CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Kamis, 27 Agustus 2015

Dibalik Kegelisahanku Dalam Pendampingan Kelompok Tanjung Beulang Masih Ada Secercah Harapan


 (sebuah catatan menjelang evaluasi akhir  program DA)
ketika kami mengkompilasi hasil survey random

" pergilah ke tengah masyarakat kawan, tinggalah ditengah mereka, belajarlah dari mereka”( credo pendampingan)
"buatlah perencanaan bersama mereka, bekerjalah bersama mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, membangunlah berdasarkan apa yang mereka punya, mengajarlah dengan memberi contoh, belajarlah dengan melakukan” credo pendampingan 2)
 Bukan membuat etalase, tapi memberi pola
Bukan memberi barang rombengan, melainkan sebuah sistim
Bukan pendekatan sepotong-sepotong melainkan pendekatan utuh
Bukan untuk menyesuaikan melainkan untuk membaharui
Bukan memberi bantuan tetapi membawa pembebaasan



Hari Rabu,19/8/2015, kami staff CKK datang ke Tanjung Beulang Serengkah, Tumbang Titi. Rencana ini memang sudah teragendakan. Kami ingin melihat sendiri bagaimana komunitas melakukan praktek okulasi bibit karet unggul, disamping ingin menikmati kue-kue olahan ibu-ibu yang dilatih untuk memanfaatkan bahan-bahan olahan lokal seperti singkong, keladi, labu kuning, jagung.
Saya pikir ini menjadi kesempatan yang sangat berharga dan tak boleh terlewatkan. Minimal saya bisa membuat tulisan kecil untuk website CKK, sekaligus  mengumpulkan bahan-bahan  end-evaluation untuk program Inisiatif Basket Fund, siapa tahu sambil menimang anak yang baru lahir, Pak Doni Akur, sempat baca, meski itu tidak akan dilakukan soalnya bahaya, ini putra yang ditunggu sampai harus membuat pilihan berat, Cinta Indonesia timur atau cinta istri yang lagi hamil berat dengan bobot 4-5 kg…ini bocoran mbak Susan lho….

Bapaknya  Alvaro yang cermat
Maksud hati ingin hadir untuk praktek okulasi karet, pagi hari, 20/8/2015, mengingat fasilitator kami sudah menyiapkan mata entres hingga seratus batang, dengan harga yang cukup mahal, ee tahunya mereka malah mengajak untuk duduk beremebug membahas keadaan kelompok. Saya pikir tidak akan lebih dari sejam untuk menyelesaikan persoalan kelompok. Tidak terasa hari sudah pukul 11.00 siang, dimana menurut ilmu karet, saat yang tidak baik untuk praktek okulasi karet, karena cuaca panas.
Yohanes Budin akhirnya meminta praktek okulasi karet  diundur sore hari. Sambil menunggu makan siang dengan masakan “bekasam babi” yang aromanya sudah tercium, kami meneruskan urun rembug sampai akhirnya ada pembicaraan tentang perampingan kelompok. Direktur yang hadir tinggal diam dan menyimak baik-baik rencana kelompok untuk merampingkan kelompok dampingan karet.
 Bagi kami sih tidak masalah, yang penting kelompok tetap merawat karet unggulnya, tetap semangat melatih diri agar trampil menghasilkan bibit unggul, dan lebih penting capaian program tidak memalukan amat. Soalnya akan merampas kegembiraan pak Dony Akur dan merendahkan martabat dan Identitas Caritas Ketapang…ooo. Wah “Bekasam” babi yang rada-rada menebarkan bau yang menyengat…., sudah siap, namun direktur tidak mampu makan bekasam. haha

Capek denger berita kelompok semakin berkurang, ada apa gerangan kiranya
jatuh bangun ku mengejarmu sampai ada cap meterai
Masih ada waktu 3 jam sesudah makan siang bersama, sambil menanti praktek okulasi karet, saya memanfaatkan waktu untuk mencari tahu menanyai anggota, mengunjungi lahan mereka. Hal itu harus dilakukan sebagai pembuktian untuk ceritra sukses yang dikisahkan selama ini baik oleh fasilitator maupun anggota kelompok. Evaluasi yang disertai uji-pantau, wajib hukumnya, pesan Pak Dony yang saat ini lagi meninabobokkan sang buah hati. Hahaha mana tertawa kasnya pak Alvaro Gabriel
Berita jelek yang bikin getar dada, hanya sedikit saja yang sudah menanam karet di lahan, oleh karena kesibukan menjaga hutan  takut dicuri orang. Saya marah dan sangat kecewa. Bukan kah awalnya yang minta pendampingan adalah masyarakat Tanjung Beulang. Bukankah yang meminta agar diberi pendampingan dan mendatangkan karet unggul adalah masyarakat Tanjung Beulang. Bukankah yang minta dilatih okulasi bibit unggul adalah masyarakat Tanjung Beulang? Lantas kenapa sesudah 9 bulan berjalan hanya beberapa orang saja yang serius. Saat itu bukan hanya saya yang kecewa, diirektur nampaknya juga kecewa menahan marah.
kelompok ibu-ibu yang tetap semangat.
Saya ingat betul, ketika survey awal. Saya kehabisan nafas untuk bisa sampai ke kampung Beringin Raya dan Tanjung Beulang, hanya ingin memastikan apakah memang mereka masyarakat yang rentan dari  ekonomi, kesehatan, pendidikan dan akses jalan, seperti pengakuan mereka dalam suvey.
Belum hilang cap materai snalpot dikakiku akibat tertindah kendaraan ketika survey melewati bukit dan jalan berlumpur dan berlumut.
Saya ingat betul bagaimana kita bersama menggali sebab akibat dari permasalahan yang ada di desa ini. Saya ingat betul bagaimana dengan cermat dan teliti Pak Doni bertanya dan meyakinkan bapak ibu yang hadir waktu itu, apakah memang serius akan mengusulkan dan merencanakan pendampingan bersama Caritas Ketapang. Pak Kepala Desa, Pak Demong , Pak RT, ketua umat, ibu ibu anthusias benar waktu itu. Masak sekarang loyo, uh uh…”
 Saya ingat betul seorang anak muda berteriak, kapan lagi kita mau belajar, kapan lagi kita bangkit dari ketergantungan kita, sekarang saatnya. Ayo kita kompak, kita bisa.
Separah itukah, gagal totalkah, tidak ada artinya kah. Kok mereka pada tenang dan gembira saja. Kok fasilitator senyum senyum saja dikerumuni ibu-ibu sementara yang bapak merokok sambil behirup ria. Apakah aku underestimet dengan mereka.
Ah, tentu tidak lah
Kek Doyan satu dari 7 orang sdh tanam di lahan sendiri
Oh Tuhan jauhkanlah kiranya kegagalan ini. Hambamu baru belajar mendampingi.Saya tidak rela itu terjadi pada kelompok dampingan kami, Tanjung Beulang. Saya salah satu orang yang bertanggungjawab. Saya sudah bolak balik datang ke kampung ini sesuai dengan rencana anggaran yang teliti dan ketat. Saya sudah membuat laporan dan evaluasi setiap bulan dan dikirim ke Karina. Bahkan sudah direvisi setiap kali ada kekeliruan Meski capek ijinkan aku melihat hasil karet mereka. Sekarang, sekarang, sore ini juga.
 Berbagai macam isu, berita, kesulitan, persoalan saya dengar sambil berjalan menuju lahan salah seorang anggota yang sudah berhasil memindahkan bibit karet unggul dari kebun kelompok ke kebun pribadi. Mereka juga berkisah dari 90 stum karet unggul yang dibagikan Caritas Ketapang sebagai inisiativ awal, hanya 50 batang yang bisa ditanam, lainnya mati. Tak ada kegelisahan diwajah mereka. Pembelajaran ini sangat mahal  berat namun berharga, itulah yang saya dengar dari kisah 7 orang yang berhasil memelihara, merawat, sumber mata entres. Tak terasa saya sudah berjalan kaki 2 jam menuju lahan kek Doyan.
analisa sebab-akibat
Saya jadi sedikit terhibur meskipun malu. Saya faham ini kesalahan saya. Terlalu baik dan yakin bahwa semua yang berniat baik dan mau bergabung dalam kelompok akan semuanya setia. Ternyata tidak semuanya faham akan apa yang mereka minta sendiri. Maka pendampingan yang baik memang harus melibatkan komunitas. Mengikuti cyklus program, mulai dari perencanaan hingga penutupan program.  

Kawatir berlebihan
Ketika sampai di lahan, rasa letihku hilang karena melihat karet dengan payung tiga sudah ditanam. Mereka menanamnya dengan rapi padahal praktek ajir (membuat lobang dengan jarak tanam 6x4 meter) menurut jadwal sekolah lapang baru  sekali..
Dua jam sebelumnya aku begitu kawatir, bahkan kekawatiranku nampaknya berlebihan. Mungkin karena itu kelompok ini tetap merasa belum gagal, karena pengetahuan budidaya karet unggul ini adalah pengalaman pertama mereka, yang selama ini terbiasa dengan gaya tanam tinggal, ditambah kesulitan mereka membagi waktu antara berburu di  hutan sambil menjaga hutan dan dahas agar tidak dijarah orang dan dijual ke perkebunan yang memang lagi marak di areal penggunaan hutan (APL)

 Satu tahun pembelajaran emang gila juga
kekawatiranku kali berlebihan
Saat duduk istirahat sejenak, saya mengingat-ingat  lagi riwayat program pendampingan caritas keuskupan oleh Karina. Saya mencoba mengingat jati diri pelayanan saya dalam lembaga Caritas ini. Sepuluh bulan hadir membawa pelayanan yang bermartabat, menyenangkan banyak orang dalam arti adil, membuat orang senang damai, rasanya gila. Gila saja. Saya dituntut memahami konteks pelayanan dalam arti tahu benar situasi orang yang saya layani. Itu masih bisa saya fahami karena saya terlahir sebagai orang Dayak. Namun dengan struktur managemen yang sangat terbatas, keuangan yang belum  mandiri, belum memadai, saya dituntut profesional dan bekerja berdasarkan standar operasional yang ketat, transparan dan semua terdokumentasi…berattt dan sekali lagi gila.

Maaf Romo, maaf pak Dony,mbak Tatik, mbak Pia Sesi, Yohanes Budin, Pak Petrus Apin, Mas Danang, Pak Aloysius. Sungguh ini  pikiran liarku saja.Tidak usah diambil hati.
Ayo optimis

Biarpun mereka kini hanya tinggal 23 orang namun mereka ternyata masih menunjukan kemauan yang tinggi. Ini barangkali yang dimaksud Jokowi “ayo optimis semua” Sosok seperti Yohanes Budin sahabat saya, optimis setia mendampingi. Pak Yustinus, kepala desa Tanjung Beulang optimis masih aktip hadir bersama kelompok. Kek Doyan sudah tua namun bibit karet sudah terawat baik di kebun sediri. Mudah mudahan 7 kk yang telah menanam di kebun sendiri menyemangati mereka yang masih dalam tahap menyiapkan lahan. Yang 3 kk jangan marah ketika karet anda yang tidak terawat justru dirawat oleh mereka yang sangat memerlukan. Yang penting optimissssss, namun jangan dibuat-buat.
Sampai saat ini sisi pencerahan dan optimisme masih saya miliki. Saya masih akan menyampaikan laporan saya untuk terakhir. Dimanapun nanti saya, apapun dan siapapun saya 4 hal yang akan selalu saya kenang. Apa  kegiatannya, apa tantangannya, apa pembelajaran, dan apa rekomendasinya kedepan.


Optimis mampu menghadirkan semangat belajar. Optimis itulah mampu menciptakan dan menyemangati diriku. Trimakasih kawan, trimakasih Pak Dony. Sampai ketemu di pertengahan September, harap Alvaro Gabriel Akur beserta ibunya sehat.Salam DA. (mrsl) 

Selasa, 25 Agustus 2015

Ini alasan, kenapa kelompok dampingan semakin berkurang...



bibit karet unggul sudah payung tiga
Dari 30 anggota, tinggal 23 orang yang setia bergabung dalam program IBF (inisiatif basket Fund) sebuah pendampingan dengan pendekatan Communty managed(CM). Seleksi alam dan perampingan kelompok ini terjadi pada waktu kunjungan staf dan direktur CKK Rabu, 19-20 Agustus 2015 dalam rangka monitoring dan praktek lapangan okulasi karet unggul di komunitas Tanjung Beulang Serengkah. Hadir anggota kelompok untuk mengikuti pelatihan okulasi sebanyak 23 orang. Staf CKK yang hadir, Marselus, Yoh Budin, Petrus Apin, Ign.made.
Diskusi mengenai peleburan kelompok ini cukup seru. “Betulkan romo, sejak semula saya yakin hanya kelompok ini yang akan bertahan” komentar Kek Doyan menjawab kenapa jumlah kelompok berkurang. Tutur dia  lebih lanjut, ”kita-kita inilah yang sejak awal ikut bicara, berdiskusi, merencanakan kegiatan ini, yang lain hanya merasa tertarik, mendengar dari orang lain, melihat kegiatan kita bagus namun sesungguhnya tidak mengikuti proses dari awal”.
tetap anthusias
 “Kita coret saja mereka yang sudah beberapa kali tidak hadir, melemahkan semangat yang aktip saja” sela Iba.

Dalam arahan singkat, Direktur Caritas Ketapang mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya jumlah target pendampingan awal untuk kelompok budidaya karet unggul untuk Bapak bapak adalah 15-20 KK, sementara pendampingan kelompok ibu-ibu untuk pengolahan bahan lokal dalam usaha meningkatkan asupan gizi anak 15 ibu-ibu. Namun ketika pembentukan kelompok melalui SKLP (study kelayakan livelihood promosi), anthusias warga sedemikian tinggi, sehingga fasilitator menerima pertimbangan Kepala Desa untuk menampung orang yang mau bergabung, asal ikut kesepakatan. Jadilah jumlah kelompok dampingan menjadi 30 orang dibagi dalam dua kelompok.

“Saya hanya tidak ingin mengecewakan warga yang hadir waktu itu” Ungkap Yustinus. Menurutnya, semakin banyak warga ikut dan terlibat, apalagi berjanji untuk berswadaya, akan semakin baik bagi pembangunan desa Tanjung Beulang ini.
“Namun maksud baik saya tidak sepenuhnya benar”. ujar Kepala Desa ini kesal. Lebih lanjut ia mengajak anggota yang hadir untuk tetap satu hati melanjutkan kegiatan dalam kelompok dan belajar berproses.  
“Jumlah banyak tidak menjamin apa-apa, semuanya ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk anak cucuk kita” ungkapnya menantang.

Kelompok yang dulunya terdiri dari dua kelompok, meleburkan diri menjadi satu kelompok dengan nama “Sinar Baru”. Mereka berjanji untuk tetap meneruskan belajar berproses dalam kegiatan kelompok.

Selama pendampingan telah dibagikan  kepada masing-masing anggota sebanyak 30 orang, 4000 batang stump karet unggul sebagai inisiatif awal. Bibit karet unggul (stump) itu  harus dirawat, kemudian dipindahkan ke lahan masing masing.  100 batang disisihkan dan ditanam di lahan kelompok untuk sumber mata entres. Setiap keluarga sepakat untuk  menanam 400 batang di lahan seluas  1 hektar. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pendampingan kita mengajarkan mereka untuk belajar praktek okulasi, agar mereka bisa mengusahakan sendiri kekurangannya, tanpa harus tergantung dari bantuan.

Pertengahan September ini, program IBF berakhir. Dari hasil monitoring lapangan , kami melihat ada 23 kk yang aktip merawat dan memelihara batang stum hingga payung tiga, artinya sudah siap dipindah ke lahan sendiri. Ada 7 orang sudah menanam bibit karet unngul di lahannya sendiri, 7 orang sudah membawa dan menyiapkan penanaman ke lahan mereka, namun belum menanam. Ada 6 kk yang masih membiarkan bibit itu di lahan bersama, namun tetap merawatnya, akan memilih waktu yang tepat, ada 3 yang tidak merawat sehingga kerdil. Untuk itu mereka yang kurang memperhatikan dan kurang aktif, bibit diserahkan kepada mereka yang sudah siap menanam. Itulah semangat kebersamaan kelompok  Sinar Baru yang dipimpin oleh bapak Iba.
Tantangan utamanya menurut mereka ialah waktu banyak  tersita untuk menjaga tanah pedahasan agar tidak diukur orang lain. Akhir-akhir ini orang begitu mudah mengaku bahwa tanah ini miliknya, kemudian menandai dengan patok atau rentesan, lalu menjual ke pengepul tanah (toke). Itu alasan mereka beberapa kali absen praktek okulasi bersama dalam kelompok.

Pembelajarannya ialah, tetap setia mendampingi mereka yang tetap mau membantu diri mereka sendiri untuk membela masa depan yang lebih baik. Tidak semua happy dengan sawit, namun juga harus ada program yang berarti untuk mereka yang tetap mencintai matapencaharian dari menoreh karet. Bukan penampilan, tapi pola, keteraturan. semoga(Mrsl)

Rabu, 19 Agustus 2015

Kantor Caritas Ketapang mendapat kunjungan dari USAID-IFACS Jakarta




Pak Reed diterima di ruang meeting CKK
Kantor Caritas Ketapang tiba-tiba mendapat kunjungan dari Usaid-Ifacs Kamis, 19 Agustus 2015, pk 10.00. “Kami mau pamitan saja “ ucap Donatus Rantan yang ditemani oleh  tamu yang tidak asing bagi kami yaitu Pak Reed Meril dan Pak Nazar, serta pak Christianus Atok.

“Kami juga sudah pamitan dengan grantee lain seperti Asri di Kayong utara”  ucap pak Christianus Atok yang ikut menemani para petinggi Usaid Ifacs Jakarta.

Usaid Ifacs  dengan lembaga mitra yang ada di landscape Ketapang,  dimana Pak Donatus selaku Deputy Regional Manager, bersama Crhritianus Atok sebagai governance specialist, sudah lima tahun berkarya di wilayah Kalimantan Barat. Caritas  Ketapang sendiri sudah menutup kerjasama program dengan Usaid-Ifacs Januari 2015 dengan progam Community consevation livelihood agreement (CCLA).

“Trimakasih berkenan mampir ke kantor kami, banyak pembelajaran tehnis yang telah kami terima bersama team USAID-IFACS” ujar Ign. Made mengawali pertemuan singkat.

 “Untuk kerjasama yang baik selama ini, saya selaku pimpinan perwakilan USAID untuk program climate change di Indonesia (ifacs) menyampaikan terimakasih banyak untuk  Caritas Keuskupan Ketapang,” sambut pak Nazar.

“Saya ingat dua hal yang menarik yang menjadi diskusi kita ketika bicara soal KPH, yaitu pentingnya keterlibatan masyarakat, karena masyarakatlah yang bersentuhan langsung dengan hutan” ujar pak Reed mengingatkan  pertemuan awal dengan lembaga Caritas. Lebih lanjut ia mengatakan: “syukurlah Caritas memperoleh pembelajaran dari kerja sama ini, yakinlah pengalaman yang baik ini akan meningkatkan trust lembaga anda kedepan”

“Pre-award survey yang dilakukan staf Usaid memang sangat ketat dan tuntutannya tinggi”, Ucap Rm. Ign Made, Direktur Caritas. Ia bahkan mengatakan awalnya tidak sanggup untuk melengkapi persyaratan yang begitu berat. Namun dengan dukungan teman-teman, staf karyawan yang bertekad mau belajar, kerjasama program diteruskan.
 "Yah  akhirnya tantangan dan kesempatan saya ambil" kenang pastor Made ditengah-tengah sharing bersama tamu.

Pengalaman bekerja sama dengan USAID memberi banyak pembelajaran untuk lembaga Caritas Ketapang, yang selama ini bermitra dilingkungan Caritas Internationalis. Communtiy managed (CM) adalah pendekatan yang lebih menekankan proses belajar, sementara USAID lebih menekankan “result”. Oleh karena itu kami belajar bahwa proses itu sangat penting dalam sebuah pemberdayaan masyarakat, namun “result” adalah indikator capaian yang perlu agar tingkat keberhasilan kerja bisa diukur dengan pasti.
Sesudah  lima tahun berkarya, kini mereka tidak memperpanjang kerja sama dengan pemda Ketapang, dan meneruskan kemitraan mereka di Kalimantan Tengah dan Papua. Caritas Ketapang sebagai lembaga kemanusiaan yang baru belajar, beruntung mendapat pengalaman bermitra dengan Usaid. Prinsip kerja transparan, akuntabel, profesional namun tetap dengan “hati” mendapat tantangannya. (mrsl)

Kamis, 06 Agustus 2015

Video LokaLatih Resiliensi di Gunung Sitoli



peserta lokakarya


Lokakarya Resiliensi, di Gunung Sitoli Nias pada tanggal 27-30/7/2015,yang dihadiri oleh KARINA bersama 6 lembaga mitra Karitas Keuskupan-Keuskupan (KaRito, KarinaKas, Maumere, CKK, CAKAP, CKS) berhasil mendalami dan merumuskan indikator resiliensi yang baru untuk pembangunan masyarakat. 

Pengelompokan indikator yang dikumpulkan dari hasil sharing dan diskusi kelompok digali dari 3 model pendekatan yaitu API, Livelihood, DRR. 

Pembagian indikator terdiri dari  strategi dan metode, proses, hasil, dan alat verifikasi. Format Indikator Resiliensi tidak lagi berdasarkan karakter-karakter saja seperti, tanggap, tanggon, ulet, dan berdaya melainkan  langsung ke format umum Indikator. Akan tetapi karakter resiliensi KARINA yang telah dirumuskan terdahulu sangat baik digunakan untuk evaluasi di akhir proses. (PA)

MENGURANGI KEMATIAN, BATANG BAWAH DIBERI MULSA ORGANIK

Bulan Juni lalu, kelompok bapak-bapak, Sibau Baru dan Santika, Desa Tanjung Beulang, kelompok dampingan CKK Program IBF ini telah memelihara pohon batang bawah dan mata entres di kebun kelompok. 

Tujuan pemeliharaan adalah agar ketersediaan sumber batang bawah dan sumber mata entres yang akan diokulasi bulan Juli nanti mendapatkan sumber bibit yang berkualitas, bibit calon klon PB 260 ini agar terhindar dari penyakit jamur akar putih (JAP). 

Tindakan pemeliharaan yang dilakukan oleh bapak-bapak adalah membersihkan gulma di sekitar bedeng dan lingkungan lahan sekitarnya dari tunggul-tunggul yang berpotensi JAP. Dampak perubahan iklim, kemarau extrim bisa mempengaruhi tingkat kematian batang bawah cukup tinggi karena kekurangan air. Untuk mengurangi resiko kematian pohon batang bawah, kelompok bapak melakukan mulsa organik. 

Proses mulsa organik, mulai mencabut rumput di sekitar bedeng dan membiarkan gulma-gulma tersebut di atas bedeng dan disekitar piringan lingkar pohon batang bawah. Manfaat mulsa organik adalah menjaga kelembapan suhu tanah cukup stabil, sehingga pohon tidak kekeringan. Manfaat lainnya, upaya memberikan pupuk progresif pada tanaman agar tetap subur. Di depan peserta bapak-bapak, fasilitator lapangan Yohanes Budin juga menyampaikan pesan kepada kelompok ibu, bahwa tindakan adaptif perubahan iklim ini, cara mulsa organik bisa juga direplikasikan pada tanaman muda. Msrl

Grogi Okulasi, 30 Bapak Minta Pendampingan Praktek Perorangan



30 orang kelompok bapak-bapak, Desa Tanjung Beulang mengikuti pelatihan okulasi karet di kebun kelompok. Pelatihan ini difasilitasi oleh Staf Caritas Keuskupan Ketapang dengan program inisiatif basket fund Yohanes Budin. Okulasi batang bawah karet adalah pengalaman baru bagi mereka, dan sebagian masih grogi menggunakan pisau okulasi ketika praktek. Oleh karena itu, anggota meminta kepada fasilitator agar melatih dengan dua cara, cara pertama Sekolah Lapang bersama 14-15/7, sedangkan pemantapan pemahaman agar tidak grogi , fasilitator secara khusus akan memberikan pendampingan praktek okulasi per orangan 23-31/7. Peran fasilitator sangat penting waktu live in, sesekali fasilitator mengikuti kegiatan anggota ke ladang. Dengan demikian, pendampingan per orangan praktek okulasi bisa maksimal dilaksanakan. Budin

Budin menjadi pusat perhatian.

perhatikan baik-baik

sekali lagi perhatikan baik-baik dan teliti

hati-hati jangan sampai terkontaminasi

nah sekarang coba sendiri

semakin sering latihan akan semakin trampil

tu lihat orang tua, serius

oke...oke sip

perhatikan dengan saksama

hanya mereka yang tekun.....

hanya mereka yang berani coba dan tidak takut gagal ...


coba sendiri ya

Adaptasi Musim Kemarau, Mengganti Tanaman Tahan Kurang Air





Dua Kelompok Ibu, Tanjung Bulang dan Sengkayang Titi Kapol, Desa Tanjung Beulang Kecamatan Tumbang Titi mampu mengidentifikasi potensi kerentanan dan kapasitas tindakan adaptif mempertimbangkan perubahan iklim (PI)terhadap tanaman muda. Bersama dengan fasilitator Yohanes Budin, mereka memonitor pemeliharaan sayur, agar bisa memantau perkembangan tanam tumbuh mereka.

Pasti ada tantangan dan kesulitan, tapi lihatlah itu sebagai kesempatan baik, nasehat Bapak Budin. Sejak Juli, musim kemarau extrim membuat tanaman sayur menjadi kering kekurangan air. Apalagi lahan sayur mereka jauh dari sungai. Dalam kondisi seperti ini tanaman layu dan rentan terserang hama dan penyakit. Agar tidak menjadi sia-sia, 26 ibu-ibu bersepakat tidak lagi menanam sayur, tetapi merawat yang sudah ada sambil mencoba tanaman yang mampu hidup ditanah yang kurang air, seperti lengkuas, kunyit dan jahe.Mrsl.

VIDEO : MONEV KARINA - CKK JULI 2015


Monitoring dan Evaluasi KARINA - CKK ke KSM di Kontok, Jangat, Sei. Bansi, Giet, pada bulan Juli 2015.

VIDEO : MONEV KARINA - CKK MARET 2015


Monitoring dan Evaluasi KARINA - CKK ke KSM di Kontok, Jangat, Sei. Bansi, Giet, pada bulan Maret 2015.

MENCAPAI TARGET, OKULASI DENGAN CARA ROYONG

 

Ayo coba terus..


Berdasarkan Rencana Kerja Tahunan (RKT), KSM Siling Pancor Aji harus mempersiapkan lagi ribuan batang bawah karet lokal untuk menutupi kegagalan okulasi. Faktor kegagalan okulasi adalah karena sebagian besar anggota belum merata terampil okulasi, dan faktor kesibukan berladang mempengaruhi ketidakaktifan anggota melakukan budidaya karet unggul. 
Hal itu diamini oleh pak Mungkin selaku ketua KSM. "sulit sekali bagi kami untuk tidak membayar utang odi kampung" katanya lebih lanjut, "bila tidak bayar utang odi malu rasanya".

Oleh karena itu Jelly Karel selaku pendamping, berusaha untuk mencari jalan dan upaya yang pas dengan kalender musim, agar pendampingan  jalan, odi atau bayar utang kerja ke ke tetangga  tetap jalan. Pendekatan yang digunakan adalah live in dan Sekolah Lapang (SL), baik perorangan maupun kelompok. Namun demikian, hasil pendampingan seringkali menemukan kegagalan dikalangan  anggota KSM sendiri.

Peran fasilitator sangat penting menemukenali metode yang cocok untuk pendampingan.  Minggu, 12 Juli 2015 fasilitator mencoba mengajak anggota melakukan praktek ulang teknik okulasi dan panen mata entres. Lewat SL penyegaran ini, diharapkan kepada 7 anggota dapat lebih terampil okulasi dan menjadi pioner bagi anggota lainnya. Mencapai target jumlah batang bawah dan okulasi, anggota KSM bersepakat akan menerapkan cara royong (mutual help) melakukan okulasi batang bawah, dengan demikian semua anggota dapat merata merasakan keberhasilan okulasi. Jelly.

Mengatasi Harga Turun, KSM PB Menjual Karet Langsung ke PT.KP


Penimbangan BoKar
Pemisahan BoKar basah dan kering


Pembongkaran
selfi bersama di pabrik


Negosiasi Harga
diskusi RTL


PT.KP,KSM,CKK
Pembagian Hasil





total uang 17,5 juta rupaih
“Mau membeli 1 kg gula pasir saja, kami harus menjual 2-3 kg karet ujar pak Mong, bendahara KSM Pateh Banggi.” Harga sembako selalu melambung tinggi di saat harga karet turun, ini adalah pengalaman riil kami di pedalaman, dusun Mengkaka desa Merawa. 

Ketua KSM PB Sojung mengatakan, kami mengakui, kami memang memiliki banyak aset rill seperti kebun karet lokal, kebun buah, dan lain-lain. Namun, katanya lebih lanjut, "aset-aset tadi tidak bisa memberi kami uang dengan cepat". Ia juga berkisah bahwa buah-buahan baru bisa dibarter dengan uang hanya kalau musim buah, tiba. Kejadian seperti ini hampir terjadi di semua perkampungan  Dayak. Nampaknya sistim barter tidak laku lagi. Hanya saja saat ini kami semua terpuruk karena karet yang menjadi handalan kami tidak mampu menyangga kehidupan ekonomi kami, katanya berkaca-kaca. Ia tidak mampu menyembunyikan keresahan hatinya karena, tuntutan hidup semakin berat. Biaya untuk anak-anak bersekolah, biaya gotongroyong (odi) memerlukan banyak uang.

Secercah harapan muncul kembali, beberapa anggota KSM PB merasakan adanya jalan keluar sementara dengan adanya kerja sama kelompok KSM dan  pabrik karet PT KP. Tayan. "sedikit lega" ujar pak Mong. Semuanya ini berjalan berkat pendampingan dan fasilitasi oleh fasilitator Caritas Keuskupan Jelly Karel Peyoh. 

Kelompok ini sudah ± 3 tahun menjalani program promosi mata pencaharian yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Caritas. Budidaya karet unggul yang dilakukan oleh KSM PB bisa disadap tahun 2018, sekarang umurnya baru setahun. Model ini dikategorikan  tanaman karet belum menghasilkan. Bulan April, KSM PB mendapat kunjungan sosialisasi dan pelatihan membuat bokar bersih dari 2 staff PT.Kirana Prima. Sejak April sampai Juni, anggota mempraktekkan metode yang diajarkan dan mengumpulkan karet lokal dulu.

Mewakili kelompok, bendahara KSM, Martinus Mong didampingi oleh fasilitator berhasil menjual 2,3 ton bokar langsung ke pabrik karet (PT. Kirana Prima di kecamatan Tayan) 27-28/7.  Dua staf pabrik Bp. Andu dan Bp. Ragil turut serta menjemput angkutan dari komunitas hingga proses negosiasi harga langsung dengan Manajer Pembelian (Bp. Walizar). Setelah menjalani proses penimbangan dan transaksi uang, Martinus Mong mendapat penjelasan dan informasi terkini mengenai harga bokar, beserta panduan pengaturan bokar sebelum penjualan.  

Pihak pabrik, Menejer Pembelian Walizar menyarankan kepada KSM, untuk penjualan berikutnya agar mendapatkan penentuan harga yang lebih baik olahan karet harus lebih berkwalitas.

Strategi KSM untuk berjejaring langsung dengan PT.KP memberi dampak positif dan manfaat bagi anggota KSM Pateh Banggi khususnya. Anggota merasa terbantu  karena  mendapatkan harga yang pantas, dibandingkan hasil mereka menjual kepada pengepul lokal, dimana terkadang , ada selisih mulai dari Rp.1.700,- s/d Rp.2.200,- per kilogramnya. Sebuah pembelajaran,  harga diperhitungkan berdasarkan jenis kualitas kadar karet kering oleh pabrik. 
Total nominal hasil penjualan karet bersama mencapai jumlah Rp. 17,5 juta, dan kelompok menyepakati dan menyisihkan untuk kas sebesar Rp. 215.000,-.Kini anggota semakin termotivasi menjual karet lagi ke pabrik secara langsung, bahkan 3 orang anggota KSM pedagang lokal (Kiti, Bansen dan Katen) semakin tertarik menjual kembali lewat KSM PB. (Jelly)

Rabu, 05 Agustus 2015

Wajah rumah di Empranang,desa Merawa, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang.


  
Inilah salah  satu wajah rumah keluarga di pedalaman Ketapang Simpang Hulu. Sering kali para pemimpin dalam setiap kesempatan   omong, “Siapa bilang Ketapang miskin. Kalian sesungguhnya adalah kaya. Ketapang itu kaya. Kata-kata itu  sungguh menghibur. Namun, tak semua bisa merasakan hal tersebut.  Jangankan tidur di tikar, dengan bantal, cukup di galar, dengan atap yang sudah bolong saja sudah nyaman. Bila gerimis tiba akan membuat resah dan  tak bisa tidur. Apalagi jika hujan deras bisa-bisa rumah terbang terbawa angin. Nasibmu oh pedalaman yang kaya, namun rakyatnya miskin…. Ujar sang pemimpin dari mimbar.
  

Dapur  dengan seisinya, mungkin jauh dari asupan gizi. Mereka juga tidak peduli. Mungkin karena itu, mereka tak pernah merasa risi dan iri. Ada nasi meski tanpa lauk. Cukup daun singkong, itu sudah modal untuk mengumpulkan sisa tenaga mencari rejeki kehidupan kembali. Kaya? Ya Ketapang kaya, tapi rakyat Ketapang miskin, kata pemimpin dalam pertemuan politik.

Rumah seadanya, tapi tak  mengeluh. Namun akses jalan kepedalaman yang buruk membuat setiap orang yang lewat mengutuki, mengumpati pemimpinnya agar mampus. Siapa bilang Ketapang Kaya? Siapa pun anda, pasti juga ingin mendapat akses  yang baik, minimal jalan, agar bisa menjual hasil kebun  dengan mudah. Ingin menyegarkan mata sekadar melihat kota Kecamatan setelah berminggu-minggu bekerja, rasanya berat dan capek. Namun mereka bilang, Ketapang kaya, tapi rakyatnya miskin, kata sang pemimpin dari mimbar., Oh oh

Kampung Meranang, wilayah antara Sie Bansi dan Empasi, nasibmu memang merana. Semua yang ada kini sudah diambil oleh orang rakus. Sungai-sungaimu yang dulu jernih kini sudah keruh dan pekat oleh keraskusan manusia penambang emas tanpa ijin. Sanitasi dan air yang tidak memadai apalagi memenuhi syarat kesehatan, sudah sulit dijumpai. Makan sesuap perlu torehan karet dua kilo. Sekali lagi saudara-saudaraku, Ketapang kaya, tapi rakyatnya miskin, kata sang pemimpin dari mimbar.
 
 Untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok sehari-hari mereka makan dari hasil panen kebun mereka yang tak begitu luas lagi karena sebagian sudah dijual ke perusahan, seperti jagung, daun pepaya, daun singkong, , lombok.



Sedangkan untuk keuangan, mereka kadang menoreh, kadang menjadi buruh sawit atau menjual hasil ternak mereka berupa babi, ayam, atau itik. Semuanya menyatu dengan rumah.. Yang jelas mereka tidak pernah mengeluh soal rumah. Meskipun mereka merasa berkekurangan, namun mereka tidak pernah merasa miskin, tapi juga tidak berani mengatakan kaya. Oh pemimpinku(adi)

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com