CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Rabu, 28 Oktober 2015

Hujan mengguyur Ketapang, pertanda asap akan berkurang?





Ketapang diguyur hujan
Caritas Ketapang.com – Hujan deras disertai angin kencang mengguyur Ketapang dan wilayah sekitarnya selama kurang lebih satu jam, Rabu, 28/11/2015 pk 18.30 membuat warga Ketapang bergairah dan anthusias. Sangat bisa dipahami karena sejak 3 bulan terakhir Ketapang gelap sendu, sesak nafas, perih mata, dan terkadang kepala pusing, dikepung asap padahal berbagai  aksi pengurangan resiko bencana asap sudah dilakukan, seperti menyiram titik api di wilayah gambut Pelang, namun asap semakin tebal saja.

Nampaknya harapan satu satunya ditumpahkan pada alam kembali, setelah jiwanya disakiti, paru-parunya dilubangi oleh kerakusan mahluk ciptaan dengan pembakaran hutan  gambut dan perluasan lahan perkebunan. Sebagian orang yang sejak awal mengingatkan jangan lagi ada ijin pembukaan lahan, mensyukuri pristiwa ini, agar terjadi pertobatan masal. Ya mereka sudah putus asa. Mereka sudah tidak tahu mau buat apa lagi dengan asap ini. Gerakan membagi-bagikan masker hanya menjadi gerakan iba hati sesaat saja.

Ataukah memang kita sudah tidak peduli lagi dengan situasi terpapar oleh dampak asap di Ketapang, sebab jarang yang memberitakan pekatnya asap di Ketapang di Media National. Sayangnya  para pemangku kepentingan merasa aman saja oleh kurangnya pemberitaan yang memilukan seputar  Ketapang, sehingga mereka tenang-tenang saja. Dulu ketika Ketapang diklaim sebagai pengirim dan penghasil  asap terbesar, para punggawa Ketapang dibawah pimpinan (PJ) Bupati, bergerak cepat.

Sekarang setiap asap mengepung Ketapang  mereka bilang “Anggap saja ini asap kiriman dari Kaltim”. Debat calon Bupati  Ketapang yang diselenggarakan KPU sebatas prihatin atas musibah asap, (mereka bilang musibah) dan banyak yang berjanji akan menindak tegas para pelaku namun siapa yang peduli dengan lingkungan hidup ke depan. Disisi lain  masyarakat yang membakar ladang baru,  tidak merasa bersalah karena ini sudah warisan bertahun-tahun, dan luasnya juga tidak seberapa dibandingkan perluasan lahan yang tetap diterbitkan untuk perkebunan sawit.

Serasa tidak ada jalan keluar lagi, serasa tidak perlu lagi gerakan pengurangan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), serasa semua bisu, serasa apa yang telah dilakukan tidak berdampak.

Dan hujan telah mengguyur Ketapang, namun lihatlah besok, asap akan datang lagi karena luasnya hutan dan gambut yang dikeringkan dan kini  terbakar.

Ingin rasanya menyampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan  bahwa sesudah usaha pemadaman kebakaran dengan helikopter selanjutnya tidak ada gerakan  pengurangan karhutla  di Ketapang, kecuali menebar himbauan lewat sepanduk "desaku bebas api" atau dilarang membakar. 

Kini yang hiruk pikuk,lalu lalang adalah  bunyi alat berat di wilayah Tanjung Beulang Serangkah Kecamatan Tumbang titi, meski ijin pembukaan lahan baru sudah tidak diterbitkan lagi, namun “ijin extension (perluasan ) nampaknya berjalan mulus untuk perusahan tertentu. Itu aja sih. (suklan)

Jumat, 23 Oktober 2015

PENGALAMAN BERPROSES BERSAMA WARGA BINAAN

Pemberdayaan masyarakat merupakan satu tantangan yang tidak mudah untuk dilakukan, karena harus menghadapi berbagai sifat dan karakter masyarakat. Masyarakat sering dimanjakan oleh alam, sehingga masih sulit untuk merubah pola pikir dan kebiasaaan yang sudah dilakukan turun temurun. Tapi hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mendampingi masyarakat bimbingan. 

Live in merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan, dimana Pembina dapat tinggal bersama-sama dengan masyarakat binaan, sehingga mampu mengenali karakter masing-masing anggota dan mengajak mereka melakukan aktivitas tanam-menanam, serta memberikan motivasi-motivasi yang baik untuk membangun pola pikir dan kesadaran akan hal-hal baru yang dapat membangun diri mereka. 

Sebenarnya kelompok binaan ingin memperbaiki taraf hidup, dan tetap menjaga hutan dan kearifan lokal, akan tetatapi belum siap untuk berproses. Sehingga kebanyakan anggota menginginkan hal-hal instan, dengan kata lain mendapatkan hasil yang cepat, hari itu kerja hari itu juga sudah mendapatkan hasil. Ketika ada ilmu baru yang diberikan, mereka tidaklah langsung percaya, sebelum mereka menyaksikan sendiri dan mengalami sendiri. Sering kali anggota mengeluhkan tidak ada waktu untuk kerja bersama-sama kelompok, karena sibuk berladang, sibuk berburu,sibuk mencari madu dan lain sebagainya. Mereka belum menyadari, apa yang mereka siapkan saat ini merupakan usaha jangka panjang yang akan meningkatkan taraf hidup mereka dimasa yang akan datang. 

Mereka dilatih untuk membudidayakan karet unggul, dan budidaya tanaman muda, bagi sebagian anggota, hal ini sangat menyita waktu, tapi bagi anggota yang sudah merasakan manfaat dari pendampingan, hal ini sangat berguna untuk menambah penghasilan. 

Menanam tanaman muda seperti sayur-sayuran bukanlah hal yang sulit, tetapi hasilnya menggiurkan. Akan tetapi untuk mencapai hasil yang baik, memerlukan proses yang panjang, dan perlu kesabaran. (budin)

Mencatat kebaikan sekecil apapun pasti ada manfaatnya.


Mencetak praktek baik (best practise) dalam sebuah pendampingan komunitas bukan perkara gampang. Pasalnya pengalaman baik  seperti diungkapkan dalam adagium “kecil itu indah” sering diremehkan, dibiarkan berlalu dan jarang dicatat, apalagi didokumentasikan ataupun difilmkan. Itulah alasan pertama, mengapa sukses story menjadi penting dan sangat berharga. Kalaupun difilmkan orang sering menilai, dan berasumsi, filmkan bisa direkayasa, bisa dibuat-buat, efek dan dampaknya tidak seberapa. Namun catatlah itu sebagai sebuah permulaan indikasi resiliensi sebuah komunitas.karena mau  mencatat hal kecil yang dirasakan baik. Bukankan itu sebuah cara  komunitas bangga pada kemampuan  mereka untuk mengidentifikasi keadaan mereka, kemampuan mereka, kekuatan mereka, sekali lagi, sekalipun kecil dan barangkali tak berarti. Lupakan sejenak gaya bermimpi besar dan omong besar. Lupakan sejenak menggerakan jiwa-jiwa yang  mampu membawa perubahan besar, membawa makmur hidupnya, meningkatkan perekonomiannya dan lain sebagainya.

Salah satu praktek baik yang pernah kami lakukan dalam pemberdayaan komunitas adalah “pendampingan dengan metode live in “. Intinya ialah, pergi ketengah masyarakat,tinggal di tengah mereka, belajar dari mereka, susun perencanaan bersama mereka, bekerja bersama mereka, memulai dari apa yang mereka tahu,membangun berdasarkan apa yang mereka punya,mengajar dengan memberi contoh, belajar dengan melakukan. Bukan untuk menyesuaikan melainkan untuk membaharui, bukan memberi bantuan tetapi membawa pembebasan.
Meski  target sering jauh dari pencapaian, namun ada satu atau dua orang yang sungguh merasa kehadiran kami berarti, mereka  memperoleh pengalaman baru. Bagi kami itu adalah praktek baik.  Hadir dan ada bersama mereka ternyata lebih memudahkan kami belajar dan memahami kondisi dan karakter komunitas dampingan. Koordinasi dan komunikasi jadi lebih intens. Disamping itu pendampingan secara personal lebih mudah dilakukan dengan contoh-contoh yang nyata sehingga menumbuhkan saling percaya.

Apa saja hasil kongkrit dari pendampingan model itu? Ambil contoh misalnya memperkenalkan cara menanam dan merawat karet yang benar. Tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun menaman karet dengan sistim mencabut. Dengan hadir memberi contoh dan bersama mereka  belajar menyeleksi biji karet yang baik kemudian menyemaikan di bedengan, komunitas mulai sadar bahwa menanam dari biji jauh lebih cepat tumbuh dari pada mencabut batang karet dari hutan. Lebih dari itu mereka , komunitas dampingan merasa dilibatkan dan didengarkan dalam  seluruh proses pendampingan. Apa yang dihasilkan memang kecil, tapi lalu kami belajar banyak. Itu saja sih.(CKK)

Pak Dony Akur sebut pencapaian sekecil apapun, sangat berharga untuk itu perlu diapresiasi oleh insan pendamping.




Caritas Ketapang.com – Program Officer Karina, Dony Akur, sangat serius menghadiri kegiatan sehari Caritas Keuskupan Ketapang dalam rangka pembahasan “indikator resiliensi” yang diselenggarakan oleh Petrus Apin sebagai kelanjutan dari kegiatan semi lokakarya resiliensi yang diselenggarakan di Caritas Sibolga.(Nias,28-30 Juli 2015)


"Komunitas yang resilien adalah harapan kita, cita-cita kita, idialisme kita, agar kita tetap berjuang dengan cara-cara sistimatis, kerangka berpikir yang terukur, tidak asal-asalan” kata Donatus Akur saat diminta sharing , Kamis (22/10/2015).


Bapak Donatus berharap, para pendamping pemberdayaan kususnya Caritas ini berani dan mau mengumpulkan dan mencatat, mendokumenkan capaian-capaian keberhasilan  sekecil apapun yang dicapai oleh  komunitas agar dapat menjadi ceritera baik, tidak saja bagi patner yang mensupport kegiatan, akan tetapi juga bagi kita, bagi komonitas agar tidak selalu menjadi orang yang tidak berpengharapan, atau menjadi orang yang tidak berguna karena merasa gagal. Sebab indikator capaian tidak berhasil belum tenru berbanding lurus dengan dampak yang dirasakan oleh penerima manfaat. 


"Ingat, sekali lagi, indikator resiliensi  entah itu strategy community managed, live in, berjejaring, maupun indikator prosess yang memperhitungkan  perubahan iklim, kalender musim dan kemampuan masyarakat mengidentifikasikan kerentanannya, adalah  sebuah goal yang harus tetap menjadikan kita sendiri tangguh, tanggap dan tanggon” paparnya. 


Dia mengatakan apa yang telah dipaparkan kepada kita  oleh bapak Petrus Apin sudah benar. Mencatat dan mendokumenkan sukses story yang dihasilkan oleh komunitas dampingan adalah cara membangun sebuah resiliensi.


Pertemuan seluruh staff Caritas Keuskupan Ketapang setiap tiga bulan sekali  di Ketapang adalah kesempatan untuk berbagi ceritra dan pengalaman yang baik untuk saling menguatkan satu sama lain. Pertemuan dari kita untuk kita sungguh dikuatkan oleh kehadiran Bapak Dony Akur dan Ibu Bintarti Novi dari Caritas Indonesia (Karina). 


Hadir pada pertemuan ini, Ignasius Made direktur, Aloysius Rachmad koordinator lapangan, Petrus Apin sekretaris executif, Pia Sezi Nurwanti finansial, Marselus koordinator IBF, Yohanes Budin, fasilitator lapangan, Jelly Karel Peyoh fasilitator CMLP, Stevanus Adyanto, fasilitator CMLP, Danang Sujati staf dokumentasi dan IT. Salam resiliensi. (notulist)

TINGGALLAH BERSAMA MEREKA : MEKAR EDISI OKTOBER 2015

Tinggallah bersama mereka, sebuah refleksi dari salah satu model pendampingan. Inilah yang menjadi tema utama MEKAR Edisi Oktober 2015 kali ini. Ungkapan "pergilah ke tengah masyarakat, tinggallah bersama mereka, belajarlah dari mereka", kalimat yang indah namun dalam mencapai semua itu, perlu sebuah usaha dan perjuangan yang keras. Banyak yang mau berpetualang. Banyak yang mau datang untuk membuat tenda agar bisa tinggal untuk mengeruk emas. Banyak yang datang untuk memanfaatkan tenaga masyarakat agar mencapai keuntungan sepihak. Tapi tidak banyak yang datang untuk mendampingi mereka, untuk tinggal bersama mereka dan menguatkan mereka.
MEKAR edisi Oktober kali ini juga kembali menceritakan kisah sukses dari salah seorang anggota KSM yang sudah memetik hasil dari panen sayuran di tengah musim kemarau dan asap yang melanda Kalimantan.
Anda dapat memperoleh MEKAR Edisi Oktober 2015 ini di paroki-paroki setempat atau di KSM binaan Caritas Keuskupan Ketapang. Anda dapat juga mendownloadnya di sini.

EMPAT TANTANGAN DAN REKOMENDASI CKK UNTUK PROGRAM IBF


evaluasi IBF
Caritas Ketapang.com – Hasil pendalaman diskusi, atas temuan di lapangan, di komunitas Tanjung Beulang Ketapang, bersama Karina, Bapak Dony Akur dan ibu Tatik (fainance officer) menyebutkan ada empat  tantangan yang dihadapi Caritas Ketapang dan 4 rekomendasi yang dihasilkan untuk ditindaklanjuti ke depan.
Keempat tantangan itu adalah: sulit mendapatkan biji karet matang yang siap digunakan untuk bibit batang bawah tepat sesuai dengan rencana penyemaian.  Perlu waktu untuk mengubah pola pikir dari budidaya karet tradisional (tanam tepoh = tanam tinggal) ke budidaya karet unggul. Kesulitan para anggota kelompok dampingan untuk membagi waktu ketika masuk ke musim menebang, menugal, merumput dan panen. Musim panen madu hutan, musim gawai (pesta panen, nikah, perta kampong) dan musim buah. Kemarau panjang telah menyebabkan bibit sayur yang ditanam kelompok ibu-ibu kering dan mati
"Hasil temuan-temuan di lapangan bersama komunitas  dapat menjadi peluang  yang baik untuk mencari solusi, mengambil pembelajaran, dan menemukan rekomendasi untuk waktu-waktu mendatang, ujar program  officer inisiatif basket fund, Doni Akur, dalam pertemuan sehari di kantor Caritas Keuskupan Ketapang Rabu,20/10/2015.

 “Perubahan iklim yang extreem ini berdampak untuk  perubahan  musim jatuhnya buah karet. Biasanya jatuh pada Desember – Januari, yang terjadi jatuh pada Maret. Kondisi ini menyebabkan praktek okulasi tidak bisa berjalan sesuai dengan yang sudah kami jadwalkan” ungkap fasilitator Yohanes Budin.

Atas tantangan dan kesulitan tersebut, beberapa solusi telah diambil seperti yang dituturkan oleh Marselus selaku  penanggungjawab program implementor Caritas Ketapang. Inilah solusi yang telah dilakukan:
·      Praktek okulasi tetap dijalankan namun  dilakukan di sekitar kebun karet anggota dengan memanfaatkan karet local untuk batang bawah dan mata entresnya dibeli dari luar.
·      Pendampingan dengan metode live in (Tinggal di komunitas dampingan untuk terus menerus member motivasi dan penyadaran)
·      Kegiatan kelompok dilaksanakan pada sore hari, meski tidak efektif karena mereka sudah capai.
·      Kerja kelompok diwajibkan sebagai bagian dari kegiatan bersama.
·      Menanam tanaman yang tahan terhadap kekeringan, missal ubi kayu, jahe, kunyit  dan sreh.

Setidaknya ada beberapa pembelajaran yang sangat berharga yang telah kami terima selama hadir bersama komunitas Tanjung Beulang ungkap Yohanes Budin dalam pertemuan itu. “Tepat sekali, meski capaian dan dampak yang dirasakan komunitas tidak berbanding lurus selalu ada pembelajaran  untuk kita” ungkap pak Dony dengan penuh anthusias. Lebih lanjut beliau menegaskan kepada kami, bahwa dalam penetapan target (indicator) Caritas agar lebih  realistis dan mempertimbangkan kondisi perubahan iklim dengan cermat.( contoh: CKK menargetkan 4.200 stump, namun tidak terealisai karena kondisi alam). Jangan lupa mengubah mindset ketergantungan dalam banyak hal,  perlu waktu, kesabaran, kreativitas dan kehadiran terus menerus (live in) untuk memberikan contoh secara langsung . Disamping itu lanjut beliau  “assessment yang akurat untuk kondisi dan karakter komunitas dampingan mutlak perlu.

Mencari  alternative lahan berkebun sayur yang dekat dengan sumber air dapat menjadi pembelajaran yang bagus ke depan bila menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.

“Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah rekomendasi kita ke depan”  ungkap Rm. Made. Lebih lanjut  beliau  kemudian menegaskan untuk ke depannya, mendesain program harus didasarkan pada analisa konteks yang mendalam berkaitan dengan kalender musim di calon komunitas dampingan. Juga  Live In  tetap menjadi metode dan ciri kas Caritas Ketapang dalam  pendampingan bagi komunitas pedalaman. Kriteria pemilihan penerima manfaat perlu dibuat, sehingga yang menjadi penerima manfaat benar-benar adalah orang yang memiliki komitmen.(pia,notulist)

Sabtu, 17 Oktober 2015

MGR. PIUS RIANA PRAPDI : ASAP MENGGANGGU. JADIKAN INI BERKAT UNTUK MEMBANGUN BELARASA



Mgr Pius
Caritas Ketapang.com – Mgr Pius Riana Prapdi mengutarakan keprihatinannya mengenai dampak asap yang menyelimuti Pulau Borneo, Ketapang kususnya, dalam tiga bulan ini. “Sangat mengganggu aktivitas dalam segala segi kehidupan”. Ucapnya sambil menepuk dada. Beberapa kali hujan turun, berharap  akan mengurangi kepekatan asap, ternyata tidak juga. Kandungan air di area gambut sudah sedemikian kering, ditambah cuaca panas  menimbulkan gas oktan yang mudah sekali terbakar. Harus ada gerakan yang komprehensif yang mampu membuat orang terpanggil dari lubuk terdalam mencari jalan keluar untuk mengatasi krisis ini, papar beliau. “Saya meminta Komisi Pemberdayaan Masyarakat (PSE) dan Caritas Keuskupan (CKK) untuk menterjemahkan keterlibatan Gereja lokal Keuskupan Ketapang ini dengan gerakan yang komprehensif dan terukur”.ujarnya beberapa kali.

“Proses asap ini terjadi karena semakin menipisnya air dalam kandungan gambut, dan kekeringan  yang berkepanjangan akan memunculkan gas oktan yang mudah sekali terbakar. Akibatnya titik-titik api akan muncul dimana mana” ujar beliau lebih lanjut kepada Caritas , Jumat,16/10/2015.

Menurut Mgr Pius, Tidak bisa disangkal, pembukaan kebun  dalam sekala besar, dengan pembukaan kanal-kanal di area gambut  mempercepat pengeringan gambut sehingga bisa segera ditanami sawit, memang sangat berperan menimbulkan kekeringan. Persoalan asap adalah persoalan air. Ungkap beliau sambil mengelus dahi.

Selain itu model pertanian yang mengandalkan unsur hara dari hasil pembakaran yang  berulang setiap masa pembukaan musim tanam padi tiba, lama kelamaan  tanah akan haus dan tipis. Oleh karena itu gerakan untuk memanfaatkan sisa-sisa, daun, rumput, apa saja yang berbau sampah dijadikan pupuk harus menjadi gerakan memberi kepada alam. Kita  sudah terlalu banyak mengambil dari alam ini, ujar beliau dengan bersemangat.

“Gerakan menanam, adalah gerakan memberi dan berbagi, agar alam ini cukup air untuk membasahi bumi, maka setiap kali kunjungan pastoral  ke paroki pedalaman saya selalu mencari kesempatan untuk menanam biarpun hanya satu batang pohon”. Ceritra Mgr Pius sambil memperlihatkan foto dukumentasi kunjungan beliau melalui  laptop dengan management file yang rapi.

Jika gerakan untuk mengubah mindset dari mengambil sebesar-besarnya dari alam, dikembalikan dengan gerakan berani berbagi dan memberi  tanpa dipaksa, kepada bumi,  apa lagi gerakan penuh cinta muncul dari hati yang iklas dan bangga melakukannya, maka alam ini juga akan ramah kepada kita, tandas beliau lebih lanjut.

Sekali lagi saya memohon, dan meminta  “ PSE sebagai animator, dan Caritas sebagai gerakan belarasa  harus bekerjasama membawa jiwa-jiwa (anima) kepada  gerakan yang mampu menggetarkan jiwa untuk merasakan kemendesakan pemulihan keutuhan ciptaan ini”

Jangan lupa “asap ini juga dapat menjadi berkat  agar kita semakin berani bersyukur dan iklas berbagi membangun passion (belarasa) untuk sesama kita. Selain itu, menurut bapak Uskup, setiap orang sesuai profesinya sebenarnya memiliki cara yang ampuh dalam mengekspresikan bela rasanya.

Banyak hal yang dapat kita buat, seperti penguatan kelompok melalui retret rasul sosial, latihan kepemimpinan  melalui kegiatan kaderisasi para rasul sosial agar tampil anak-anak muda yang berani berbagi dan berbelarasa; Mengadakan sekolah lapang, dengan memperkenalkan cara membuat pupuk biosol organik sebagai cara untuk memulihkan usur hara yang telah hilang. Tapi yang utama adalah membangun kesadaran bahwa menjaga bumi dan seisinya adalah panggilan hati dan tanggun jawab setiap orang. Caranya adalah dengan menanam pohon, menjaga wilayah aliran sungai dengan tanaman seperti bambu, karena bambu penyangga DAS dan penyimpan air sekaligus bernilai ekonomi  tinggi. Salam belarasa(ckk)

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com