.
Jadi Caritas hadir untuk menjadi pendamping kelompok tani kusus bertani sawah tanpa bakar. Meningkatkan  pengorganisasian kelompok agar faham tentang bekerja sama dalam kelompok. Belajar membuat proposal yang benar dan terukur.
Bapak Petrus Apin akan lebih lengkap menengungkap apa yang dimaksud dengan program kerja yang terukur, berdasarkan analisis pohon masalah. Setiap peserta diajak untuk memahami dan mencari tahu dimana sebetulnya akar masalah sehingga sehingga kalua kita tahu penyakitnya kita tahu mengobatinya.

Oleh karena itu peserta dibagi ke dalam 4 kelompok diskusi. Setiap kelompok membahas pertanyaan: pertama, apa  mendukung dan penghambat sistim pertanian menetap tanpa bakar? Pertanyaan kedua: apa solusi menghadapi penghambat tersebut, ketiga, siapa saja lembaga atau pemangku kepentingan yang lain yang bisa mendukung kegiatan kita?
Hasil diskusi untuk jawaban no 1 ke empat kelompok melihat bahwa Manjau memang memiliki lahan pertanian basah, yang telah digarap dengan bantuan pemerintah ada 40 hektar terletak di Payak Bujang. Ada penyuluh petani lapangan (PPL), Desa mendukung,
Hal hal yang menghambat: beberapa lahan garapan belum Hak Penggunaan lain. Kurangnya pengetahuan tehnik bertani, modal kerja kurang. Kurang mampu mengatur waktu kerja. Kerja yang amburadul, tidak focus.
Solusi: mencari mitra kerja, desa, Lsm, pemda, gotong royong
Pemangku kepentingan atau stakeholder yang bisa diajak untuk bermitra dan bekerja sama: Perusahan, PT.KAL (Ketapang Agro Lestari) PSE, DPR, DESA, Dinas Pertanian,Perkebunan dan peternakan,Dinas PU bidang pengairan, BPP, TNC (the natural concervation),CUPS, Litbang, Yayasan Asri, Laman Mining, FFI, Tropenbosh Belanda.
Sharing dari Bapak Aloysius Rahmad:
Pensiunan Mantri Kesehatan ini memanfaatkan masa pensiunnya untuk aktif dalam kegiatan pemberdayaan bersama Caritas. Kisah suksesnya menjadi penggarap tanah payak dengan cara modern, cukup menarik untuk disimak. Menanam padi local dengan (SRI) system of rice intesification. Mengundang keingin tahuan para peserta. Pasalnya benih yang ditanam hanya tunggal dan nanti akan beranak menjadi  banyak. Persoalannya sekarang, banyak orang pingin bersawah lebar luas, tapi pemeliharaannya tidak intensif. Lebih baik bertanam padi tidak luas tapi intensif dan hasilnya terukur. Jelasnya.



“Kisah Manjau Tanah yang terberkati” itulah kisah sharing Yohanes Terang,seorang konservasionis yang telah menerbitkan buku puisi tentang menjaga yang tersisa. Dia berkali kali mengingatkan motonya: BBUBB, Berpikir bersama untuk berusaha bersama. Manjau menjadi gadis yang banyak dilirik orang. Kalau kita sendiri tidak aktip dan peduli, kita akan ditinggalkan. Mari kita jaga tanah yang diberkati agar kita menjadi manusia yang terberkati.
Thobias Sukanto SH, wirausaha; dengan semangat mengajak dan memotivasi peserta untuk rajin, pintar, jujur, ulet, iklas, cermat dalam berusaha. Jauhkan pikiran negative, misalnya malas. Hanya anda seorang yang dapat membuat diri anda  berubah dan berbuah, kecuali anda mau dikunyahkan orang terus menerus.
Sharing Danang S : Praktisi media. Apapun kegiatan kita, kalau tidak didokumenkan tidak akan menjadi pembelajaran bagi kita. Media social dapat menjadi sarana pembelajaran yang baik untuk setiap kegiatan yang kita dokumentasikan dengan baik.
Lanjutan Kegiaatan Senin,13/3
Merumuskan akar permasalahan system pertanian tanpa bakar: narasumber Petrus Apin.
Ada beberapa akar permasalahan yang muncul dalam FGD: merasa bangga menjadi buruh perusahan karena tidak ada kerja lain, mentalitas lemah, mau serba instan, tidak ada kemauan keeras. SDM lemah ditambah lagi tidak ada pendampingan berorganisasi dan berkelompok. Disign sawah yang kurang baik, berlum terbiasa bertani sawah di lahan basah, kurang mampu membagi peran,pekerjaan dan waktu dalam keluarga.

Dampak: kerja amburadul, tidak focus, tidak ada rencana kerja yang jelas, gotong royong kurang, ketersediaan air sawah kurang.


Sharing dari Narasumber mengengenai solusi:
no
Kegiatan
Cara melaksanakan
waktu
1
Training managemen waktu menjawab soal waktu dan peran
Pelatihan sehari bekerja sama dengan PSE dab Carutas

2
Serial diskusi tentang penguatan kelompok tani, mengusulkn legal formal kelompok tani,susun ad,art, RK, pembuatan proposal
Fasilitator, FGD, CKK

3.
Penyusunan Modul bersama tentang budidaya padi di layan basah
Bekerja sama dengan BPP/PPL

4
Konsultasi tentang mendisign pengaturan Irigasi
Konsultasi dengan dinas PU

5
Serial diskusi ethos kerja
Fasilitator/FGD




Proses pembentukan kelompok:
Terbentuk 4 kelompok tani yaitu kelompok:

I. Kelompok Bujang Perintis:
Ketua: Idi
Sekretaris: Ludang
Bendahara: Yohanes Terang
Anggota: Sriyanto, Santo, Daud, Aphen, Ripin, Akion, Ferry, Damli Ali, Perikan, Yo.

II.Kelompok Bujang Betuah:
Keetua: Mario Vianey Lohok
Sekretaris: Albertus Dol
Bendahara: Antonius Ayok
Anggota: Sucin,Minan, Alpendi, Idom, Samat, Taja, Arnold, Konsen

III.Kelompok Batu Belawang
Ketua: Stefanus Saiful
Sekretaris: Aboi
Bendahara: Kasman
Anggota: F.Asak, Markus, Sebek, Anto, Takim, Gondon, Yusuf,

IV.Kelompok Tanjung Bujang:
Ketua : Daniel
Sekretaris: Umit
Bendahara: Honda
Anggota: Aciap, Iwan, Ulis, Apit, Dina, Misah, Hendrikus Sara, Ola, Ami, Iya

Penyusun rencana kerja bersama kelompok untuk 1 th

                 Ketua                                                                                               Notulis

     Markus Oyen                                                                                        Yoh. Budin   



TEASER VIDEO :

Senin, 06 Juni 2016

Secara Prinsip PemDes Mau Mendukung KSM

Kepala Desa Kualan Hulu Yulius Sedan (Kiri)
Testimoni KaDes Kualan Hulu, 31/5/2016

Kepala Desa Desa Kualan Hulu, Yulius Sedan sangat senang dengan adanya pendampingan Caritas kepada masyarakatnya di Kontok dan Jangat. 
"Desa sangat membutuhkan pelayanan masyarakat seperti ini karena pelan-pelan bisa mengubah karakter dan pola pikir masyarakat yang kurang maju,” tuturnya di depan koordinator. Di lain sisi beliau menyayangkan masyarakat yang didampingi kurang sadar pentingnya mengembangkan komoditi baru bagi keluarga seperti karet unggul dan tanaman pekarangan. Menurutnya “Padahal pada masa-masa krisis ekonomi karet lokal yang menjadi andalan selama ini harganya tidak memadai, masyarakat tahunya bersungut-sungut kepada toke pengepul dan pemerintah. Ini kan masalah global sulit cari solusinya. Yang penting sekarang adalah dari kita bagaimana mengembangkan mata pencarian yang sudah ada. Kakao misalnya per kilogramnya 10 ribu kalau jual basah kering 12 ribu.”

Dia juga menyebutkan program Caritas membangun kapasitas masyarakat dalam pengembangan livelihood sebenarnya selaras dengan peraturan desa melarang masyarakat berladang rimba, karena model kerjasama dengan KSM adalah contoh alternatif cari makan tidak merusak hutan. Lewat kelompok semakin kuat basis pemilik hutan menjaga tembawangnya masing-masing.  Sekali lagi kades ini menyesalkan tabiat pengurus KSM yang selama ini hanya berkonsultasi soal rekomendasi proposal dan SKT saja. Dalam forum tertentu semisal dilibatkan dalam musrenbangdes kurang mau bersuara. "Saya sebagai kepala pemerintahan desa harus mendengar suara dari bawah sehingga pembangunan merata di semua RT dan semua dusun.”

Walaupun demikian beliau masih menunjukkan komitmennya kepada KSM. “Dalam anggaran dana desa tahun 2017 telah dianggarkan dana pengembangan kelompok atau pos pemberdayaan masyarakat ±10 juta per kelompok. Dana ini bisa digunakan untuk mendukung program kerja tahunan KSM dan harus membuat laporan pertanggungjawaban kepada desa,” ujarnya ketika ditanya soal keberlanjutan KSM UK dan KSM KJK. Dia juga menambahkan, “Secara prinsip pemdes mau memfasilitasi pembelian bibit karet unggul dari KSM untuk kebutuhan masyarakat lain di desa Kualan Hulu daripada mengajukan ke DisbUn, dan itu bisa dianggarkan dari dana desa. Tapi sayangnya masyarakat tidak ada yang minat.”

“Saya pernah membeli 80 stum hasil okulasi sendiri dari salah satu anggota KSM UK per batangnya 6 ribu rupiah. Ini menandakan bahwa mereka sudah pandai okulasi sebenarnya,” ujarnya dengan senyum. Tidak lupa juga ia menyampaikan pesan kepada Caritas agar tidak bosan-bosan memotivasi masyarakat atau KSM walau pun sudah habis masa kontrak pendampingan.

Kami Berharap Caritas Mau Mendampingi KTPR

Frimus Ringk (kanan) adalah ketua Kelompok Tani Pali Raya (KTPR)
Testimoni Frimus Ringk, unbenef Jangat & Kontok, 30/5/2016

Frimus Ringk adalah ketua kelompok tani baru di desa Kualan Hulu yang sudah dibentuk November 2015 lalu. Nama kelompok ini adalah Kelompok Tani Pali Raya yang beranggotakan 10 orang, dan tertarik minta didampingi oleh Caritas seperti KSM. Kelompok ini merasakan benar, bahwa dengan adanya wadah kemasyarakatan bisa mengakses kue pembangunan untuk membangun kampung dan masyarakat seperti KSM UK dan KSM KJK lakukan bersama warga.

Ketua Kelompok Tani Pali Raya (KTPR) ini pernah berkonsultasi dengan fasilitator Caritas tentang bagaimana membangun kelompok dan bagaimana cara kerjanya. Diam-diam kelompok ini bergerak sejak enam bulan lalu, mereka sudah punya rencana kerja seperti iuran rutin per anggota 5000 per bulan, membangun lahan demplot dan terintegrasi kolam ikan didalamnya, dan sudah menyusun proposal pengadaan bibit ikan air tawar ke Dinas Perikanan dan Kelautan. Sekarang pengurus sedang mengajukan kelompok tani  ke desa untuk diakui. Frimus berharap walaupun Caritas tidak ada program mendampingi kami, semoga ke depan bilamana kami memerlukan kerjasama untuk memfasilitasi menyusun AD/ART dan cara melakukan monitoring evaluasi itu bisa dilakukan.   

Tertarik Dengan KSM Tapi Tidak Mau Terikat

Rian (paling kanan)
Testimoni Rian, nonbenef Sei Bansi, 30/5/2016. 

Rian adalah salah satu putra Sei Bansi yang sejak tahun 2013 lalu pulang merantau dari Jakarta. Kondisi fisik mata sebelah kirinya rusak tidak bisa melihat lagi dan terpapar karena pengaruh polusi udara yang kotor. Semenjak tinggal di kampung, mata kirinya tidak lagi terasa perih dan sedikit bisa melihat walau agak rabun. Selama di kampung ia kembali beraktifitas seperti teman sebayanya, membantu orang tua di ladang dan menoreh.

Sejak April 2016, ia mulai tertarik dengan KSM tapi tidak mau bergabung karena tidak mau terikat. Ia lebih memilih mengamati dan mengenal kegiatan dari jauh. Sesekali ia nyemplung bersama KSM karena diajak oleh fasilitator Budin. Bersama Budin, Rian banyak belajar dan mengenali kondisi KSM yang memprihatinkan menurutnya.

Ia sangat menyayangkan atas perilaku para anggota KSM yang tidak serius, Ia menyampaikan keprihatinannya dalam wawancara kepada tim Caritas “Ini pendidikan gratis, KSM menyia-nyiakannnya. Tidak kompak dan tidak serius lagi.” Dia juga menambahkan, “Saya baru beberapa bulan bergaul dengan Budin, sudah merasa pengetahuan saya bertambah sebagai penerima manfaat dan pendamping karena pernah menemani Budin mengajari Iyau okulasi.”
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com