CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Senin, 06 Juni 2016

Secara Prinsip PemDes Mau Mendukung KSM

Kepala Desa Kualan Hulu Yulius Sedan (Kiri)
Testimoni KaDes Kualan Hulu, 31/5/2016

Kepala Desa Desa Kualan Hulu, Yulius Sedan sangat senang dengan adanya pendampingan Caritas kepada masyarakatnya di Kontok dan Jangat. 
"Desa sangat membutuhkan pelayanan masyarakat seperti ini karena pelan-pelan bisa mengubah karakter dan pola pikir masyarakat yang kurang maju,” tuturnya di depan koordinator. Di lain sisi beliau menyayangkan masyarakat yang didampingi kurang sadar pentingnya mengembangkan komoditi baru bagi keluarga seperti karet unggul dan tanaman pekarangan. Menurutnya “Padahal pada masa-masa krisis ekonomi karet lokal yang menjadi andalan selama ini harganya tidak memadai, masyarakat tahunya bersungut-sungut kepada toke pengepul dan pemerintah. Ini kan masalah global sulit cari solusinya. Yang penting sekarang adalah dari kita bagaimana mengembangkan mata pencarian yang sudah ada. Kakao misalnya per kilogramnya 10 ribu kalau jual basah kering 12 ribu.”

Dia juga menyebutkan program Caritas membangun kapasitas masyarakat dalam pengembangan livelihood sebenarnya selaras dengan peraturan desa melarang masyarakat berladang rimba, karena model kerjasama dengan KSM adalah contoh alternatif cari makan tidak merusak hutan. Lewat kelompok semakin kuat basis pemilik hutan menjaga tembawangnya masing-masing.  Sekali lagi kades ini menyesalkan tabiat pengurus KSM yang selama ini hanya berkonsultasi soal rekomendasi proposal dan SKT saja. Dalam forum tertentu semisal dilibatkan dalam musrenbangdes kurang mau bersuara. "Saya sebagai kepala pemerintahan desa harus mendengar suara dari bawah sehingga pembangunan merata di semua RT dan semua dusun.”

Walaupun demikian beliau masih menunjukkan komitmennya kepada KSM. “Dalam anggaran dana desa tahun 2017 telah dianggarkan dana pengembangan kelompok atau pos pemberdayaan masyarakat ±10 juta per kelompok. Dana ini bisa digunakan untuk mendukung program kerja tahunan KSM dan harus membuat laporan pertanggungjawaban kepada desa,” ujarnya ketika ditanya soal keberlanjutan KSM UK dan KSM KJK. Dia juga menambahkan, “Secara prinsip pemdes mau memfasilitasi pembelian bibit karet unggul dari KSM untuk kebutuhan masyarakat lain di desa Kualan Hulu daripada mengajukan ke DisbUn, dan itu bisa dianggarkan dari dana desa. Tapi sayangnya masyarakat tidak ada yang minat.”

“Saya pernah membeli 80 stum hasil okulasi sendiri dari salah satu anggota KSM UK per batangnya 6 ribu rupiah. Ini menandakan bahwa mereka sudah pandai okulasi sebenarnya,” ujarnya dengan senyum. Tidak lupa juga ia menyampaikan pesan kepada Caritas agar tidak bosan-bosan memotivasi masyarakat atau KSM walau pun sudah habis masa kontrak pendampingan.

Kami Berharap Caritas Mau Mendampingi KTPR

Frimus Ringk (kanan) adalah ketua Kelompok Tani Pali Raya (KTPR)
Testimoni Frimus Ringk, unbenef Jangat & Kontok, 30/5/2016

Frimus Ringk adalah ketua kelompok tani baru di desa Kualan Hulu yang sudah dibentuk November 2015 lalu. Nama kelompok ini adalah Kelompok Tani Pali Raya yang beranggotakan 10 orang, dan tertarik minta didampingi oleh Caritas seperti KSM. Kelompok ini merasakan benar, bahwa dengan adanya wadah kemasyarakatan bisa mengakses kue pembangunan untuk membangun kampung dan masyarakat seperti KSM UK dan KSM KJK lakukan bersama warga.

Ketua Kelompok Tani Pali Raya (KTPR) ini pernah berkonsultasi dengan fasilitator Caritas tentang bagaimana membangun kelompok dan bagaimana cara kerjanya. Diam-diam kelompok ini bergerak sejak enam bulan lalu, mereka sudah punya rencana kerja seperti iuran rutin per anggota 5000 per bulan, membangun lahan demplot dan terintegrasi kolam ikan didalamnya, dan sudah menyusun proposal pengadaan bibit ikan air tawar ke Dinas Perikanan dan Kelautan. Sekarang pengurus sedang mengajukan kelompok tani  ke desa untuk diakui. Frimus berharap walaupun Caritas tidak ada program mendampingi kami, semoga ke depan bilamana kami memerlukan kerjasama untuk memfasilitasi menyusun AD/ART dan cara melakukan monitoring evaluasi itu bisa dilakukan.   

Tertarik Dengan KSM Tapi Tidak Mau Terikat

Rian (paling kanan)
Testimoni Rian, nonbenef Sei Bansi, 30/5/2016. 

Rian adalah salah satu putra Sei Bansi yang sejak tahun 2013 lalu pulang merantau dari Jakarta. Kondisi fisik mata sebelah kirinya rusak tidak bisa melihat lagi dan terpapar karena pengaruh polusi udara yang kotor. Semenjak tinggal di kampung, mata kirinya tidak lagi terasa perih dan sedikit bisa melihat walau agak rabun. Selama di kampung ia kembali beraktifitas seperti teman sebayanya, membantu orang tua di ladang dan menoreh.

Sejak April 2016, ia mulai tertarik dengan KSM tapi tidak mau bergabung karena tidak mau terikat. Ia lebih memilih mengamati dan mengenal kegiatan dari jauh. Sesekali ia nyemplung bersama KSM karena diajak oleh fasilitator Budin. Bersama Budin, Rian banyak belajar dan mengenali kondisi KSM yang memprihatinkan menurutnya.

Ia sangat menyayangkan atas perilaku para anggota KSM yang tidak serius, Ia menyampaikan keprihatinannya dalam wawancara kepada tim Caritas “Ini pendidikan gratis, KSM menyia-nyiakannnya. Tidak kompak dan tidak serius lagi.” Dia juga menambahkan, “Saya baru beberapa bulan bergaul dengan Budin, sudah merasa pengetahuan saya bertambah sebagai penerima manfaat dan pendamping karena pernah menemani Budin mengajari Iyau okulasi.”

Fasilitator Harus Sabar Mendampingi Masyarakat

Testimoni Tamin, nonbenef Sei Bansi, 30/5/2016

Tamin adalah seorang PNS mengajar di Sekolah Dasar Negeri 9 di Sei Bansi. Bapak 3 anak ini pernah mengikuti kegiatan pengkajian livelihood partisipatif yang diselenggarakan oleh Caritas pada 2012 lalu. Ia mengakui program promosi livelihood yang dikelola oleh masyarakat adalah model baru di tempat mereka. "Pilihan masyarakat adalah karet waktu itu, bagi saya itu cocok sebenarnya dengan komoditi masyarakat di sini." Perkembangan KSM menurutnya akhir-akhir ini  "Anggota kurang disiplin berkegiatan dan tidak kompak, jadi kita harus sabar,” saran Tamin kepada fasilitator.

Apalagi masyarakat setelah panen padi, “Mereka sering membuat acara gawai pesta adat sendiri, ada yang mau menikahkan anaknya, ada yang mau syukuran, dan macam-macam, keadaan ini bisa mempengaruhi anggota KSM terganggu kegiatannya. Pak Budin bisa lihat sendiri, bulan Mei ini sudah ada 4 kepala keluarga melakukan pesta adat,” Tamin menambahkan.

Saya & Tetangga Diam-Diam Melakukan Tanaman Muda Juga

Testimoni Tilen, nonbenef Giet, 31/5/2016. 

“Sejak awal KSM dibentuk, istri saya pernah ikut membantu membuka lahan demplot entres, tapi karena sering alpa tidak hadir di kegiatan berikutnya. Malu juga mau bergabung. 

Menurut saya, kelompok ini bagus dan memberi warna pembangunan Giet yang agak berbeda, saya lihat segala rencana harus disusun bersama dan di evaluasi bersama. Saya berharap dusun bisa begitu agar kampung ini lebih maju lagi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pun banyak manfaatnya, seperti sayur pekarangan bagi saya dan beberapa tetangga diam-diam melakukannya juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada harus merogoh kocek untuk mamang motor  penjual sayur yang sering kemari, “ kata Tilen.

Saya Pernah Belajar Okulasi Dengan KSM

Cingkong (kanan)
Testimoni Cingkong, nonbenef Giet, 30/5/2016. 

Cingkong adalah warga Giet yang sering mengikuti beberapa kegiatan yang sering diadakan oleh KSM mau pun Caritas di Giet. Ia pernah mengikuti pengkajian awal CMLP phase I yang dikenal dengan  study kelayakan livelihood patisipatif (SKLP), dan kegiatan royong dan rapat KSM. 

Ketertarikannya mengikuti dan mengamati kegiatan KSM adalah praktek budidaya karet unggul. Alasannya tidak mau menjadi anggota KSM, karena “saya tidak mau terikat saja,” ujarnya. Dia juga menambahkan, “Sedikit-sedikit saya bisa okulasi karena sering bertanya kepada anggota KSM dan sesekali bertanya dan minta diajari oleh fasilitator Jely,” katanya dengan bangga.


Istriku Tidak Pernah mengeluh Soal KSM

Liter (kanan)
Testimoni Liter, KSM KJK, 30/5/2016

“Botuh mai baginset gunong mai barubah joran mai mati ka onyan ping mai mati ka dorit.” 

Demikian ungkapan hati seorang ketua KSM KJK kepada Mekar di forum simulasi rapat. Artinya “Dia tetap berjuang keras dengan segala daya yang ada pada dirinya untuk melakukan pekerjaan keluarga dan KSM, seperti menanam karet, nanam sayur, menafkahi anak istri, memimpin organisasi dan keluarga.”

Pengalamannya di KSM, “Seringkali saya merasa tidak enak hati kepada istri kalau pulang malam rapat KSM. Namun ia tidak pernah marah dan mengajak segera tidur karena besok subuh harus bangun awal berangkat menoreh,” ceritanya dengan sambil tertawa kecil. “Sebenarnya istri saya tidak pernah mengeluh soal kegiatan KSM. Bahkan beberapa waktu ada kesempatan ia membantu saya menanam di kebun sayur dan menebas di kebun karet unggul kami,” katanya menambahkan. 

Ketika diwawancarai, Istrinya Ernawati juga menyampaikan soal kebun karet unggul milik mereka di samping rumah “Baru kali ini rasanya punya kebun karet unggul yang terawat dan tertanam berjarak rapi. Saya marah juga kepada suami saya hanya tanam 135 pohon saja. Coba tanam banyak dari awal padahal batang bawah masih ada ± 520 lagi,” tuturnya sedikit kesal.

Saat sedang wawancara Liter menutupi kekesalan istrinya dengan menyampaikan bahwa “Ada juga untungnya setelah ber-KSM. Ada rasa sulit, tapi saya merasa setara dengan yang lainnya. Banyak pengetahuan yang diperoleh seperti cara buat proposal dan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Caritas,” ujarnya dengan bangga.

Royong KSM Sangat Membantu Meringankan Beban

Testimoni Adeng, KSM KJK, 30/5/2016.

Pak Adeng dikenal cukup kritis dan suka berpendapat pada saat di forum rapat. Walaupun usianya lebih tua dibandingkan anggota KSM lainnya sebenarnya beliau rendah hati dan baik hati. Dia sering menolong temannya saat royong okulasi dan mengingatkan teman-temannya agar tidak ketinggalan menanam karet. 

Menjelang akhir pendampingan Caritas beliau sudah menanam 356 pohon karet unggul di lahan pribadinya Mei ini. Dan, dalam 6 bulan terakhir sudah menikmati hasil pekarangannya sudah dua siklus (penanaman—pemeliharaan-panen). Sebagian ditabung sebagian lagi dibelanjakan untuk kebutuhan dapur dan jajan cucunya.

Saat diwawancarai Mekar apa yang berubah baik pada dirinya selama berKSM & didampingi Caritas, ia menjawab dengan semangat “Rasanya tambah senang saja. Kami bisa saling mengisi, cita-cita punya kebun karet unggul tercapai, royong KSM sangat membantu meringankan beban.” Katanya lagi “Saya akui sebagian besar anggota KSM KJK memang kurang solid. Sudah beberapa kali rapat evaluasi bersama Caritas selalu muncul kata kodal. Tapi bagi saya tidak tersinggung dan itu benar bagi anggota yang tidak punya komitmen baik. Tapi beberapa teman yang sepaham dengan saya sangat yakin semua ini akan berbuah manis nantinya jika dikerjakan dengan serius.”

Kebersamaan DI KSM Sangat Terasa Baik

Testimoni Ebun,KSMUK,30/5/2016. Emilianus Ebun dan Yustina Jemai saat dikunjungi Media Caritas (MeCar) sedang santai diteras, suaminya adalah seorang pandai mekanik sedang menservis sinso sebagai pekerjaan sampingan keluarga. Keluarga ini menurut laporan data tabulasi Mei telah berhasil melewati target menanam 646 pohon karet unggul di lahan sudah mencapai 777 pohon. 


Kepada MeCar Ebun bercerita selama berKSM “kebersamaan terasa baik, pengetahuan bertambah tentang karet, berorganisasi, PERT, dan tanaman muda sepanjang musim. Berkat keuletan saya mengokulasi, pernah 3 orang tetangga saya (Moni,Pino,Dading) belajar okulasi beberapa kali tapi sayang mereka tidak serius menyiapkan batang bawah sendiri.

Saya Mendapat Pengalaman Yang Luar Biasa di KSM

Cintult Sedang diwawancarai oleh tim MeKar
Testimoni Cintult,KSM UK,30/5/2016. Selama menjadi ketua KSM, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa memimpin teman-teman, keluarga dan diri saya sendiri. “Manfaat yang dirasakan diantaranya adalah tahu cara membangun komunikasi dan jejaring dengan pihak luar, mengidekan iuran dan tanaman kakao untuk operasional KSM, tukar pengalaman cara berorganisasi, dan terakhir saya dipercayakan Caritas Internasionalis mewakili Carina mengikuti pertemuan pertukaran pengalaman antar petani organik se asia,” ungkap Cintult dengan percaya diri.


Pengalaman lain di KSM istrinya (Sedia Tersila) menambahkan “Pikiran terbuka dan menambah pengalaman saya karena sering mengikuti kegiatan KSM, saya juga bertukar pikir/berkomunikasi dengan beberapa ibu KSM lainnya tentang info baru seputar KSM beserta manfaatnya bagi keluarga. Pengalaman ABK juga mengesankan, manfaatnya bagi saya dan suami adalah belanja lebih terkendali dan terobsesi harus surplus setiap bulannya, walau pun kami sering tidak rutin mencatat, tetapi secara prinsip kami tetap harus berkomunikasi dan terbuka soal keuangan.”
Husen mengangkut bibit stum hasil okulasinya sendiri
Testimoni Husen,KSMUK,31/5/2016. “Saya mendapatkan pengalaman baru dalam berorganisasi kemasyarakatan yang belum saya temui di dusun dan desa, lewat KSM ada perencanaan dan monitoring bersama, mampu mengarahkan anggota, menyusun proposal bersama, dan masih ada lagi yang lain, ujar Husen kepada MeKar. Husen menambahkan lagi “Yang jelas sebelum berKSM saya sendiri tidak tahu apa itu RK dan bagaimana menyusunnya tidak tahu, tapi setelah di KSM saya menjadi paham dan bisa.”  Pengalaman di karet “Saya dapat mengajak keluarga merawat karet dan pekarangan bersama istri dan anak ke kebun, saat kerja kami semakin akrab, mau berbagi dan terbuka selain soal karet. Istri saya semakin paham dan mendukung saya berkegiatan di KSM.”

Dapat Ilmu Gratis & Banyak Kawan Membantu Di KSM

Akun (paling kanan)
Testimoni Akun,KSMPB,30/5/2016. Saat diwawancarai Media Caritas, Akun mengakui pengalamannya tentang karet bahwa “seleksi & pembibitan saya bisa, penanaman dan perawatan di polibag mau pun di lahan saya bisa, tapi yang paling sulit  rasanya adalah okulasi, saya baru berhasil okulasi sendiri 31 pohon selama ini...sedikit ya.” Dia juga menambahkan “fasilitator CKS pernah bilang bahwa okulasi itu susah susah gampang tapi perlu latihan untuk mengasah ketrampilan, jadi wajarlah kalau saya hanya bisa sedikit, tapi selama didampingi Caritas saya dapat ilmu gratis dan banyak teman yang bisa membantu.” Katanya lagi “untung KSM kami berhasil ngajukan bantuan bibit dari DisbUn, kalau mengandalkan hasil okulasi sendiri, mungkin saya belum memiliki 450 pohon karet unggul yang sudah ditanam di lahan ± 1 Ha.


Selama BerKSM Saya Merasa Terbantu

Testimoni Iyau, KSMPB,30/5/2016. “Belum genap 1 tahun atau ± 6 bulan saya bergabung di KSM, sudah banyak manfaat yang saya rasakan,” demikian Iyau menjawab pertanyaan dari tim Caritas. Dengan senyum sambil makan sirih  ia menjelaskan pengalaman menariknya “ sejak berKSM ada royong membantu saya menanam 450 pohon karet unggul di lahan seluas ± 0,6 ha, saya bisa mengokulasi sendiri 124 batang bawah, pengalaman baru menanam sayur di pekarangan dengan cara bedeng dan cangkul.” Belum sempat tim menanayakan tentang hal lain, ia menambahkan “saya bersyukur setelah berKSM ada rasa kebersamaan, berat jadi ringan, dan ada pendampingan Caritas menolong kami, sayur tidak membeli.”

Berkat Tanaman Muda Istri saya Sudah Beberapa Kali Menabung

Tulin (tengah)
Testimoni Tulin,KSMPB,30/5/2016. Ketika diwawancarai oleh tim caritas dengan gaya khasnya pegang rokok tembakau tepek pak Tulin mengisahkan pengalaman baiknya selama berKSM, “Berkat tanaman muda, istri saya sudah beberapa kali menyimpan uang di celengan dari hasil jual sayur, kami tidak perlu lagi membeli kepada orang lain, “ katanya.


Di kegiatan karet dia mengakui, “baru menanam 129 pohon dari DisbUn di lahan, walaupun saya punya  344 batang bawah, tapi banyak gagal setelah diokulasi sendiri, banyak teman membantu itu pun gagal juga, menurut saya, mungkin saya yang kurang kuat berusaha untuk memperbaiki cara okulasi dan belajar menerima saran dari teman-teman yang sudah berhasil,” ungkapnya dengan sedikit kecewa.(MEKAR)

Menjadi Contoh Bagi Anak-Anak Didik Saya

Testimoni Atam,KSMSPA,31/5/2016. Sebagai bendahara di KSM, Atam juga menjabat sebagai guru honor di Sekolah Dasar Negeri 22 di Giet. Partisipasinya membangun kampung ditekuninya lewat menjadi pendidik dan pegiat kelompok swadaya masyarakat. Dia menyampaikan apa sumbangsihnya di kampung Giet sebagai contoh bagi murid-muridnya dan masyarakat sekitarnya;  “sebelum mulai menggerakan orang lain, saya melatih istri saya agar cakap dan rutin mencatat pengeluaran dan pemasukan kami setiap bulannya, saya harus menjajakan hasil tanaman pekarangan dan ladang kami ke ibukota kecamatan, sudah punya tanaman karet unggul 400 pohon, selalu menjaga amanah anggota KSM sebagai bendahara dan selalu terbuka.” (MEKAR)

Sejak BerKSM Pengalaman Saya Bertambah

Testimoni Pede,KSMSPA,31/5/2016. “Selama berkelompok saya mendapat banyak tukar pikiran/pengalaman dengan teman, terutama tentang cara okulasi karet dan bertanam sayur. Hasil okulasi saya sendiri sudah mencapai 385 ditambah lagi 192 dari DisbUn. Saya punya lahan seluas ± 1,9 Ha dengan isi 577 pohon karet unggul. Menurut saya okulasi berhasil memang harus rajin meluangkan waktu melakukannya, karena dengan demikian akan banyak pengalaman teknis sendiri muncul menjadi pembelajaran sendiri, misalnya kalau mau okulasi lihat keadaan cuaca dulu, kondisi keseharan kita harus fit, alat yang digunakan cukup dan steril saat okulasi, cara ambil mata entres juga harus benar dan hati-hati dari keringat kita, dan situasi lingkungan bedeng bawah juga harus bersih jangan ada banyak gulma tumbuh tinggi mengganggu aktifitas okulasi, dan lain-lain.”(MEKAR)

Setelah ABK: 20 Bungkus Cakra Menjadi 7 Bungkus Per Bulan


Santus (kiri) dan Cingkong (kanan)
Testimoni Santus,KSMSPA, 30/5/2016. Santus bergabung dengan KSM SPA sejak November 2013, ia mengakui bahwa tidak semua kegiatan KSM ditekuninya dengan baik kecuai program anggaran belanja keluarga (ABK). Sejak keluarganya serius melakukan pengelolaan ekonomi rumah tangga (PERT) dengan mencatat pengeluaran dan pemasukan secara rutin, terasa ada perubahan keuangan menjadi stabil tiap bulannya. Seringkali ia melihat dan menilai catatan keuangan bulanannya, membuatnya semakin tahu cara mengatasi masalah keuangan. “Sebelum terap PERT saya bisa merokok cakra 2 slop atau 20 bungkus per bulannya, setelah menyadari saya hanya 5-7 bungkus per bulannya. Dengan demikian, saya bisa menghemat uang dari selisih 13 bungkus dikalikan 8 ribu adalah 104 ribu untuk jajan anak saya,” ujar Santus. (MEKAR)

BELAJAR UNTUK MANDIRI DAN UNTUK PERUBAHAN


Udengk merupakan Sosok Anggota yang pantang meyerah untuk jadi petani.  “Kalau tidak kekebun terasa ada yang kurang” kata pak Udengk yang merupakan salah Satu anggota aktif yang senang punya kesibukan untuk berkebun. Dia juga mengatakan merawat tanaman itu tidak mudah, karena harus mengendalikan hama, penyakit dan juga lahan harus bersih dari gulma tapi sangat menyenangkan. Setiap pagi dan sore saya membersihkan lahan penanaman, dan saya menggunakan waktu yang luang dan rutin untuk berkebun, sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan tambahnya. Dia menambahkan lagi, Sekarang saya juga sudah memahami cara bercocok tanam dan cara mengatasi hama dan penyakitnya  sehingga kalau nanti tidak ada fasilitator mendampingipun saya akan tatap terus melanjutkan untuk berkebun dan akan menggunakan ilmu yang sudah saya dapat dari Fasilitator.
 Demikian juga dengan pak Lawan yang merupakan anggota aktif di KSM Siling Pancor Aji. “Saya mulai bergabung dengan KSM Siling Pancor Aji setelah ada bantuan bibit karet dari Dinas Perkebunan” kata Pak Lawan. Tambahnya lagi, Sekarang saya sudah menanam 567 batang, kemudian yang baru di Okulasi 87 batang, harapannya setelah program dari Caritas Keuskupan ketapang berakhir saya sudah bisa menanam paling tidak 600 batang dan sekarang saya juga sudah mulai membuat ladang yang nanti juga akan saya tanami karet unggul, walaupun saya anggota baru tapi tidak mau kalah dengan anggota lama. Dia juga mengatakan selain menanam karet unggul dia juga menanam tanaman sayur dipekarangan. Dengan ada sayuran dipekarangan ketika mau memasak tinggal ambil saja dan tidak perlu beli tambahnya. Selain dimakan sendiri bisa dibagi-bagi ketetanga dan juga bisa dijual tutupnya.

Selain Pak Udengk dan Pak lawan, di KSM Pateh Banggi juga ada pak Inyau yang juga mempunyai kometmen untuk berkembang. Saya sekarang sudah menanam 450 batang karet unggul, tapi ini saya masih menanam bibit karet unggul yang dari dinas Perkebunan, dan yang hasil okulasi sendiri baru 124 batang dan belum saya tanam dan saya akan tanam sebelum bimbingan Caritas Keuskupan Ketapang Berakhir. Dia juga menambahkan, saya selalu merawat karet unggul yang sudah ditanam, dan saya menggunakan waktu luang untuk merawatnya. Saya selalu melakukan apa yang diintruksikan oleh Fasilitator, agar apa yang saya lakukan tidak sia-sia. Selain menanam karet unggul saya juga menanam  sayuran dibelakang rumah, harapannya bisa untuk konsumsi sendiri dan juga untuk dijual. Saya akan terus belajar karena apa yang saya tanam saat ini untuk saya sendiri dan bukan untuk orang lain tutupnya. (BUDIN)

Sang Agen Pembelajar Dari Kontok

Lagi-Lagi Emilianus Ebun menuai sukses dengan karet unggulnya bulan Mei ini. Dari 25 anggota KSM dialah yang paling unggul telah menanam 777 pohon dari targetnya sendiri 646 yang tercatat di kartu motivasi. Teman KSMnya Danus, Cintult, Anyan, Emin salut dengan semangatnya. Hebatnya lagi beberapa teman bukan anggota KSM pun termotivasi karena dia. Salah satunya diantaranya adalah Lampu namanya, geram dengan pertumbuhan karet unggul Ebun yang subur kepingin juga ia mau punya kebun seperti itu. Menurutnya “Ebun adalah orang yang ulet dan sabar dan juga pantang menyerah/belum berhenti kalau mengerjakan sesuatu belum berhasil.” Karena kepinginnya tadi, “Lampu mulai membuka lahan untuk kebun karet unggulnya, sekarang sudah masuk tahap land clearing, musim biji karet jatuh nanti dia akan mulai belajar dengan KSM untuk pembibitan sampai penanaman,” ujar Lampu.

Saat fasilitator mengunjungi lahannya, Ebun dan teman-temannya sedang royong menanam. Wajar saja dia bisa menanam banyak di lahan, kakek satu cucu ini punya stok 1.525 batang bawah lagi yang layak okulasi, bulan April lalu hasil okulasi 115 sudah tertanam Mei ini. Faktor keberhasilan okulasinya adalah “Sengaja melibatkan 6 temannya yang pandai dan benar-benar paham sekali mengokulasi dan tidak perlu banyak orang royong,” katanya. Cara ini sangat efektif dan bisa jadi pembelajaran bagi anggta KSM lainnya. “Merasa jadi panutan dan juga menjabat sebagai bendahara KSM, Ebun berusaha mendorong anaknya Margono untuk melakukan hal yang sama agar anaknya juga belajar membangun asetnya sendiri alias mandiri dan tidak hanya mengandalkan warisan dari orang tua,” kisahnya kepada fasilitator. Jemai istrinya juga mendukung niat tersebut agar Margono anaknya mulai menanam. Di lain waktu Margono pernah bercerita kepada pamannya Loren bahwa “ Ia sadar sudah punya anak dan istri mumpung masih muda akan meniru apa yang telah ayahnya lakukan demi masa depan.”  (ADI)


www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com