CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Kamis, 28 September 2017

RESILIENSI WARGA TANJUNG PASCA BENCANA BANJIR

Pasca bencana banjir bandang di Tanjung 29/8, "ada 14 KK kehilangan tempat tinggal, diantaranya 3 rumah hanyut dan sisanya rusak berat," jelas Mimi tim relawan posko ketika ditanya dalam rapat FGD identifikasi masalah & rencana kontigensi 25/9. Hasil kajian 2 identifikasi korban 10/9 oleh Caritas Keuskupan Ketapang dan Caritas Indonesia serta tim posko Tanjung juga menemukan kapasitas yang masih dimiliki oleh warga adalah mereka masih punya kebun untuk menyadap terutama bagi ibu janda atau rumah tangga yang tidak jadi buruh perkebunan sawit, sebagian dari mereka masih punya tabungan di Credit Union Gemala Kemisiq untuk modal berusaha. Namun mereka dalam 3 bulan kedepan (oktober-des) masih trauma takut banjir datang lebih besar lagi karena masa itu adalah masuk awal musim penghujan seperti peristiwa tahun biasanya. Banyak warga terutama para ibu rumah tangga dan anak yang sengaja belum mengemas kembali pakingan barang dalam karung mau pun kantong dan tas.

Situasi lain juga menunjukan adanya pembangunan kembali jembatan darurat penghubung antar dua desa, jembatan penghubung kerapkali dipakai antar warga desa Tanggerang mau pun desa Teluk Runjai sebagai jalan transportasi umum dan jalan menuju usaha tani. Namun di tempat lain dibagian hilir dua desa tadi belum ada jembatan darurat yang dibanagun, tampak aktifitas anak sekolah terpaksa menyebrang dengan meniti dahan dahan dan batang pohon besar yang melintang di sungai Jelai tersebut.(Papin)



“BUAH MANIS” HASIL PETANI TANAMAN HORTIKULTURA


Mengapa tanaman hortikultura ?
Kegiatan petani hortikultura   lahir bermula dari kegelisahan yang di alami para petani tradisional di Laman Satong terhadap kondisi  ekonomi keluarga yang semakin sulit dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat dari  suplai bahan pangan (seperti sayur mayur dan buah-buahan ) dari luar. Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi tersebut  maka  dari 10 penerima manfaat program HEF muncullah kesadaran kolektif  sekitar 6 kepala keluarga  memulai  usaha tani tanaman muda (hortikultura) yang dikelola secara serius dan  menetap.

Transformasi dari system ladang ke tanaman hortikultura sistim menetap berkelanjutan
Sentra lokasi tanaman petani berjarak sekitar  8-10 km dari perumahan, yang masih berhutan murni dan tanahnya subur. 6 KK  mengawali usahatani hortikultura  dengan membuka lahan diawali ditanami padi . Pasca panen tanaman padi dilanjutkan dengan usahatani tanaman hortikultura untuk orientasi pasar.
Selanjutnya lahan bekas ladang tersebut dikelola dengan system intensif dan menetap dengan mengembangkan komoditas hortikultura  yang memiliki segmen pasar, seperti pisang, jagung, cangkok manis, terong, cabe, tentimun, dan papaya.
Petani tanaman hortikultura membuka lahan untuk budidaya tanaman hortikultura  20 tahun lalu, lebih dulu dari  perusahaan perkebunan kelapa sawit P. KAL (Kayong Agro Lestari) dan group PT.  BGA.  Masuknya koorporasi tersebut  tak terelakan terjadi “ gesekan” dengan petani hortikultura tentang rencana ekspansi lahan kelapa sawit. Kelompok petani hortikultura tidak menjual  lahan dan lokasi tanaman hortikultura mereka kepada koorporasi. “ Lahan kami hanya ini yang masih ada, luas wilayah di wilayah desa Laman Satong hamper 75% telah dikonversi untuk usaha koorporasi yang berbasis lahan dan hutan,” unggap ketua kelompok tani hortikultura, pak Paulus Pau, sambil mengenang perjuangannya mempertahankan lahannya.
Masuknya PT. KAL, sebagai koorporassi yang mengembangkan kelapa sawit yang berbatasan langsung  dekat lokasi petani hortikultura, disamping berdampak negative, tetapi disisi lain memberikan peluang yang baik bagi usahatani hortikulura. PT. KAL mempunyai  lebih 1000 an karyawan yang tinggal di perumahan perkebunan.

“Saat ini tentang pemasaran hasil dari komoditas tanaman hortikultura yang kami budidayakan tidak ada masalah, bahkan kalau musim panen, dalam satu hari kami dapat ‘meraih’ (menjual) 3 kali ke konsumen dari karyawan perusahaan dan selalu habis!” ungkap  pak Lambat dengan semangat.

Peningkatan Kapasitas dan pengelolaan petani hortikultura

Sejak Maret 2017 kelompok tani hortikultura dan kelompok tani tanaman padi di dampingi oleh CKK bekerjasama dengan HEF(Kedutaan Besar New Zealand). “ Intervensi kita  adalah meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usahataninya agar lahirnya petani yang adaptif terhadap perubahan kondisi iklim dan sumber daya alam, inovatif dan resilen,” ungkap Markus Oyen, coordinator program. Berdasarkan data assessment lapangan CKK per Agustus ,income rata-rata per bulan  dari penjualan hasil komoditas tanaman hortikultur berkisar Rp. 1.500.000,- Rp. 3.2500.000,- (MOY)

Selasa, 12 September 2017

BANJIR TANJUNG MEMBAWA BERKAH

Suasana rapat koordinasi multi pihak bersama Uskup Ketapang
Banjir yang merendam 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu dan 5 Desa di Kecamatan Manis Mata membawa berkah bagi kita, di antaranya kita menjadi semakin  bersaudara, kita semakin  dibukakan mata terhadap  situasi  dan  lingkungan  bahwa  kita  memerlukan kesadaran baru, kita belajar berkomunikasi-berkoordinasi dan mengenali yang kita beri informasi. Kita diajak untuk mengingat kembali bahwa kita punya kekuatan seperti berdoa bersama, melakukan acara adat dan lain-lain. Demikian disampaikan oleh Mgr Pius Priana Prapdi, Uskup Ketapang dalam pertemuan koordinasi dengan berbagai stakeholders di sekretariat POSKO Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, Kantor Desa Tanggerang, Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang, 11 September 2017.
Sebagaimana diketahui, Posko Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang memiliki Semboyan Bela Rasa 1 Rasa 1 Jiwa yang telah menarik perhatian dari berbagai pihak ini merupakan Posko yang pada awalnya digagasi oleh beberapa aktifis Paroki, Pemerintah desa Tanggerang dan desa Teluk Runjai, untuk menanggapi peristiwa banjir yang merendam setidaknya 1.712 rumah di 22 Desa Kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata, yang juga telah mengakibatkan putusnya jembatan Lamboi dan jembatan Tanjung, 7 rumah di Tanjung hilang, 4 rumah di Tanjung tumbang, 3 rumah di Tanjung rusak berat, 13 rumah di Tanjung rusak ringan.
POSKO ini dijalankan secara terorganisir dengan struktur relawan yang jelas apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga kepedulian para pihak terhadap kejadian ini dapat disalurkan secara tepat sasaran. Selain itu posko ini juga bekerja bukan hanya dalam kondisi tanggap darurat saja, tetapi sampai pada upaya-upaya rekonstruksi  dan  recovery.
Selain menyalurkan  bantuan, tim dibantu oleh Yayasan Caritas Keuskupan  Ketapang dan Karina (Karitas Indonesia) bekerjasama dengan tim dari Credit Union Gemala Kemisiq, menghimpun berbagai informasi untuk mengetahui menjadi penyebab maupun potensi atau kekuatan yang masih dimiliki oleh masyarakat, seperti bagaimana para korban bersikap dan bertindak pasca bencana, belajar dari kejadian ini, sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan untuk kondisi darurat, sumber daya manusia yang dapat diajak bekerjasama dan lain-lain. Dengan demikian akan mempermudah upaya mengajak masyarakat bangkit dan melakukan apa yang sebaiknya dilakukan ke depannya.
Sehingga setelah habis masa tanggap darurat berdasarkan NOTA PASTORAL Keuskupan Ketapang yang berakhir 12 September 2017, namun relawan akan terus melanjutkan upaya­upaya untuk terselenggaranya rekonstruksi dan recovery.
Dengan rencana ini maka komitmen dan kerjasama berbagai pihak sangat diharapkan, tanpa memandang siapapun kita. Kejadian ini cukup memberikan pelajaran berharga untuk melakukan perubahan, memperbaiki sikap dan cara hidup. Saatnya kita bekerjasama bukan saja hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk di bumi. Kita harus bekerjasama dengan alam. Bukan mengambil hasilnya saja, tapi kita juga mau menjaga, memelihara dan merawat alam yang menjadi sumber kehidupan. Sebelum mengakhiri pertemuan koordinasi, Uskup menegaskan bahwa Keuskupan Ketapang berkomitmen bahwa Keuskupan Ketapang ingin masyarakat bukan hanya sekedar kembali ke kondisi normal, tapi meningkat. Uskup juga mengingatkan bahwa ‘naga’ yang disebut­sebut sebagai penyebab terjadinya banjir itu merupakan simbol penguasa (kuasa punya aturan, kuasa menentukan apa yang mau dilakukan dan kuasa punya uang). Oleh sebab itu menurut Uskup Ketapang, kita harus menyuarakan apa yang menjadi hak hidup kita agar kita semakin bersaudara dengan  semua - bukan hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk yang ada di alam.

Sekarang saatnya kita "BERUBAH" (sarvianus mimi)

RAPAT PENGKAJIAN FGD BENCANA BANJIR TANJUNG

Selasa, 12 September 2017, Tim Posko Paroki St Maria Assumpta Tanjung mengadakan rapat untuk membagikan pengalaman Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan tim enumerator (kajian data) untuk memverifikasi secara kualitatif data kuantitatif yang telah dihimpun oleh tim selama masa penanganan bencana banjir yang terjadi di bantaran sungai Jelai tempo hari (30/08/17). Proses yang dilakukan tim adalah masuk ke desa-desa terdampak dan bertemu dengan warga terdampak. Warga terdampak dikategorikan laki-laki dan perempuan dengan ketentuan peserta minimal sejumlah 12 orang. Pembedaan kelompok diskusi dengan kategori laki-laki dan perempuan ini dimaksudkan untuk membaca kebutuhan lebih cermat. 
Pendalaman data melalui FGD ini dilakukan di 8 Desa yang dipilih oleh tim berdasar wilayah bantaran sungai dan tingkat kemendesakan bantuan. Desa-desa tersebut adalah Pasir Mayang, Sidahari, Tanggerang (desa-desa bagian hulu anak sungai Kiri), Karangdangin, Riam Danau, Kesumajaya (desa-desa bagian hulu anak sungai Jelai), Deranuk (desa pertemuan dua anak sungai) dan Asam Jelai (desa bagian hilir sungai Jelai).
Mengenai informasi desa-desa yang berada di bantaran sungai Jelai, klik di sini.
Banyak hal yang menarik diungkapkan para warga yang terdampak bencana banjir ini. "Mereka seperti belum memiliki tempat untuk membuang beban perasaan yang mereka lakukan," kata Jurin salah satu tim kajian data FGD. "Karena pemerintah (tingkat kabupaten -red) sangat lambat dalam proses penanganan bencana ini, maka banyak warga yang merasa terbebani atas bencana ini," kata Danang, salah satu tim kajian data FGD. "Kebutuhan laki-laki dan perempuan jauh berbeda. Para laki-laki kebanyakan mengungkapkan kebutuhan yang mendesak mereka dalam peralatan teknis untuk bekerja dan bertani. Sementara itu, para perempuan lebih banyak mengeluhkan kebutuhan-kebutuhan peralatan dapur dan rumah tangga," tambah Danang. 
Seusai melakukan FGD, Liong Kun dan para tim kajian data lainnya membantu para korban bencana untuk mulai cermat mengamati terjadinya bencana. Mereka membuat garis tanda ketinggian air sungai pada salah satu rumah warga di Pasir Mayang yang posisinya paling rendah dan menempel bibir sungai. "Kami membuat garis ketinggian 50, 75, dan 100 centimeter dari tanah. Bapak yang ada di rumah itu mengevakuasi diri sejak air setinggi 50 cm dan akhirnya selamat karena akhirnya tak lama kemudian, sungai itu merendam seluruh rumah itu yang tingginya kira-kira 2,8 meter. Saya memberi tahu kepadanya bahwa kalau air sudah sampai ketinggian 50 cm meter di desa Pasir Mayang, desa Tanggerang harus mulai siaga. Ini berguna agar mereka yang hidup di pinggir sungai sepanjang sungai Jelai ini bisa saling berbagi kewaspadaan," kata Liong Kun.
Setelah berbagi cerita tentang FGD yang dilakukan, RD Ignasius Made sebagai Penanggungjawab Capacity Building meminta agar kesempatan ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi Tim Posko Paroki Tanjung untuk semakin mampu mencari data dengan cermat. Fredericus Sundoko, tim koordinator tanggap darurat Karitas Nasional, meminta agar semua data dikompilasi menjadi satu kesatuan informasi. "Apa yang kita lakukan dalam pendataan ini sangat bagus karena dari 214 responden kita, ada 58,4% responden perempuan, 26,2 % responden laki-laki dan  7,9% anak-anak perempuan, 7,5%, anak laki-laki. Ini berarti perhatian kita pada kebutuhan perbedaan gender cukup baik," kata Sundoko. Tim kajian data FGD melanjutkan dengan kerja kelompok untuk menyatukan data-data tersebut. (MoNdhan)



MERAH PUTIH BERKIBAR DI RERUNTUHAN

Photo by Danang

Bendera Merah Putih kebanggaan Bangsa Indonesia berkibar di tengah reruntuhan bangunan rumah yang terdampak banjir Sungai Jelai (30/08/17). Tidak ada yang mengetahui siapa yang memasang bendera tersebut. Sungai Jelai memang tidak pernah banjir sekurang-kurangnya 50 tahun terakhir ini. Menurut banyak penduduk yang puluhan tahun tinggal di bantaran Sungai Jelai, bencana banjir yang terjadi selama ini, tidak pernah sebesar ini. Meski tidak ada ucapan resmi pemerintah "turut prihatin" kepada korban, bencana ini tetap merupakan bencana terbesar sepanjang sejarah sungai Jelai.
Tidak ada korban jiwa yang tercatat sejauh pengamatan tim pendataan Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Namun demikian, menurut data yang dihimpun tim per 8 September 2017, ada setidaknya 13 rumah yang mengalami kerusakan berat, dan ratusan rumah yang  rusak karena terendam air luapan sungai. Selain itu, banyak penduduk yang kehilangan harta, ternak, lahan pertanian dan Saat ini, tim pendataan yang dikoordinir oleh RD Bernardus Tedy Prasetyo sedang memusatkan perhatian untuk mendata secara khusus 75 Kepala Keluarga (KK) di desa Tanggerang agar dapat memperkirakan jumlah keseluruhan kerugian yang diakibatkan oleh banjir sungai Jelai yang melanda 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu maupun Manismata. "Data menyeluruh mengenai kerusakan bangunan ini sangat diperlukan untuk masa setelah emergency respon," kata Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang.
Sejak kunjungan beliau pada tanggal 1 September 2017, Mgr Pius menekankan pentingnya sikap bela rasa bagi korban terdampak banjir. Bela rasa adalah sikap dasar yang harus dimiliki para relawan untuk berjuang dan ikut serta merasakan apa yang dirasakan para korban bencana. Dengan sikap demikian, relawan harus membantu agar korban betul-betul dipulihkan. Oleh karena itu, bantuan dibagi dalam tiga masa yakni, Emergeny Respon (Tanggap Darurat), Reconstruction (Perbaikan), dan Recovery (Pemulihan). Mgr Pius menetapkan Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, RD Laurentius Sutadi menjadi ketua umum Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Sementara itu, RD Eduardus Banggut, pastur kepala paroki St Maria Assumpta Tanjung ditetapkan sebagai koordinator lapangan posko. (MoNdhan)

Jumat, 08 September 2017

CATATAN KECIL (VIDEO PENDEK)

Sebuah video pendek yang dirangkum dari bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang.

Tak banyak yang tahu kabar tentang banjir di tempat kami ini. Video ini dibuat sekedar sebagai catatan kecil bahwa dalam sejarah Negara Indonesia, pernah terjadi banjir besar di sungai Jelai yang terbesar sepanjang sejarahnya. Kami tidak berharap media massa mengekspose video ini, atau pemerintah Indonesia mengucapkan "turut prihatin", karena lebih baik bagi mereka jika mereka melihat dan berjumpa langsung mereka yang terdampak banjir. Terima kasih lagu September Ceria ciptaan James F Sundah yang dipopulerkan Vina Panduwinata menyemangati kami untuk bekerja dan bergotong-royong dalam masa-masa tanggap darurat, perbaikan dan pemulihan dampak bencana banjir. Tuhan selalu mengampuni human error. Tapi alam selalu punya cara sendiri untuk memperbaiki diri. Yakinlah Tuhan masih terus beserta kita dan membakar semangat solidaritas dalam diri kita. (MoNdhan)

SITREP 5 BANJIR TANJUNG

LAPORAN SITUASI NO 5
BANJIR SUNGAI JELAI
8 SEPTEMBER 2017

PENGANTAR
Negara                  : Indonesia
Lokasi Bencana   : Desa-desa di bantaran Sungai Jelai, Kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata
Periode Laporan : Jumat, 8 September 2017
Sumber Data       : Posko Kemanusiaan Paroki St Maria Assumpta Tanjung
Pelapor                : Vincentius Bondhan



LATAR BELAKANG
Pada hari Senin, 28 Agustus 2017 pada pukul 21.00 WIB, terjadi hujan deras menyeluruh di Kecamatan Jelai Hulu yang mengakibatkan sungai Jelai meluap dan merusak desa-desa bagian hulu yakni: Desa Pasir mayang, Rangga Intan dan Sidahari. Pada hari Selasa 29 Agustus 2017, dampak luapan sungai meluas sampai ke arah hilir. Banjir kiriman terus meluas sampai ke desa-desa hilir sungai Jelai mencakup kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata. Aliran deras banjir telah menghanyutkan beberapa rumah, lumbung-lumbung padi, memutus jembatan penghubung antara desa-desa dan merendam sebagian besar rumah-rumah di bantaran sungai Jelai. Di Desa banjir kiriman datang dari desa ke desa dengan jarak waktu kurang lebih satu hari. Desa Tanggerang dan Teluk Runjai terdampak pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 dini hari, sementara itu, desa Perigi yang berada di hilirnya, terdampak pada hari Kamis 31 Agustus 2017, pagi hari. Dusun Limus dan Deranuk terdampak pada hari Kamis, 31 Agustus, sore hari. Sementara itu, Desa Periangan di Riam Kota (ibukota kecamatan Jelai Hulu) terdampak pada hari Jumat, 1 September 2017, dini hari. Sampai pada hari Selasa, 5 September 2017, banjir kiriman telah sampai di Desa Sengkuang Merabung, Desa Kemuning, Desa Terusan dan Desa Silat, sementara itu, kondisi air di hulunya, yakni Desa Kelampai dan Pangkalan Baru, mulai surut. Banjir di Desa Tanggerang disertai arus yang deras, sementara di desa Periangan, arus tidak sangat deras. Ini terjadi karena semakin ke hilir, sungai semakin lebar dan datar, tidak securam yang di hulu.

WILAYAH TERDAMPAK
Sungai Jelai memiliki dua anak sungai. Anak sungai yang berhulu di Desa Pasir Mayang dikenal dengan nama Sungai Kiri yang kemudian melewati Desa Rangga Intan, Desa Sidahari, Desa Tanggerang, Desa Teluk Runjai dan Desa Perigi. Anak sungai yang berhulu di Desa Karangdangin dikenal dengan nama Sungai Jelai melewati Desa Pangkalan Suka, Desa Riam Danau Kanan, Desa Kesumajaya, Desa Tebing Berseri, Desa Penyarang. Kedua anak sungai itu bertemu di desa Deranuk. Setelah itu sungai Jelai melewati desa Periangan, Desa Asam Jelai, Desa Bikusarana, Desa Kelampai, Desa Pangkalan Baru, Desa Sengkuang Merabung, Desa Kemuning, Desa Terusan, Desa Silat, Desa Dibau. Akses menuju Desa-desa itu pada hari pertama desa terkena banjir selalu terisolasi oleh karena luapan sungai Jelai maupun anak-anak sungai kecil yang bermuara di sungai Jelai. Jalan yang ditempuh untuk mengirim bantuan berlumpur dan berbatu melewati pegunungan dan kebun sawit. Untuk menempuh perjalanan tersebut, tim menggunakan mobil double gardan. Mobil dipinjam dari keluarga-keluarga di sekitar posko, Institut Dayakologi dan perusahaan Cargill. Kesulitan utama untuk menjangkau daerah-daerah terdampak selain karena akses jalan yang sulit adalah listrik yang tidak beroperasi selama 24 jam dan sinyal telepon seluler yang berkali-kali hilang. Perlu diketahui, di Desa Tanggerang tempat posko Paroki Tanjung berada, listrik hanya beroperasi di sore hari pukul 17.00 – 06.00 WIB. Komunikasi dengan desa-desa terdampak juga menjadi sangat sulit karena beberapa desa di hilir tidak terjangkau sinyal telepon.

POPULASI TERDAMPAK
Sampai tanggal 5 September 2017, korban yang terdampak berjumlah 1415 KK di 17 Desa. Data tambahan jumlah populasi terdampak terbaru per 8 September 2017, di Dusun Tanjung Beringin (6 KK), di Desa Kemuning (137 KK), di Desa Terusan (100 KK) dan di Dusun Sungai Rasak (100 KK). Data terbaru ini dapat diverifikasi pada hari Jumat, 8 September 2017. Tim akan mengirim pendata untuk memverifikasi data terdampak di Desa Terusan dan Dusun Sungai Rasak.

KEBUTUHAN MENDESAK
Selain sembako untuk daerah-daerah terdampak baru, kebutuhan yang mendesak saat ini adalah peralatan-peralatan dapur, perlengkapan tidur, dan perlengkapan mandi. Selain itu, kebutuhan kesehatan dan trauma healing juga menjadi kebutuhan yang belum dapat secara merata ditangani tim Posko Paroki Tanjung. Perlu diketahui, salah satu trauma umum yang dialami oleh para korban terdampak adalah ketakutan pada hujan. Sejak terjadinya bencana ini, cuaca sangat tidak menentu. Langit kadang-kadang cerah, namun tiba-tiba bisa berubah menjadi mendung tebal dan turun hujan.

RESPON PEMERINTAH
Selain Posko Induk Kecamatan di ibu kota kecamatan Jelai Hulu, berdiri juga posko kesehatan dari perusahaan Cargill. Sampai hari ini, pemerintah belum membuat respon yang terstruktur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah datang ke Posko Paroki Tanjung pada hari Selasa, 5 September 2017 sekedar menanyakan beberapa hal berkaitan dengan gerak Posko Paroki Tanjung. Setelah itu, tim BPBD melanjutkan perjalanan menurunkan bantuan ke Posko Kecamatan.


RESPON CARITAS/KEUSKUPAN/POSKO KEMANUSIAAN PAROKI ST MARIA ASSUMPTA TANJUNG
1.       Sampai hari Rabu, 6 September 2017, data khusus, yakni data keluarga terdampak kerusakan besar di Desa Tanggerang dan Teluk Runjai, berhasil dihimpun tim sampai 41 KK dari target 75 KK. Pada tanggal 5 September 2017, tim mendapat tambahan relawan dari seminari Laurentius Ketapang: 1 Frater dan 3 Seminaris. Mereka aktif bekerja pada tanggal 6 September 2017. Kesulitan mereka dalam pendataan ini adalah kurangnya relawan lokal yang mengantar tim pendataan. Target hari Sabtu tanggal 9 September 2017, sudah selesai.
2.       Pada hari Senin, 4 September 2017, Tim mengirim bantuan ke desa Sengkuang Merabung untuk korban terdampak di Tanjung Beringin dan Kemuning. Karena akses ke Tanjung Beringin dan Kemuning tertutup, bantuan dibawa kembali ke Posko Tanjung. Pada tanggal 5 September 2017, terjadi update data untuk korban terdampak. Maka, tim mempakcaging kembali bantuan dengan bantuan para ibu dan anak-anak asrama putri Sion, untuk Kemuning sebanyak 137 KK, Terusan sebanyak 100 KK, dan sungai Rasak sebanyak 100 KK. Karena cuaca tidak mendukung sejak pagi hari, hujan dan mendung tebal, tim memutuskan untuk menunda pengiriman bantuan. Pada tanggal 6 September 2017, bantuan diturunkan di Sengkuang Merabung lalu dilanjutkan dengan perahu klotok ke Kemuning dan Terusan. Bantuan untuk Sungai Rasak dititipkan kepada tim Terusan. Bantuan untuk sungai rasak sampai di sana pada tanggal 7 September 2017, pukul 11.00. jumlah bantuan yang didistribusi hari itu: Kemuning sebanyak 150 paket, Terusan sebanyak 100 paket dan Sungai rasak sebanyak 100 paket.
3.       Pada tanggal 7 September 2017, tim posko paroki tanjung mengirim paket sembako yang kedua kalinya di Pasir Mayang, Rangga Intan dan Sidahari. Bekerjasama dengan PT Cargill, tim Pokso paroki Tanjung menyelenggarakan pengobatan gratis untuk Desa Pasir Mayang mulai jam 14.00-18.00 WIB. Jumlah tim PT Cargill: 1 dokter, 2 driver dan 2 orang dari staff PT. Tim Posko Paroki Tanjung menurunkan 8 orang relawan untuk membantu menurunkan bantuan: 2 orang mendata kerusakan, 2 driver, 3 relawan, 1 perawat. Jumlah pasien yang mengikuti program pengbatan gratis sebanyak 90 orang. Keluhan kesehatan kebanyakan sakit perut, demam, gatal-gatal.
4.       Sampai hari ini, tanggal 8 September 2017, tim Posko paroki Tanjung telah melayani: Desa Pangkalan Suka (103 pasien), Desa Tanggerang (10 orang), Desa Teluk Runjai (2 pasien), Dusun Penyarang (34 pasien), Desa Pasir Mayang (124 pasien), Desa Deranuk (39 pasien), Sengkuang Merabung (2 pasien). Total seluruhnya ada 314 pasien. Masih ada beberapa tambahan data yang belum digabungkan oleh tim kesehatan Posko Paroki Tanjung.
5.       Beberapa hal yang mendesak saat ini adalah bantuan untuk beberapa anak sekolah yang terdampak banjir dan kehilangan peralatan sekolah.
6.       Pada tanggal 6 September 2017, tim mengadakan rapat evaluasi dan koordinasi bersama Mgr. Pius Riana Prapdi. Monsinyur menegaskan beberapa hal:
  • Bencana mengajari kita untuk berubah. “Ada yang mengatakan tidak membuang sampah sembarangan. Ada yang mengatakan untuk mulai bijak dengan alam. Semuanya itu adalah usaha untuk berubah/bertobat.
  • Demi alasan keselamatan, undang-undang Negara kita melarang orang membangun rumah tinggal di bantaran sungai. Ini menjadi catatan untuk masa rekonstruksi dan recovery.
  • Tim Posko Paroki Tanjung harus mulai berkoordinasi dengan posko-posko penyalur bantuan.
  • Rumah Sakit Fatima siap melayani trauma healing bagi korban terdampak.
  • Dua orang dari tim dari Karina (Karitas Nasional) akan datang membantu assessment di Posko Paroki Tanjung kira-kira pada tanggal 10 September 2017.
  • Tim dari seminari Laurentius akan diminta membantu mengerjakan pendataan sampai pendataan selesai.




Rabu, 06 September 2017

CERITA HUJAN BERBALUT DUKA


Banjir Tanjung, 2017 Sejak 30 Agustus lalu, kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, dilanda bencana banjir yang meluap dari Sungai Jelai. Dusun Tanjung, Desa Tanggerang merupakan wilayah pertama yang mengalami dampak besar akibat bencana banjir tersebut. Video ini merupakan sebagian kecil dari potret keadaan yang sebenarnya di lokasi.

Dalam bencana seperti ini 3 hal yang tidak boleh hanyut terbawa bencana dalam hidup kita. Berharap, iklas dan beriman. Pasti ada rencana Tuhan yang tersembunyi yang tidak kita mengerti. Oleh karena itu biarkan rencanaNya bekerja untuk kita. Iklaskan semuanya, seperti Ibu Maria, berucap, let it be, terjadilah menurut kehendakMu, bukan menurut kehendakku.

Akan ada jalan keluar yang baik bagi orang yang memiliki keyakinan, tetapi juga akan ada pembelajaran yang baik dari bencana ini. Akan ada hal yang tidak baik yang harus kita tinggalkan dan tidak boleh diulangi kembali. 


Saatnya untuk berani berubah
Saatnya untuk berani berbagi dan memberi kepada alam, terlalu banyak yang sudah kita ambil, bahkan mungkin sudah terlalu amat banyak
Saatnya untuk tidak mengulangi hal yang tidak baik.


Let it be, Let it be, biarlah terjadi
Sesuai dengan seruan Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, saatnya kita berani untuk berubah, berbagi dan memberi kepada alam, demikian juga ini saatnya kita untuk berbelarasa. Wilayah yang terdampak (Tanjung dan sekitarnya), jadikan ini menjadi wajah belarasa kita dan berani mengajak mereka untuk berubah. Terima kasih untuk segala sumbangsih yang telah diberikan oleh para donatur. Terima kasih juga untuk segala jerih payah para relawan yang terus mendistribusikan segala jenis bantuan kepada para korban banjir. Terima kasih tidak terhingga kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban. Tugas kita belum selesai. Masih ada banyak yang harus kita kerjakan setelah ini. Masih banyak yang harus kita lakukan, terutama untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban, dan juga untuk keutuhan alam yang telah banyak memberi kepada kita.

Bila kami boleh menerima uluran kasih dari teman, sahabat, umat, salurkan donasi anda ke: Posko Tanggap Darurat Keuskupan Ketapang, atau ke Rek BCA no 8955 149.188 atas nama Keuskupan Ketapang. 
Salam bela rasa

Minggu, 06 Agustus 2017

FIELD VISIT MIDTERM KOMUNITAS SETIPAYAN

Observasi ke kebun bedeng batang bawah
Sejak Febuari 2017 Caritas Keuskupan Ketapang sudah 7 bulan memberdayakan masyarakat Setipayan melakukan budidaya karet unggul, kegiatannya berupa pelatihan sampai praktek. Program peningkatan kapasitas masyarakat ini berdurasi setahun dan didukung oleh dana bantuan pemerintah untuk pendampingan / pembinaan agar anggota kelompok tani mampu membibit karet unggul sendiri. Rantai kegiatan mereka yang telah didampingi oleh 2 fasilitator lapang Caritas  adalah seleksi biji-penyemaian biji-pembedengan-pemeliharaan batang bawah-okulasi. Berdasarkan pengalaman Caritas mendampingi kelompok tani sebelumnya di tempat lain program setahun hanya sampai pada tahap okulasi mengingat dan mempertimbangkan ketersediaan biji karet dan kalender musim kerja masyarakat peladang. Ada 30 penerima manfaat yang sedang menerima program ini dan mereka dibagi dalam 2 kelompok bernama Cahaya Lekah dan Lubuk Berunai, dan masing-masing kelompok beranggotakan 15 orang laki-laki. Agustus 2017 ini, bagi lembaga pendamping program ini sudah memasuki tahap midterm evaluasi. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai dan melihat capaian kegiatan budidaya karet unggul yang dilakukan oleh anggota kelompok dan kegiatan pendampingan secara menyeluruh.

pertemuan penggalian partisipatif
5-6 Agustus, tim Caritas melakukan field visit ke Setipayan. Timnya ada 8 terdiri direktur, staf admin finance, staf IT, 3 volunteer, ditambah 2 fasilitator lapang. Metode kunjung lapang, tim observasi dan melakukan wawancara audio visual kepada kepada beberapa penerima manfaat di lahan kebun bedeng pada tanggal 5 sore, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan penggalian partisipatif pada malam harinya. Proses penggalian partisipatif berjalan dengan alot, bahkan 4 kata kunci pertanyaan penggalian kegiatan-manfaat-kesuliatan-rencana tindak lanjut yang dibahas berkembang membahas tentang pembelajaran karena dalam diskusi peserta terlibat aktif.

Selama kunjung lapang midterm evaluasi ditemukan sejumlah pembelajaran tentang kegiatan yang dilakukan oleh pribadi mau pun secara kelompok. Lewat pertemuan mau pun observasi lapang terungkap lebih banyak soal bertambahnya pengalaman pribadi dan keluarga selama melakukan kegiatan kelompok. Salah satu pembelajaran menarik dan patut ditiru oleh anggota lainnya adalah saat penanaman batang bawah ada suami dan istri berbagi peran merawatnya di bedengan agar pohon tumbuh normal subur hingga layak untuk diokulasi. Kelompok sadar bahwa syarat keberlanjutan kelompok perlu komitmen bersama, salah satunya memobilisasi dana kelompok dan meningkatkan pendapatan dengan cara menjadi pensuplai bibit karet unggul serta bermitra dengan dinas perkebunan untuk pemasaran. "Untuk memulainya kelompok perlu merancang menjadi supliyer bibit dan membangun kerjasama dengan pemerintah, namun ingat agar tidak gagal jangan mengulang lagi / mempertahankan mentalitas pola lama yang merugikan," saran fasilitator Ariston. Salah satu kesulitan yang dialami anggota adalah menejemen waktu pribadi berkegiatan di kelompok sudah di atasi dengan rapat bersama dengan fasilitator pendamping untuk penyesuaian hingga tak ada lagi benturan waktu kegiatan. Rencana tindaklanjut kelompok juga akan mendatangkan mata entres dari luar karena sudah banyak pohon batang bawah mau diokulasi. Berdasarkan laporan fasilitator lapang selaras dengan hasil kunjungan ternyata kegiatan setahun sudah melampaui kegiatan okulasi, sebagian okulator yang berhasil sudah memindahkan atau sudah menanam stum di polibag.

Kunjungan berakhir pada hari Minggu tanggal 6 Agustus dan kegiatan pun ditutup dengan misa di kapel Santa Maria Visitasi. (papin)



hasil okulasi sendiri

mengurangi kekeringan sekitar bedeng ditaburi cincangan btg pisang







serah terima bantuan masker utk masyarakat setipayan


“NILAI RUMAH BETANG” HIDUP DALAM P2KP KRPL

Dulu, pada jaman reformasi telah ada program pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin namanya P2KP atau Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan. Oleh Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah telah menerbitkan buku Petunjuk Teknis Pelaksana program melalui pendekatan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), mulai dari falsafah dasar, definisi, proses pembentukan KSM, jenisnya, upaya pengembangan, criteria kemandirian, kesinambungan serta tolok ukurt ingkat perkembangan KSM. Lewat KSM yang terbentuk P2KP dapat menggerakan roda ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah baik di perkotaan mau pun di perdesaan. Kini, pasca reformasi muncul lagi istilah yang sama namun beda singkatannya yaitu program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan  (P2KP juga), tujuan dan sasaran penerima manfaatnya sama yaitu masyarakat miskin yang membutuhkan pendampingan dan peningkatan kapasitas pengelolaan ekonomi/pangan local yang produktif. Melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) sejak Mei 2017 di Kabupaten Ketapang sudah ada 5 Kelompok Wanita Tani melakukan optimalisasi pemanfaatan pekarangan dengan 3 cara yaitu membangun kebun/rumah bibit, membangun demo plot/kebun kelompok, dan pengembangan pekarangan. Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 206 Tahun 2017 dan Petunjuk Teknis Gerakan P2KP Tahun 2017 oleh Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bagi peneriman manfaat menerima dana Bantuan Pemerintah sebesar 15 juta rupiah per kelompok.

Kelompok Wanita Tani Sejahtera adalah salah satu penerima Dana Bantuan Pemerintan lewat Program P2KP dari Desa Balai Pinang Kecamatan Simpang Hulu. “Anggotanya 20 wanita, namun tidak gampang mengembangkan wadah ini walau pun akan ada pendampingan dan pelatihan dari Pendamping Desa, “ kata ketua pengurus KSM Kayu Bunga (MS.Aliang) ketika diundang dalam kegiatan sosialisasi KRPL bagi ibu-ibu. Ungkap seorang ibu Ervina Acin namanya“ Yang penting dari awal kita harus terbuka, suami istri mau kerjasama, dan benar-benar menjalankan kegiatan ini,” bu Ami menambahkan “prinsipnya sederhana, yang mau kerja dialah yang dapat hasil, kita tidak boleh saling mengadu apabila ada salah seorang teman kita tidak berkegiatan mungkin karena ada halangan demikian juga kita pada saatnya nanti, yang pentin gomong-omong (komunikasi) jalan.” Dan masih ada lagi kalimat-kalimat arif namun dengan bahasa yang sederahana praktis terucapkan saat pertemuan di kediaman buToron (29/05/2017) baik untuk pembelajaran kelompok.


Tanpa mereka sadari, ternyata kelestarian kelompok dapa thidup dengan cara menjalankan prinsip dan nilai “RumahBetang”, yang sesungguhnya itu adalah warisan moral dan warisan social dari nenek moyang yang tak ternilai harganya. Tidak hanya omong doing tapi dipraktekan dengan melibatkan suami dalam melakukan kegiatan KRPL. Misalnya membangun kebun bibit, membangun demplot, dan mengembangkan pekarangan dimulai oleh beberapa keluarga dan dikerjakan secara bersama hingga jadi. Beberapa anggota mewujudkan demokrasi, menghargai pendapat atau mengikuti pendapat terbaik ketika ada perbedaan melaksanakan kegiatan, antar anggota walau pun tidak semuanya sebagian di antara mereka mau saling tolong menolong ketika pemeliharaan tanaman muda dan pemberian pakan ternak kelompok, kandang ayam lantai dasarnya ditaburi serbuk somel disirami 1 minggu sekali dengan cairan EM-4 agar dalam kandang dan lingkungan sehat, dan tidak kalah penting lagi mereka sudah mampu memastikan bahwa lewat KRPL memproduksi kebutuhan pokok selain bernilai jual. (Papin)

Sosialisasi Menu Pangan Beragam Bergizi Sehat & Aman Dikonsumsi

Jumat, 16 Juni 2017

KRPL KWTS SEBAGAI GERAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Undang – Undang Nomor 18 Tahgun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional mau pun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah NKRI sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya local. Dan, dalam rangka ikut mendukung pembangunan nasional, Badan Ketahanan Pangan mempunyai visi tahun 2015-2019, yaitu : “Terwujudnya ketahanan pangan melalui penganekaragaman pangan berbasis sumber daya local berlandaskan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan.” Dalam misinya Badan Ketahanan Pangan harus berperan mengoordinasikan perumusan kebijakan ketahanan pangan yang meliputi aspek ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Dalam memainkan peran tersebut sehingga mencapai visi yang telah ditetapkan maka Badan Ketahanan Pangan mengemban lima misi; meningkatkan ketersediaan pangan yang beragam berbasis sumber daya local, memantapkan penanganan kerawanan pangan, meningkatkan keterjangkauan pangan masyarakat untuk pangan pokok, mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat berbasis sumber daya kelembagaan dan budaya local, mewujudkan keamanan pangan segar(sumber:Renstra Badan Ketahanan Pangan th 2015-2019).  
Pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan bertujuan untuk mewujudkan pemantapan ketahanan pangan masyarakat sampai tingkat perseorangan secara berkelanjutan. Kita lihat salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan pangan di provinsi KalBar programnya adalah dengan cara meningkatkan daya beli masyarakat melalui diversifikasi usaha, penciptaan lapangan kerja di sector pertanian dan non pertanian yang berbasis di pedesaan. Cara kedua, adalah menggali dan mengembangkan potensi pangan local namun pemerintah masih harus bersinergi dengan lembaga penelitian/perguruan tinggi untuk menggali dan mengembangkan pangan local karena pengembangan pangan local ini belum banyak banyak dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan upaya peningkatan ketahanan pangan di Kabupaten Ketapang sudah ada petani di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, memulai panen perdana padi varietas unggul Mekongga dan Inpari 3 hasil kerja sama dalam program ketahanan pangan Kodim 1203 Ketapang dan Dinas Pertanian setempat (sumber:Antara-KalBar.com, 27/2/2015), dan program percepatan ketahanan pangan (P2KP) melalui konsep kawasan rumah pangan lestari (KRPL) oleh Kelompok Wanita Tani Sejahtera di Dusun Kayu Bunga Desa Balai Pinang Kec.Simpang Hulu. 

Berdasarkan petunjuk teknis (juknis), dinas ketahanan pangan dan perikanan kabupaten ketapang lewat tim survey lapang penyuluh pertanian lapang (ppl) pak sudario kepada anggota KWTS, bahwa program P2KP berkonsep KRPL punya 4 kegiatan utama yang boleh dimanfaatkan oleh masyarakat lewat kelompok adalah pertama pembuatan kebun bibit, di sini penerimaanfaat boleh menanam dan menyemai bibit sayuran bibit buah apa saja baik dari lokal mau pun dari hibrida, tapi yang diprioritaskan adalah menghidupkan bibit lokal dengan cara tanam di kebun. Kedua, pembuatan demplot, di tempat ini adalah tempat sarana belajar bagi anggota kelompok untuk berbudi daya tanam tanaman muda, atau dengan istilah lainnya dari dinas ketahanan pangan lahan demoplot adalah laboratorium lapang bagi anggota kelompok. Ketiga, pengembangan pekarangan, anggota boleh mengelola atau memelihara ternak unggas kolam ikan aquaponik/hidroponik sembari urus demplot tanaman. Keempat, perlunya sosialisasi menu pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman dikonsumsi oleh masyarakat (B2SA). Hasil KRPL lah yang akan diolah menjadi B2SA. Kelompok wanita tani sejahtera yang beranggotakan 20 orang telah menerima bantuan pemerintah sebesar 15 juta rupiah pada bulan Mei 2017. Dana banpem ini telah mereka manfaatkan untuk buat demplot 2 juta, buat kebun bibit 6 juta dan buat pengembangan pekarangan bagi anggota 7 juta rupiah. KWTS melakukan kegiatan KRPL mulai Juni 2017 s/d 2018. Selama berkegiatan, kelompok ini didampingi oleh seorang penyuluh pertanian lapang (PPL) desa (Sudario) bekerjasama dengan seorang volunteer Caritas Keuskupan Ketapang (Papin) dalam capacity building dan pengorganisasian. Diharapkan P2KP KRPL ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya bagi anggota KWTS. (Papin).
Rumah Bibit dan Kandang Ayam Bangkok
Kelompok Wanita Tani Sejahtera

Rabu, 15 Maret 2017

SEMILOKA : PENINGKATAN KAPASITAS PETANI DESA LAMAN SATONG



Caritas Keuskupan Ketapang bersama dengan lembaga donor HEF New Zealand kembali hadir di tengah-tengah komunitas petani di Manjau, Desa Laman Satong. Kegiatan yang mempunyai tema besar

"PENINGKATAN KAPASITAS PETANI YANG SEDANG DAN/ATAU TERANCAM KRISIS RAWAN PANGAN DAN KERUSAKAN ALAM MELALUI KEGIATAN PENDAMPINGAN TERHADAP PETANI  TENTANG SISTEM PERTANIAN INTENSIF/MENETAP TANPA ‘BAKAR’DI DESA LAMAN SATONG" 

diawali dengan semiloka yang diadakan di Manjau pada tanggal 12-13 Maret 2017.

Petani di wilayah Kabupaten Ketapang khususnya dan seluruh wilayah Kalimantan umumnya dihadapkan pada situasi dilematis Karena sistem pertanian ladang saat ini dan di masa yang akan datang mengalami hambatan dan tantangan yang semain hebat, seperti semakin menurunnya produktivitas hasil pertanian, semakin terbatasnya lahan/SDA yang ideal untuk lokasi pertanian,  dampak perubahan iklim global dan/atau local yang sudah  tidak mendukung proses pertanian,  dan  mindset (pola pikir) dan kinerja (etos kerja) masyarakat/petani belum/tidak optimal dalam melakukan peralihan dan adaptasi  terhadap perubahan-perubahan tersebut,  dan relatif terbatasnya aplikasi dan replikasi pelbagai praktek-praktek baik/kearifan lokal dan inovasi pertanian ( lokal dan adopsi) dalam system pertanian yang intensif/menetap sehingga produktif sepanjang musim.






Desa Laman Satong merupakan salah satu daerah yang sudah mulai terdampak situasi tersebut. Menurut data, diperkirakan hampir 70%  dari total luas wilayahnya telah dan/atau sedang dirubah peruntukannya atau dikonversi untuk pembangunan fisik dan areal korporasi berbasis lahan/hutan (perkebunan kelapa sawit ,pertambangan,dll )serta kawasan konservasi /kawasan milik adat (hutan desa dan tembawang). Perubahan bentang alam tersebut diperkirakan turut andil dalam menurunkan  daya dukung/daya tampung dan daya dukung lingkungan, sehingga dalam 1 dekade terakhir wilayah tersebut rentan terjadi bencana banjir, kekeringan, kebakaran/bencana asap, dll.

Atas fakta dan litani yang sedang dan/atau akan di alami  masyarakat / petani tersebut, maka Caritas Keuskupan Ketapang (CKK) bersama para pihak yang peduli akan melakukan kegiatan untuk ambil bagian dalam mencari solusi terhadap tantangan dan hambatan yang sedang dan/atau akan dialami masyarakat/petani di wilayah Desa Laman Satong, dengan program “Peningkatkan kapasitas petani  (petani ladang) yang mengalami krisis rawan  pangan dan kerusakan lingkungan melalui kegiatan pendampingan keluarga petani tentang sistem pertanian yang intensif/menetap  (produktif) dengan meminimalisir  pembakaran lahan ”.

Agar tujuan program ini tercapai maka diperlukan sinergi dan ketulusan/kesadaran yang nyata dari masyarakat/petani yang terdampak masalah, tokoh masyarakat dan parapihak yang terkait.  Kegiatan ini akan di awali dengan semiloka tentang “peningkatan kapasitas petani yang sedang dan/atau akan mengalami krisis rawan pangan melalui kegiatan pendampingan tehadap petani tentang sistem pertanian intensif/menetap tanpa bakar.”



       Tujuan
  1. Tereksplorasi dan teridentifikasinya pola pikir (mindset), sistem nilai (pola tingkah laku, pola sikap mental dan orientasi usahatani) masyarakat/petani yang menghambat atau menunjang pengembangan sistem pertanian intensif/menetap tanpa bakar di desa Laman Satong.
  2. Terindentifikasinya praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi di tingkat local maupun adopsi dari luar yang dapat direpllikasi dan diterapkan dalam sistem pertanian intensif tanpa bakar di desa Laman Satong.
  3. Adanya rencana kerja yang dibangun secara partisipatif dan  sesuai konteks masalah serta solusi pelaksanaan  sistem pertanian  intensif tanpa bakar di desa Laman Satong

  Output
  1. Peserta /petani memiliki  pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran tentang pola pikir (mindset)  dan sistem nilai-nilai (value) yang dapat dipertahankan/menunjang atau dihilangkan/menghambat pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar, berkelanjutan dan ramah lingkungan
  2. Peserta/petani mendapatkan informasi dan acuan tentang pelbagai solusi dalam pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar dalam bentuk praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi di tingkat local maupun adopsi.
  3. Adanya rencana kerja kelompok tani yang disusun secara partisipatif, menjawab permasalahan dan konteks di desa Laman Satong.
  4. Terbentuknya 3 kelompok tani untuk pengembangan program pertanian sistem intensif tanpa bakar di Desa Laman Satong.




      Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Dusun Manjau-Desa Laman Satong, Kec. MHU, Minggu-Senin, tgl. 12-13 Maret 2017

      Agenda Kegiatan ( Jadwal Semiloka terlampir).
  1.   Kajian, identifikasi dan eksplorasi tentang pola pikir (midset) dan sistem nilai (value) masayarakat/petani yang perlu dikembangkan/menunjang atau menghambat/dihilangkan dalam pelaksanaan sistem pertanian intensif tanpa bakar, berkelanjutan dan ramah lingkungan  di desa Laman Satong.
  2.       Identifikasi praktek-praktek baik (best practice case) dan inovasi-inovasi yang dapat direplikasi dan dikembangkan dalam sistem pertanian intensif tanpa bakar.
  3.       Menyusun rencana kerja partisipatif dan pembentukan kelompok tani sistem pertanian intensif tanpa bakar.


P              Pemateri
-          P. Ign. Made Sukartia (Direktur Caritas Keuskupan Ketapang)
-          Tobias Sukanto (Praktisi Peternakan dan pertanian)
-          Yohanes Terang ( Praktisi lingkungan )
-          Aloysius R (Pelopor sistem tembawang masa kini)
-          Petrus Apin (Praktisi pertanian organik/peneliti)
-          Markus Oyen ( Pemerhati/peneliti pertanian)
-          Danang S ( Praktisi IT/media/ manajemen sistem informasi)
-          Marselus ( Pemerhati sistem pertanian konvensional dan  intensif )

      Metode/Proses
Metode/proses yang digunakan di dalam ruangan/diluar ruangan, FGD,  komunikasi  dua arah, simulasi dan praktek serta metode pendidikan orang dewasa. Bagan alur (flow-chart proses semiloka)  : terlampir.

       Peserta/participant.
1
Perwakilan petani
45 orang
2
Utusan stakeholder terkait
5 orang
3
Tim CKK/narasumber
11 orang
4
OC lokal
8 orang
Total
69 orang

      Penutup
Kami berharap kepada petani atau parapihak yang terlibat dalam proses kegiatan ini untuk membangun mindset (pola pikir) yang konstruktif-edukatif dan terlibat aktif dalam mencari jalan keluar dalam pengembangan sistem pertanian intensif tanpa bakar. Semua peserta adalah sebagai sumber pengetahuan/kekerampilan atau jendela dunia. Diharapkan dari  kesadaran individu dapat menjadi kesadaran bersama membangun semangat dan tindakan-gerakan dalam mengembangkan sistem pertanian intensif tanpa bakar di wilayah desa Laman Satong. Semoga, GBU.

Ketapang, 1 Maret 2017
Hormat kami,
Tim SC/CKK,

JADWAL SEMILOKA

NOTULENSI SEMILOKA


Hari & tanggal         : Minggu, 12-13/3-2017
Waktu                       : Minggu 11.00 – 17..00 WIB
Tempat                      : Gedung PNPM dusun Manjau desa Laman Satong
Materi rapat            : PENINGKATAN KAPASITAS TANI YANG TERANCAM KRISIS PANGAN DAN KERUSAKAN ALAM MELALUI KEGIATAN PENDAMPINGAN TERHADAP PETANI TTG SISTEM PERTANIAN INTENSIF/MENETAP TANPA BAKAR DI DESA LAMAN SATONG
Moderator               : Pia Sezi Nurwanti
Notulis                       : Yohanes Budin
Jumlah peserta        : Hadir: 42 Orang
                         
Susunan acara        : 1. Pembukaan
·        Doa pembukaan oleh : Bpk. Yohanes Terang
·        Pengarah Steering Committee Bpk. Oyen
·        Sambutan dari Bapak Kades Laman Satong, Bpk. Sri Yanto
·        Sambutan dari Direktur Yayasan Caritas Keuskupan Ketapang
                                   

Pokok bahasan  :  1.Menjelaskan Tor semiloka, tujuan kegiatan, tema
                                2. Waktu dan pelaksanaan seminar.
                                3. Peserta seminar, kelompok tani dari dusun Manjau
                                4. Biaya penyelenggaraan seminar,
                                5. Pembicara seminar
                                6. Pembentukan panitia peyelenggara seminar.
Point-point bahasan: Pada Pertemuan Sesi I, Minggu, 12/3
Bapak Markus Oyen selaku program Manager untuk program pendampingan kelompok tani mengingatkan kembali hasil kompilasi assessment yang pernah diadakan di wilayah dusun Manjau kepada 20 responden acak mengenai mata pencaharian utama penduduk dan cara mengusahakan mata pencaharian. Pada umumnya penduduk di sekitar dusun Manjau adalah bertani sawah payak dan bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit. Rata-rata kebiasaan petani masih membakar ladang. Setahun ini pemerintah telah mengusahakan sistim bersawah dengan cara membuat pematang dan pengairan dengan alat-alat berat, agar para petani lebih cepat dan mudah mengelola sawah mereka. Payak yang mereka garap adalah Payak Bujang, 10 Km dari pemukiman petani. Tempat itu dulu adalah pondok atau dahas penduduk yang sekarang menetap di dusun Manjau. Maka bagi mereka yang pernah tinggal di pedahasan Bujang, tentu memiliki kedekatan hati dan pengalaman sejarah yang lebih baik dari mereka yang berasal dari pedahasan lain yang sekarang juga ikut bergabung mengolah paya itu karena hanya itu tanah payak yang boleh diolah dan diijinkan pemerintah. Oleh karena itu siapapun ingin bergabung dalam pendampingan bersawah tanpa membakar harus memiliki kemauan kuat dan komitmen tinggi untuk bekerja dalam kelompok.
Tanah yang luas dan subur tidak sejalan dengan penghidupan atau matapencaharian, karena ternyata sebagian besar responden menjawab  bahwa mereka mengalami krisis pangan, karena beras saja membeli, padahal lahan siap, akan tetapi tidak diolah karena keterbatasan SDM. Kesimpulannya, krisis pangan menjadi persoalan dan masalah yang harus dicari jalan keluarnya. Pendampingan sangat diperlukan. Maka Caritas Keuskupan Ketapang sebagai lembaga kemanusiaan ingin hadir menemani kelompok membantu mereka yang bener berkomitmen membantu diri mereka sendiri lepas dari ketergantungan.
Maka tujuan semiloka ini adalah memetakan kembali persoalan, hambatan, akar penyebab masalah krisis pangan ini, memetakan praktek baik yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan hidup. Menyusun rencana kerja dengan terukur bertanggungjawab serta menyusun timeline kegiatan.



Apa harapan Bapak Kades selaku pemangku Desa yang bertanggungjawab untuk masyarakat desanya. Kehadiran Caritas sangat kami dambakan, meski kami belum tahu apa yang akan menjadi kegiaatan utamanya.Seperti apa model pendampingannya kelak.
Selama ini Dusun Manjau banyak mendapat bantuan dari lembaga non pemerintah, banyak mendapat perhatian dari perusahan yang bekerja di wilayah ini melalui program CSR, namun pendampingan hanya sekilas-sekilas saja, sehingga mudah terbang menghilang terbawa angina.
Kedepan kami berharap agar terjadi perubahan pada pola piker masyarakat, tidak tergantung dari bantuan luar, tapi sungguh mampu berdiri diatas kaki mereka sendiri, dengan mengolah sumber alam ini melalui cara-cara yang maju. Kelompok dampingan juga serius tidak anget -anget tai ayam, tidak setengah-setangah melainkan serius.



Caritas Keuskupan Ketapang hadir untuk membantu komunitas yang benar-benar mau membantu diri mereka sendiri. Model pendampingan darurat sudah bukan opsi tunggal lagi. Comunitas yang sanggup membangun tata kelola diri menjadi sangat penting dan mendesak. Semuanya itu dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan diri.
Jadi Caritas hadir untuk menjadi pendamping kelompok tani kusus bertani sawah tanpa bakar. Meningkatkan  pengorganisasian kelompok agar faham tentang bekerja sama dalam kelompok. Belajar membuat proposal yang benar dan terukur.
Bapak Petrus Apin akan lebih lengkap menengungkap apa yang dimaksud dengan program kerja yang terukur, berdasarkan analisis pohon masalah. Setiap peserta diajak untuk memahami dan mencari tahu dimana sebetulnya akar masalah sehingga sehingga kalua kita tahu penyakitnya kita tahu mengobatinya.

Oleh karena itu peserta dibagi ke dalam 4 kelompok diskusi. Setiap kelompok membahas pertanyaan: pertama, apa  mendukung dan penghambat sistim pertanian menetap tanpa bakar? Pertanyaan kedua: apa solusi menghadapi penghambat tersebut, ketiga, siapa saja lembaga atau pemangku kepentingan yang lain yang bisa mendukung kegiatan kita?
Hasil diskusi untuk jawaban no 1 ke empat kelompok melihat bahwa Manjau memang memiliki lahan pertanian basah, yang telah digarap dengan bantuan pemerintah ada 40 hektar terletak di Payak Bujang. Ada penyuluh petani lapangan (PPL), Desa mendukung,
Hal hal yang menghambat: beberapa lahan garapan belum Hak Penggunaan lain. Kurangnya pengetahuan tehnik bertani, modal kerja kurang. Kurang mampu mengatur waktu kerja. Kerja yang amburadul, tidak focus.
Solusi: mencari mitra kerja, desa, Lsm, pemda, gotong royong
Pemangku kepentingan atau stakeholder yang bisa diajak untuk bermitra dan bekerja sama: Perusahan, PT.KAL (Ketapang Agro Lestari) PSE, DPR, DESA, Dinas Pertanian,Perkebunan dan peternakan,Dinas PU bidang pengairan, BPP, TNC (the natural concervation),CUPS, Litbang, Yayasan Asri, Laman Mining, FFI, Tropenbosh Belanda.
Sharing dari Bapak Aloysius Rahmad:
Pensiunan Mantri Kesehatan ini memanfaatkan masa pensiunnya untuk aktif dalam kegiatan pemberdayaan bersama Caritas. Kisah suksesnya menjadi penggarap tanah payak dengan cara modern, cukup menarik untuk disimak. Menanam padi local dengan (SRI) system of rice intesification. Mengundang keingin tahuan para peserta. Pasalnya benih yang ditanam hanya tunggal dan nanti akan beranak menjadi  banyak. Persoalannya sekarang, banyak orang pingin bersawah lebar luas, tapi pemeliharaannya tidak intensif. Lebih baik bertanam padi tidak luas tapi intensif dan hasilnya terukur. Jelasnya.



“Kisah Manjau Tanah yang terberkati” itulah kisah sharing Yohanes Terang,seorang konservasionis yang telah menerbitkan buku puisi tentang menjaga yang tersisa. Dia berkali kali mengingatkan motonya: BBUBB, Berpikir bersama untuk berusaha bersama. Manjau menjadi gadis yang banyak dilirik orang. Kalau kita sendiri tidak aktip dan peduli, kita akan ditinggalkan. Mari kita jaga tanah yang diberkati agar kita menjadi manusia yang terberkati.
Thobias Sukanto SH, wirausaha; dengan semangat mengajak dan memotivasi peserta untuk rajin, pintar, jujur, ulet, iklas, cermat dalam berusaha. Jauhkan pikiran negative, misalnya malas. Hanya anda seorang yang dapat membuat diri anda  berubah dan berbuah, kecuali anda mau dikunyahkan orang terus menerus.
Sharing Danang S : Praktisi media. Apapun kegiatan kita, kalau tidak didokumenkan tidak akan menjadi pembelajaran bagi kita. Media social dapat menjadi sarana pembelajaran yang baik untuk setiap kegiatan yang kita dokumentasikan dengan baik.
Lanjutan Kegiaatan Senin,13/3
Merumuskan akar permasalahan system pertanian tanpa bakar: narasumber Petrus Apin.
Ada beberapa akar permasalahan yang muncul dalam FGD: merasa bangga menjadi buruh perusahan karena tidak ada kerja lain, mentalitas lemah, mau serba instan, tidak ada kemauan keeras. SDM lemah ditambah lagi tidak ada pendampingan berorganisasi dan berkelompok. Disign sawah yang kurang baik, berlum terbiasa bertani sawah di lahan basah, kurang mampu membagi peran,pekerjaan dan waktu dalam keluarga.

Dampak: kerja amburadul, tidak focus, tidak ada rencana kerja yang jelas, gotong royong kurang, ketersediaan air sawah kurang.


Sharing dari Narasumber mengengenai solusi:
no
Kegiatan
Cara melaksanakan
waktu
1
Training managemen waktu menjawab soal waktu dan peran
Pelatihan sehari bekerja sama dengan PSE dab Carutas

2
Serial diskusi tentang penguatan kelompok tani, mengusulkn legal formal kelompok tani,susun ad,art, RK, pembuatan proposal
Fasilitator, FGD, CKK

3.
Penyusunan Modul bersama tentang budidaya padi di layan basah
Bekerja sama dengan BPP/PPL

4
Konsultasi tentang mendisign pengaturan Irigasi
Konsultasi dengan dinas PU

5
Serial diskusi ethos kerja
Fasilitator/FGD




Proses pembentukan kelompok:
Terbentuk 4 kelompok tani yaitu kelompok:

I. Kelompok Bujang Perintis:
Ketua: Idi
Sekretaris: Ludang
Bendahara: Yohanes Terang
Anggota: Sriyanto, Santo, Daud, Aphen, Ripin, Akion, Ferry, Damli Ali, Perikan, Yo.

II.Kelompok Bujang Betuah:
Keetua: Mario Vianey Lohok
Sekretaris: Albertus Dol
Bendahara: Antonius Ayok
Anggota: Sucin,Minan, Alpendi, Idom, Samat, Taja, Arnold, Konsen

III.Kelompok Batu Belawang
Ketua: Stefanus Saiful
Sekretaris: Aboi
Bendahara: Kasman
Anggota: F.Asak, Markus, Sebek, Anto, Takim, Gondon, Yusuf,

IV.Kelompok Tanjung Bujang:
Ketua : Daniel
Sekretaris: Umit
Bendahara: Honda
Anggota: Aciap, Iwan, Ulis, Apit, Dina, Misah, Hendrikus Sara, Ola, Ami, Iya

Penyusun rencana kerja bersama kelompok untuk 1 th

                 Ketua                                                                                               Notulis

     Markus Oyen                                                                                        Yoh. Budin   



TEASER VIDEO :

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com