CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Kamis, 28 September 2017

RESILIENSI WARGA TANJUNG PASCA BENCANA BANJIR

Pasca bencana banjir bandang di Tanjung 29/8, "ada 14 KK kehilangan tempat tinggal, diantaranya 3 rumah hanyut dan sisanya rusak berat," jelas Mimi tim relawan posko ketika ditanya dalam rapat FGD identifikasi masalah & rencana kontigensi 25/9. Hasil kajian 2 identifikasi korban 10/9 oleh Caritas Keuskupan Ketapang dan Caritas Indonesia serta tim posko Tanjung juga menemukan kapasitas yang masih dimiliki oleh warga adalah mereka masih punya kebun untuk menyadap terutama bagi ibu janda atau rumah tangga yang tidak jadi buruh perkebunan sawit, sebagian dari mereka masih punya tabungan di Credit Union Gemala Kemisiq untuk modal berusaha. Namun mereka dalam 3 bulan kedepan (oktober-des) masih trauma takut banjir datang lebih besar lagi karena masa itu adalah masuk awal musim penghujan seperti peristiwa tahun biasanya. Banyak warga terutama para ibu rumah tangga dan anak yang sengaja belum mengemas kembali pakingan barang dalam karung mau pun kantong dan tas.

Situasi lain juga menunjukan adanya pembangunan kembali jembatan darurat penghubung antar dua desa, jembatan penghubung kerapkali dipakai antar warga desa Tanggerang mau pun desa Teluk Runjai sebagai jalan transportasi umum dan jalan menuju usaha tani. Namun di tempat lain dibagian hilir dua desa tadi belum ada jembatan darurat yang dibanagun, tampak aktifitas anak sekolah terpaksa menyebrang dengan meniti dahan dahan dan batang pohon besar yang melintang di sungai Jelai tersebut.(Papin)



“BUAH MANIS” HASIL PETANI TANAMAN HORTIKULTURA


Mengapa tanaman hortikultura ?
Kegiatan petani hortikultura   lahir bermula dari kegelisahan yang di alami para petani tradisional di Laman Satong terhadap kondisi  ekonomi keluarga yang semakin sulit dan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat dari  suplai bahan pangan (seperti sayur mayur dan buah-buahan ) dari luar. Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi tersebut  maka  dari 10 penerima manfaat program HEF muncullah kesadaran kolektif  sekitar 6 kepala keluarga  memulai  usaha tani tanaman muda (hortikultura) yang dikelola secara serius dan  menetap.

Transformasi dari system ladang ke tanaman hortikultura sistim menetap berkelanjutan
Sentra lokasi tanaman petani berjarak sekitar  8-10 km dari perumahan, yang masih berhutan murni dan tanahnya subur. 6 KK  mengawali usahatani hortikultura  dengan membuka lahan diawali ditanami padi . Pasca panen tanaman padi dilanjutkan dengan usahatani tanaman hortikultura untuk orientasi pasar.
Selanjutnya lahan bekas ladang tersebut dikelola dengan system intensif dan menetap dengan mengembangkan komoditas hortikultura  yang memiliki segmen pasar, seperti pisang, jagung, cangkok manis, terong, cabe, tentimun, dan papaya.
Petani tanaman hortikultura membuka lahan untuk budidaya tanaman hortikultura  20 tahun lalu, lebih dulu dari  perusahaan perkebunan kelapa sawit P. KAL (Kayong Agro Lestari) dan group PT.  BGA.  Masuknya koorporasi tersebut  tak terelakan terjadi “ gesekan” dengan petani hortikultura tentang rencana ekspansi lahan kelapa sawit. Kelompok petani hortikultura tidak menjual  lahan dan lokasi tanaman hortikultura mereka kepada koorporasi. “ Lahan kami hanya ini yang masih ada, luas wilayah di wilayah desa Laman Satong hamper 75% telah dikonversi untuk usaha koorporasi yang berbasis lahan dan hutan,” unggap ketua kelompok tani hortikultura, pak Paulus Pau, sambil mengenang perjuangannya mempertahankan lahannya.
Masuknya PT. KAL, sebagai koorporassi yang mengembangkan kelapa sawit yang berbatasan langsung  dekat lokasi petani hortikultura, disamping berdampak negative, tetapi disisi lain memberikan peluang yang baik bagi usahatani hortikulura. PT. KAL mempunyai  lebih 1000 an karyawan yang tinggal di perumahan perkebunan.

“Saat ini tentang pemasaran hasil dari komoditas tanaman hortikultura yang kami budidayakan tidak ada masalah, bahkan kalau musim panen, dalam satu hari kami dapat ‘meraih’ (menjual) 3 kali ke konsumen dari karyawan perusahaan dan selalu habis!” ungkap  pak Lambat dengan semangat.

Peningkatan Kapasitas dan pengelolaan petani hortikultura

Sejak Maret 2017 kelompok tani hortikultura dan kelompok tani tanaman padi di dampingi oleh CKK bekerjasama dengan HEF(Kedutaan Besar New Zealand). “ Intervensi kita  adalah meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usahataninya agar lahirnya petani yang adaptif terhadap perubahan kondisi iklim dan sumber daya alam, inovatif dan resilen,” ungkap Markus Oyen, coordinator program. Berdasarkan data assessment lapangan CKK per Agustus ,income rata-rata per bulan  dari penjualan hasil komoditas tanaman hortikultur berkisar Rp. 1.500.000,- Rp. 3.2500.000,- (MOY)

Selasa, 12 September 2017

BANJIR TANJUNG MEMBAWA BERKAH

Suasana rapat koordinasi multi pihak bersama Uskup Ketapang
Banjir yang merendam 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu dan 5 Desa di Kecamatan Manis Mata membawa berkah bagi kita, di antaranya kita menjadi semakin  bersaudara, kita semakin  dibukakan mata terhadap  situasi  dan  lingkungan  bahwa  kita  memerlukan kesadaran baru, kita belajar berkomunikasi-berkoordinasi dan mengenali yang kita beri informasi. Kita diajak untuk mengingat kembali bahwa kita punya kekuatan seperti berdoa bersama, melakukan acara adat dan lain-lain. Demikian disampaikan oleh Mgr Pius Priana Prapdi, Uskup Ketapang dalam pertemuan koordinasi dengan berbagai stakeholders di sekretariat POSKO Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung, Kantor Desa Tanggerang, Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang, 11 September 2017.
Sebagaimana diketahui, Posko Kemanusiaan Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang memiliki Semboyan Bela Rasa 1 Rasa 1 Jiwa yang telah menarik perhatian dari berbagai pihak ini merupakan Posko yang pada awalnya digagasi oleh beberapa aktifis Paroki, Pemerintah desa Tanggerang dan desa Teluk Runjai, untuk menanggapi peristiwa banjir yang merendam setidaknya 1.712 rumah di 22 Desa Kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata, yang juga telah mengakibatkan putusnya jembatan Lamboi dan jembatan Tanjung, 7 rumah di Tanjung hilang, 4 rumah di Tanjung tumbang, 3 rumah di Tanjung rusak berat, 13 rumah di Tanjung rusak ringan.
POSKO ini dijalankan secara terorganisir dengan struktur relawan yang jelas apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga kepedulian para pihak terhadap kejadian ini dapat disalurkan secara tepat sasaran. Selain itu posko ini juga bekerja bukan hanya dalam kondisi tanggap darurat saja, tetapi sampai pada upaya-upaya rekonstruksi  dan  recovery.
Selain menyalurkan  bantuan, tim dibantu oleh Yayasan Caritas Keuskupan  Ketapang dan Karina (Karitas Indonesia) bekerjasama dengan tim dari Credit Union Gemala Kemisiq, menghimpun berbagai informasi untuk mengetahui menjadi penyebab maupun potensi atau kekuatan yang masih dimiliki oleh masyarakat, seperti bagaimana para korban bersikap dan bertindak pasca bencana, belajar dari kejadian ini, sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan untuk kondisi darurat, sumber daya manusia yang dapat diajak bekerjasama dan lain-lain. Dengan demikian akan mempermudah upaya mengajak masyarakat bangkit dan melakukan apa yang sebaiknya dilakukan ke depannya.
Sehingga setelah habis masa tanggap darurat berdasarkan NOTA PASTORAL Keuskupan Ketapang yang berakhir 12 September 2017, namun relawan akan terus melanjutkan upaya­upaya untuk terselenggaranya rekonstruksi dan recovery.
Dengan rencana ini maka komitmen dan kerjasama berbagai pihak sangat diharapkan, tanpa memandang siapapun kita. Kejadian ini cukup memberikan pelajaran berharga untuk melakukan perubahan, memperbaiki sikap dan cara hidup. Saatnya kita bekerjasama bukan saja hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk di bumi. Kita harus bekerjasama dengan alam. Bukan mengambil hasilnya saja, tapi kita juga mau menjaga, memelihara dan merawat alam yang menjadi sumber kehidupan. Sebelum mengakhiri pertemuan koordinasi, Uskup menegaskan bahwa Keuskupan Ketapang berkomitmen bahwa Keuskupan Ketapang ingin masyarakat bukan hanya sekedar kembali ke kondisi normal, tapi meningkat. Uskup juga mengingatkan bahwa ‘naga’ yang disebut­sebut sebagai penyebab terjadinya banjir itu merupakan simbol penguasa (kuasa punya aturan, kuasa menentukan apa yang mau dilakukan dan kuasa punya uang). Oleh sebab itu menurut Uskup Ketapang, kita harus menyuarakan apa yang menjadi hak hidup kita agar kita semakin bersaudara dengan  semua - bukan hanya dengan manusia tetapi dengan semua makhluk yang ada di alam.

Sekarang saatnya kita "BERUBAH" (sarvianus mimi)

RAPAT PENGKAJIAN FGD BENCANA BANJIR TANJUNG

Selasa, 12 September 2017, Tim Posko Paroki St Maria Assumpta Tanjung mengadakan rapat untuk membagikan pengalaman Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan tim enumerator (kajian data) untuk memverifikasi secara kualitatif data kuantitatif yang telah dihimpun oleh tim selama masa penanganan bencana banjir yang terjadi di bantaran sungai Jelai tempo hari (30/08/17). Proses yang dilakukan tim adalah masuk ke desa-desa terdampak dan bertemu dengan warga terdampak. Warga terdampak dikategorikan laki-laki dan perempuan dengan ketentuan peserta minimal sejumlah 12 orang. Pembedaan kelompok diskusi dengan kategori laki-laki dan perempuan ini dimaksudkan untuk membaca kebutuhan lebih cermat. 
Pendalaman data melalui FGD ini dilakukan di 8 Desa yang dipilih oleh tim berdasar wilayah bantaran sungai dan tingkat kemendesakan bantuan. Desa-desa tersebut adalah Pasir Mayang, Sidahari, Tanggerang (desa-desa bagian hulu anak sungai Kiri), Karangdangin, Riam Danau, Kesumajaya (desa-desa bagian hulu anak sungai Jelai), Deranuk (desa pertemuan dua anak sungai) dan Asam Jelai (desa bagian hilir sungai Jelai).
Mengenai informasi desa-desa yang berada di bantaran sungai Jelai, klik di sini.
Banyak hal yang menarik diungkapkan para warga yang terdampak bencana banjir ini. "Mereka seperti belum memiliki tempat untuk membuang beban perasaan yang mereka lakukan," kata Jurin salah satu tim kajian data FGD. "Karena pemerintah (tingkat kabupaten -red) sangat lambat dalam proses penanganan bencana ini, maka banyak warga yang merasa terbebani atas bencana ini," kata Danang, salah satu tim kajian data FGD. "Kebutuhan laki-laki dan perempuan jauh berbeda. Para laki-laki kebanyakan mengungkapkan kebutuhan yang mendesak mereka dalam peralatan teknis untuk bekerja dan bertani. Sementara itu, para perempuan lebih banyak mengeluhkan kebutuhan-kebutuhan peralatan dapur dan rumah tangga," tambah Danang. 
Seusai melakukan FGD, Liong Kun dan para tim kajian data lainnya membantu para korban bencana untuk mulai cermat mengamati terjadinya bencana. Mereka membuat garis tanda ketinggian air sungai pada salah satu rumah warga di Pasir Mayang yang posisinya paling rendah dan menempel bibir sungai. "Kami membuat garis ketinggian 50, 75, dan 100 centimeter dari tanah. Bapak yang ada di rumah itu mengevakuasi diri sejak air setinggi 50 cm dan akhirnya selamat karena akhirnya tak lama kemudian, sungai itu merendam seluruh rumah itu yang tingginya kira-kira 2,8 meter. Saya memberi tahu kepadanya bahwa kalau air sudah sampai ketinggian 50 cm meter di desa Pasir Mayang, desa Tanggerang harus mulai siaga. Ini berguna agar mereka yang hidup di pinggir sungai sepanjang sungai Jelai ini bisa saling berbagi kewaspadaan," kata Liong Kun.
Setelah berbagi cerita tentang FGD yang dilakukan, RD Ignasius Made sebagai Penanggungjawab Capacity Building meminta agar kesempatan ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi Tim Posko Paroki Tanjung untuk semakin mampu mencari data dengan cermat. Fredericus Sundoko, tim koordinator tanggap darurat Karitas Nasional, meminta agar semua data dikompilasi menjadi satu kesatuan informasi. "Apa yang kita lakukan dalam pendataan ini sangat bagus karena dari 214 responden kita, ada 58,4% responden perempuan, 26,2 % responden laki-laki dan  7,9% anak-anak perempuan, 7,5%, anak laki-laki. Ini berarti perhatian kita pada kebutuhan perbedaan gender cukup baik," kata Sundoko. Tim kajian data FGD melanjutkan dengan kerja kelompok untuk menyatukan data-data tersebut. (MoNdhan)



MERAH PUTIH BERKIBAR DI RERUNTUHAN

Photo by Danang

Bendera Merah Putih kebanggaan Bangsa Indonesia berkibar di tengah reruntuhan bangunan rumah yang terdampak banjir Sungai Jelai (30/08/17). Tidak ada yang mengetahui siapa yang memasang bendera tersebut. Sungai Jelai memang tidak pernah banjir sekurang-kurangnya 50 tahun terakhir ini. Menurut banyak penduduk yang puluhan tahun tinggal di bantaran Sungai Jelai, bencana banjir yang terjadi selama ini, tidak pernah sebesar ini. Meski tidak ada ucapan resmi pemerintah "turut prihatin" kepada korban, bencana ini tetap merupakan bencana terbesar sepanjang sejarah sungai Jelai.
Tidak ada korban jiwa yang tercatat sejauh pengamatan tim pendataan Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Namun demikian, menurut data yang dihimpun tim per 8 September 2017, ada setidaknya 13 rumah yang mengalami kerusakan berat, dan ratusan rumah yang  rusak karena terendam air luapan sungai. Selain itu, banyak penduduk yang kehilangan harta, ternak, lahan pertanian dan Saat ini, tim pendataan yang dikoordinir oleh RD Bernardus Tedy Prasetyo sedang memusatkan perhatian untuk mendata secara khusus 75 Kepala Keluarga (KK) di desa Tanggerang agar dapat memperkirakan jumlah keseluruhan kerugian yang diakibatkan oleh banjir sungai Jelai yang melanda 17 Desa di Kecamatan Jelai Hulu maupun Manismata. "Data menyeluruh mengenai kerusakan bangunan ini sangat diperlukan untuk masa setelah emergency respon," kata Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang.
Sejak kunjungan beliau pada tanggal 1 September 2017, Mgr Pius menekankan pentingnya sikap bela rasa bagi korban terdampak banjir. Bela rasa adalah sikap dasar yang harus dimiliki para relawan untuk berjuang dan ikut serta merasakan apa yang dirasakan para korban bencana. Dengan sikap demikian, relawan harus membantu agar korban betul-betul dipulihkan. Oleh karena itu, bantuan dibagi dalam tiga masa yakni, Emergeny Respon (Tanggap Darurat), Reconstruction (Perbaikan), dan Recovery (Pemulihan). Mgr Pius menetapkan Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, RD Laurentius Sutadi menjadi ketua umum Posko Bela Rasa Paroki St Maria Assumpta Tanjung. Sementara itu, RD Eduardus Banggut, pastur kepala paroki St Maria Assumpta Tanjung ditetapkan sebagai koordinator lapangan posko. (MoNdhan)

Jumat, 08 September 2017

CATATAN KECIL (VIDEO PENDEK)

Sebuah video pendek yang dirangkum dari bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang.

Tak banyak yang tahu kabar tentang banjir di tempat kami ini. Video ini dibuat sekedar sebagai catatan kecil bahwa dalam sejarah Negara Indonesia, pernah terjadi banjir besar di sungai Jelai yang terbesar sepanjang sejarahnya. Kami tidak berharap media massa mengekspose video ini, atau pemerintah Indonesia mengucapkan "turut prihatin", karena lebih baik bagi mereka jika mereka melihat dan berjumpa langsung mereka yang terdampak banjir. Terima kasih lagu September Ceria ciptaan James F Sundah yang dipopulerkan Vina Panduwinata menyemangati kami untuk bekerja dan bergotong-royong dalam masa-masa tanggap darurat, perbaikan dan pemulihan dampak bencana banjir. Tuhan selalu mengampuni human error. Tapi alam selalu punya cara sendiri untuk memperbaiki diri. Yakinlah Tuhan masih terus beserta kita dan membakar semangat solidaritas dalam diri kita. (MoNdhan)

SITREP 5 BANJIR TANJUNG

LAPORAN SITUASI NO 5
BANJIR SUNGAI JELAI
8 SEPTEMBER 2017

PENGANTAR
Negara                  : Indonesia
Lokasi Bencana   : Desa-desa di bantaran Sungai Jelai, Kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata
Periode Laporan : Jumat, 8 September 2017
Sumber Data       : Posko Kemanusiaan Paroki St Maria Assumpta Tanjung
Pelapor                : Vincentius Bondhan



LATAR BELAKANG
Pada hari Senin, 28 Agustus 2017 pada pukul 21.00 WIB, terjadi hujan deras menyeluruh di Kecamatan Jelai Hulu yang mengakibatkan sungai Jelai meluap dan merusak desa-desa bagian hulu yakni: Desa Pasir mayang, Rangga Intan dan Sidahari. Pada hari Selasa 29 Agustus 2017, dampak luapan sungai meluas sampai ke arah hilir. Banjir kiriman terus meluas sampai ke desa-desa hilir sungai Jelai mencakup kecamatan Jelai Hulu dan Manis Mata. Aliran deras banjir telah menghanyutkan beberapa rumah, lumbung-lumbung padi, memutus jembatan penghubung antara desa-desa dan merendam sebagian besar rumah-rumah di bantaran sungai Jelai. Di Desa banjir kiriman datang dari desa ke desa dengan jarak waktu kurang lebih satu hari. Desa Tanggerang dan Teluk Runjai terdampak pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 dini hari, sementara itu, desa Perigi yang berada di hilirnya, terdampak pada hari Kamis 31 Agustus 2017, pagi hari. Dusun Limus dan Deranuk terdampak pada hari Kamis, 31 Agustus, sore hari. Sementara itu, Desa Periangan di Riam Kota (ibukota kecamatan Jelai Hulu) terdampak pada hari Jumat, 1 September 2017, dini hari. Sampai pada hari Selasa, 5 September 2017, banjir kiriman telah sampai di Desa Sengkuang Merabung, Desa Kemuning, Desa Terusan dan Desa Silat, sementara itu, kondisi air di hulunya, yakni Desa Kelampai dan Pangkalan Baru, mulai surut. Banjir di Desa Tanggerang disertai arus yang deras, sementara di desa Periangan, arus tidak sangat deras. Ini terjadi karena semakin ke hilir, sungai semakin lebar dan datar, tidak securam yang di hulu.

WILAYAH TERDAMPAK
Sungai Jelai memiliki dua anak sungai. Anak sungai yang berhulu di Desa Pasir Mayang dikenal dengan nama Sungai Kiri yang kemudian melewati Desa Rangga Intan, Desa Sidahari, Desa Tanggerang, Desa Teluk Runjai dan Desa Perigi. Anak sungai yang berhulu di Desa Karangdangin dikenal dengan nama Sungai Jelai melewati Desa Pangkalan Suka, Desa Riam Danau Kanan, Desa Kesumajaya, Desa Tebing Berseri, Desa Penyarang. Kedua anak sungai itu bertemu di desa Deranuk. Setelah itu sungai Jelai melewati desa Periangan, Desa Asam Jelai, Desa Bikusarana, Desa Kelampai, Desa Pangkalan Baru, Desa Sengkuang Merabung, Desa Kemuning, Desa Terusan, Desa Silat, Desa Dibau. Akses menuju Desa-desa itu pada hari pertama desa terkena banjir selalu terisolasi oleh karena luapan sungai Jelai maupun anak-anak sungai kecil yang bermuara di sungai Jelai. Jalan yang ditempuh untuk mengirim bantuan berlumpur dan berbatu melewati pegunungan dan kebun sawit. Untuk menempuh perjalanan tersebut, tim menggunakan mobil double gardan. Mobil dipinjam dari keluarga-keluarga di sekitar posko, Institut Dayakologi dan perusahaan Cargill. Kesulitan utama untuk menjangkau daerah-daerah terdampak selain karena akses jalan yang sulit adalah listrik yang tidak beroperasi selama 24 jam dan sinyal telepon seluler yang berkali-kali hilang. Perlu diketahui, di Desa Tanggerang tempat posko Paroki Tanjung berada, listrik hanya beroperasi di sore hari pukul 17.00 – 06.00 WIB. Komunikasi dengan desa-desa terdampak juga menjadi sangat sulit karena beberapa desa di hilir tidak terjangkau sinyal telepon.

POPULASI TERDAMPAK
Sampai tanggal 5 September 2017, korban yang terdampak berjumlah 1415 KK di 17 Desa. Data tambahan jumlah populasi terdampak terbaru per 8 September 2017, di Dusun Tanjung Beringin (6 KK), di Desa Kemuning (137 KK), di Desa Terusan (100 KK) dan di Dusun Sungai Rasak (100 KK). Data terbaru ini dapat diverifikasi pada hari Jumat, 8 September 2017. Tim akan mengirim pendata untuk memverifikasi data terdampak di Desa Terusan dan Dusun Sungai Rasak.

KEBUTUHAN MENDESAK
Selain sembako untuk daerah-daerah terdampak baru, kebutuhan yang mendesak saat ini adalah peralatan-peralatan dapur, perlengkapan tidur, dan perlengkapan mandi. Selain itu, kebutuhan kesehatan dan trauma healing juga menjadi kebutuhan yang belum dapat secara merata ditangani tim Posko Paroki Tanjung. Perlu diketahui, salah satu trauma umum yang dialami oleh para korban terdampak adalah ketakutan pada hujan. Sejak terjadinya bencana ini, cuaca sangat tidak menentu. Langit kadang-kadang cerah, namun tiba-tiba bisa berubah menjadi mendung tebal dan turun hujan.

RESPON PEMERINTAH
Selain Posko Induk Kecamatan di ibu kota kecamatan Jelai Hulu, berdiri juga posko kesehatan dari perusahaan Cargill. Sampai hari ini, pemerintah belum membuat respon yang terstruktur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah datang ke Posko Paroki Tanjung pada hari Selasa, 5 September 2017 sekedar menanyakan beberapa hal berkaitan dengan gerak Posko Paroki Tanjung. Setelah itu, tim BPBD melanjutkan perjalanan menurunkan bantuan ke Posko Kecamatan.


RESPON CARITAS/KEUSKUPAN/POSKO KEMANUSIAAN PAROKI ST MARIA ASSUMPTA TANJUNG
1.       Sampai hari Rabu, 6 September 2017, data khusus, yakni data keluarga terdampak kerusakan besar di Desa Tanggerang dan Teluk Runjai, berhasil dihimpun tim sampai 41 KK dari target 75 KK. Pada tanggal 5 September 2017, tim mendapat tambahan relawan dari seminari Laurentius Ketapang: 1 Frater dan 3 Seminaris. Mereka aktif bekerja pada tanggal 6 September 2017. Kesulitan mereka dalam pendataan ini adalah kurangnya relawan lokal yang mengantar tim pendataan. Target hari Sabtu tanggal 9 September 2017, sudah selesai.
2.       Pada hari Senin, 4 September 2017, Tim mengirim bantuan ke desa Sengkuang Merabung untuk korban terdampak di Tanjung Beringin dan Kemuning. Karena akses ke Tanjung Beringin dan Kemuning tertutup, bantuan dibawa kembali ke Posko Tanjung. Pada tanggal 5 September 2017, terjadi update data untuk korban terdampak. Maka, tim mempakcaging kembali bantuan dengan bantuan para ibu dan anak-anak asrama putri Sion, untuk Kemuning sebanyak 137 KK, Terusan sebanyak 100 KK, dan sungai Rasak sebanyak 100 KK. Karena cuaca tidak mendukung sejak pagi hari, hujan dan mendung tebal, tim memutuskan untuk menunda pengiriman bantuan. Pada tanggal 6 September 2017, bantuan diturunkan di Sengkuang Merabung lalu dilanjutkan dengan perahu klotok ke Kemuning dan Terusan. Bantuan untuk Sungai Rasak dititipkan kepada tim Terusan. Bantuan untuk sungai rasak sampai di sana pada tanggal 7 September 2017, pukul 11.00. jumlah bantuan yang didistribusi hari itu: Kemuning sebanyak 150 paket, Terusan sebanyak 100 paket dan Sungai rasak sebanyak 100 paket.
3.       Pada tanggal 7 September 2017, tim posko paroki tanjung mengirim paket sembako yang kedua kalinya di Pasir Mayang, Rangga Intan dan Sidahari. Bekerjasama dengan PT Cargill, tim Pokso paroki Tanjung menyelenggarakan pengobatan gratis untuk Desa Pasir Mayang mulai jam 14.00-18.00 WIB. Jumlah tim PT Cargill: 1 dokter, 2 driver dan 2 orang dari staff PT. Tim Posko Paroki Tanjung menurunkan 8 orang relawan untuk membantu menurunkan bantuan: 2 orang mendata kerusakan, 2 driver, 3 relawan, 1 perawat. Jumlah pasien yang mengikuti program pengbatan gratis sebanyak 90 orang. Keluhan kesehatan kebanyakan sakit perut, demam, gatal-gatal.
4.       Sampai hari ini, tanggal 8 September 2017, tim Posko paroki Tanjung telah melayani: Desa Pangkalan Suka (103 pasien), Desa Tanggerang (10 orang), Desa Teluk Runjai (2 pasien), Dusun Penyarang (34 pasien), Desa Pasir Mayang (124 pasien), Desa Deranuk (39 pasien), Sengkuang Merabung (2 pasien). Total seluruhnya ada 314 pasien. Masih ada beberapa tambahan data yang belum digabungkan oleh tim kesehatan Posko Paroki Tanjung.
5.       Beberapa hal yang mendesak saat ini adalah bantuan untuk beberapa anak sekolah yang terdampak banjir dan kehilangan peralatan sekolah.
6.       Pada tanggal 6 September 2017, tim mengadakan rapat evaluasi dan koordinasi bersama Mgr. Pius Riana Prapdi. Monsinyur menegaskan beberapa hal:
  • Bencana mengajari kita untuk berubah. “Ada yang mengatakan tidak membuang sampah sembarangan. Ada yang mengatakan untuk mulai bijak dengan alam. Semuanya itu adalah usaha untuk berubah/bertobat.
  • Demi alasan keselamatan, undang-undang Negara kita melarang orang membangun rumah tinggal di bantaran sungai. Ini menjadi catatan untuk masa rekonstruksi dan recovery.
  • Tim Posko Paroki Tanjung harus mulai berkoordinasi dengan posko-posko penyalur bantuan.
  • Rumah Sakit Fatima siap melayani trauma healing bagi korban terdampak.
  • Dua orang dari tim dari Karina (Karitas Nasional) akan datang membantu assessment di Posko Paroki Tanjung kira-kira pada tanggal 10 September 2017.
  • Tim dari seminari Laurentius akan diminta membantu mengerjakan pendataan sampai pendataan selesai.




Rabu, 06 September 2017

CERITA HUJAN BERBALUT DUKA


Banjir Tanjung, 2017 Sejak 30 Agustus lalu, kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, dilanda bencana banjir yang meluap dari Sungai Jelai. Dusun Tanjung, Desa Tanggerang merupakan wilayah pertama yang mengalami dampak besar akibat bencana banjir tersebut. Video ini merupakan sebagian kecil dari potret keadaan yang sebenarnya di lokasi.

Dalam bencana seperti ini 3 hal yang tidak boleh hanyut terbawa bencana dalam hidup kita. Berharap, iklas dan beriman. Pasti ada rencana Tuhan yang tersembunyi yang tidak kita mengerti. Oleh karena itu biarkan rencanaNya bekerja untuk kita. Iklaskan semuanya, seperti Ibu Maria, berucap, let it be, terjadilah menurut kehendakMu, bukan menurut kehendakku.

Akan ada jalan keluar yang baik bagi orang yang memiliki keyakinan, tetapi juga akan ada pembelajaran yang baik dari bencana ini. Akan ada hal yang tidak baik yang harus kita tinggalkan dan tidak boleh diulangi kembali. 


Saatnya untuk berani berubah
Saatnya untuk berani berbagi dan memberi kepada alam, terlalu banyak yang sudah kita ambil, bahkan mungkin sudah terlalu amat banyak
Saatnya untuk tidak mengulangi hal yang tidak baik.


Let it be, Let it be, biarlah terjadi
Sesuai dengan seruan Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, saatnya kita berani untuk berubah, berbagi dan memberi kepada alam, demikian juga ini saatnya kita untuk berbelarasa. Wilayah yang terdampak (Tanjung dan sekitarnya), jadikan ini menjadi wajah belarasa kita dan berani mengajak mereka untuk berubah. Terima kasih untuk segala sumbangsih yang telah diberikan oleh para donatur. Terima kasih juga untuk segala jerih payah para relawan yang terus mendistribusikan segala jenis bantuan kepada para korban banjir. Terima kasih tidak terhingga kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban. Tugas kita belum selesai. Masih ada banyak yang harus kita kerjakan setelah ini. Masih banyak yang harus kita lakukan, terutama untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban, dan juga untuk keutuhan alam yang telah banyak memberi kepada kita.

Bila kami boleh menerima uluran kasih dari teman, sahabat, umat, salurkan donasi anda ke: Posko Tanggap Darurat Keuskupan Ketapang, atau ke Rek BCA no 8955 149.188 atas nama Keuskupan Ketapang. 
Salam bela rasa
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com