Kamis, 28 September 2017

“BUAH MANIS” HASIL PETANI TANAMAN HORTIKULTURA


Mengapa tanaman hortikultura ?
Kegiatan petani hortikultura   lahir bermula dari kegelisahan yang di alami para petani tradisional di Laman Satong terhadap kondisi  ekonomi keluarga yang semakin sulit dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat dari  suplai bahan pangan (seperti sayur mayur dan buah-buahan ) dari luar. Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi tersebut  maka  dari 10 penerima manfaat program HEF muncullah kesadaran kolektif  sekitar 6 kepala keluarga  memulai  usaha tani tanaman muda (hortikultura) yang dikelola secara serius dan  menetap.

Transformasi dari system ladang ke tanaman hortikultura sistim menetap berkelanjutan
Sentra lokasi tanaman petani berjarak sekitar  8-10 km dari perumahan, yang masih berhutan murni dan tanahnya subur. 6 KK  mengawali usahatani hortikultura  dengan membuka lahan diawali ditanami padi . Pasca panen tanaman padi dilanjutkan dengan usahatani tanaman hortikultura untuk orientasi pasar.
Selanjutnya lahan bekas ladang tersebut dikelola dengan system intensif dan menetap dengan mengembangkan komoditas hortikultura  yang memiliki segmen pasar, seperti pisang, jagung, cangkok manis, terong, cabe, tentimun, dan papaya.
Petani tanaman hortikultura membuka lahan untuk budidaya tanaman hortikultura  20 tahun lalu, lebih dulu dari  perusahaan perkebunan kelapa sawit P. KAL (Kayong Agro Lestari) dan group PT.  BGA.  Masuknya koorporasi tersebut  tak terelakan terjadi “ gesekan” dengan petani hortikultura tentang rencana ekspansi lahan kelapa sawit. Kelompok petani hortikultura tidak menjual  lahan dan lokasi tanaman hortikultura mereka kepada koorporasi. “ Lahan kami hanya ini yang masih ada, luas wilayah di wilayah desa Laman Satong hamper 75% telah dikonversi untuk usaha koorporasi yang berbasis lahan dan hutan,” unggap ketua kelompok tani hortikultura, pak Paulus Pau, sambil mengenang perjuangannya mempertahankan lahannya.
Masuknya PT. KAL, sebagai koorporassi yang mengembangkan kelapa sawit yang berbatasan langsung  dekat lokasi petani hortikultura, disamping berdampak negative, tetapi disisi lain memberikan peluang yang baik bagi usahatani hortikulura. PT. KAL mempunyai  lebih 1000 an karyawan yang tinggal di perumahan perkebunan.

“Saat ini tentang pemasaran hasil dari komoditas tanaman hortikultura yang kami budidayakan tidak ada masalah, bahkan kalau musim panen, dalam satu hari kami dapat ‘meraih’ (menjual) 3 kali ke konsumen dari karyawan perusahaan dan selalu habis!” ungkap  pak Lambat dengan semangat.

Peningkatan Kapasitas dan pengelolaan petani hortikultura

Sejak Maret 2017 kelompok tani hortikultura dan kelompok tani tanaman padi di dampingi oleh CKK bekerjasama dengan HEF(Kedutaan Besar New Zealand). “ Intervensi kita  adalah meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usahataninya agar lahirnya petani yang adaptif terhadap perubahan kondisi iklim dan sumber daya alam, inovatif dan resilen,” ungkap Markus Oyen, coordinator program. Berdasarkan data assessment lapangan CKK per Agustus ,income rata-rata per bulan  dari penjualan hasil komoditas tanaman hortikultur berkisar Rp. 1.500.000,- Rp. 3.2500.000,- (MOY)
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com