CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Jumat, 29 Agustus 2014

Writeshop Identitas,struktur,konteks, DA Karina.


Caritas Ketapang News-  Caritas-caritas Keuskupan penerima program DA (diocese accompaniment) yang terdiri dari Caritas Ruteng, Sintang, Ketapang dan Amboina, mengadakan  writeshop untuk melengkapi laporan akhir program pendampingan Karina, di Wisma PGI jln. Teuku Umar Jakarta, Kamis,28 Agustus- 1 September 2014.

“berbagi pengalaman tentang pencapaian, tantangan dan pembelajaran serta rekomendasi atas pendampingan Karina, itu tujuan  utama writeshop ini”, tegas Dony, program officer Karina untuk Da.

Pada hari pertama Caritas Amboina berkesempatan untuk membagikan pengalaman menerima pendampingan dari Karina sekaligus  mengevaluasi kegiatan program dana inisiatif selama setahun dalam hal pencapaian, kendala-kendala dan pembelajaran yang diperoleh.

“Konteks pulau-pulau dan staf yang terbatas menjadikan langkah-langkah proses program ini berjalan tidak maksimal” ungkap Nace. Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa meski penerima manfaat sangat anthusias namun bila staf caritas tidak fokus oleh karena begitu banyak jabatan dan tugas, tiga dimensi pendampingan berjalan tidak seimbang. Namun dia mengakui bahwa banyak hal berubah setelah menerima pendampingan dari DA Karina.

“Nilai dalam pelayanan menjadi roh dari setiap pengabdian kita bercaritas” ungkap Stefani dari  Caritas Italiana yang menjadi pendukung utama dari program DA. Pada kesempatan yang sama Mathew menambahkan, tentu tata kelola yang memadai akan menjadi nilai tambah dan perekat dalam pelayanan. Lebih jauh Mathew suami dari Stefani ini berkeyakinan, penguasaan akan peta persoalan di lapangan (konteks) akan semakin melengkapi kwalitas pelayanan untuk mereka yang rentan. Demikian tiga dimensi itu, identitas, struktur, konteks menjadi three in one, imbuhnya.

Menjawab pertanyaan Bapak Heri dari carititas Ruteng, atas paparan Rm. Ewaldus tentang tiga dimensi Caritas yang menjadi ujung tombak pendampingan DA, beliau, Rm Ewal menegaskan, “sangat pentinglah untuk memulai program pertama-tama dari apa yang menjadi kebutuhan komunitas, dan itu diperoleh dari assessment yang baik dan benar”.

Caritas Ketapang bergabung dengan Karina DA sejak Februari 2014. Pengalaman mengadakan interview di 5 wilayah regio Ketapang dalam rangka memetakan tingkat kerentanan masyarakat, menjadi pengalaman baru, papar Made, Direktur Caritas Ketapang.
“Ternyata tidak mudah untuk menggali langsung  tokoh-tokoh yang bersinggungan langsung dengan keadaan kongkrit”, ungkap Marsel salah seorang relawan Caritas Ketapang yang terlibat dalam proses profiling.

Profiling adalah sebuah usaha untuk memetakan persoalan yang ada di wilayah pelayanan. Dari hasil profiling diharapkan ada scoring nilai atas  persoalan, dengan identifikasi prioritas, minimal menyangkut lima hal yaitu, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial religius, culture. Dalam perjalanan analisa atas hasil profiling, perlu juga menyeimbangkan dengan data dari Kecamatan, BPS dan Gereja lokal.
Masih ada tahapan untuk benar-benar memastikan bahwa wilayah tertentu memang dikatagorikan sebagai wilayah yang memiliki persoalan yang tinggi terutama dari kekurangan akses terhadap ekonomi, pendidikan, kesehatan dan  soal dalam sosial budaya.

Dari identifikasi hasil profiling inilah didapat locus, wilayah  yang akan diassesment dalam rangka mengumpulkan  data dan mendapatkan infomasi yang seluas-luasnya mengenai persoalan yang nyata dialami komunitas. Hasil itu kemudian dikompilasi.

Dari hasil kompilasi dengan metoda random ini kemudian dikonfirmasikan kembali dengan para tokoh dari komunitas yang bersangkutan apa benar persoalan yang kami temukan dari hasil assesement tersebut, benar-benar menjadi persoalan mereka. Kemudian dibahas akar masalahnya dicari obat penyembuhnya yang nanti akan menjadi sebuah intervensi pelayanan.

Dan itulah yang akan menjadi program pelayanan, yang masih harus ditulis dalam bentuk proposal yang benar, berdasarkan persoalan yang dialami masyarakat, mimpi mimpi masyarakat dimasa yang akan datang. Sesudah penulisan proposal selesai dan diapprove barulah kita mengadakan kick-off meeting untuk implementasi dilapangan.

“nah hari ini kita akan menulis kembali laporan dan pertannggunjawaban atas program kita, tandas kembali ketua program officer Dony, mengakhiri sesi pertama pertemuan hari ini. Welldone.

Selasa, 26 Agustus 2014

praktek pertanian yang baik.

saatnya menanam sayur

perhatikan baik-baik

ini dia

100 ibu-ibu Desa Sepotong dan Kepari mengikuti pelatihan pertanian tumpang sari

Caritas Ketapang- 100 ibu-ibu dari desa Sepotong dan Kepari mengikuti  praktek menanam yang baik,  yang diselenggarakan oleh Caritas Keuskupan Ketapang bekerja sama dengan Usaid Ifacs, 14/8/2014. Pelatihan ini diadakan untuk meningkatkan ketrampilan para ibu-ibu Sepotong dan Kepari dalam bertani yang baik, dan memotivasi mereka untuk dapat memanfaatkan tanah untuk tanam tumpang sari diantara kebun karet mereka, kata Hendrikus, fasilitator Caritas Keuskupan Ketapang membuka kegiatan ini.

“Bagi kami ini kegiatan yang tidak lazim”, sambut ibu Nova dari Sepotong. Apa lagi kami ditest diawal pertemuan, sungguh membuat kami malu-malu untuk menjawab, apa lagi menulis ke depan, imbuhnya dengan penuh semangat.

Pelatihan budidaya tanaman tumpang sari seru dan  menarik perhatian banyak ibu-ibu,  kegiatan ini  belum pernah diselenggarakan di kampung ini, yang kedua karena kami dipaksa untuk belajar mencoba menanam sayur sendiri, tidak hanya beli, dan tergantung dari hutan, ibu Herni mengutarakan anthusiasmenya dalam sambutan pembuka acara kegiatan ini.

“Betul sekali”, tambah ibu Wati, selama ini kami membeli sayuran dengan penjual sayur dari Laur. Hutan juga menyediakan banyak sayur bagi kami, imbuh Ibu Nova.

Para ibu yang sebelumnya menerima pelatihan kepemimpinan organisasi, telah membentuk kelompok-kelompok, dan sepakat untuk menjadikan kelompok tempat untuk berbagi kerja dan melakukan kegiatan bersama seperti praktek pertanian tumpang sari.

Rencananya tgl.26-27/8  mereka juga akan mengikuti pelatihan okonomi rumah tangga, dengan harapan agar para ibu di pedalaman trampil dalam pengaturan finansial (finansial literacy). Marsellus



Senin, 25 Agustus 2014

Tokoh Sepotong duduk bersama merencanakan pemantauan CCLA.


Caritas-Ketapang- Urun-rembug pengawasan terhadap kesepakatan  kelestarian hutan berlangsung di Sepotong, Jumat, 15/8-2014. Hadir pada pertemuan itu adalah perangkat desa, yang terdiri dari Kepala desa, Sekdes, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat yang mewakili desa Sepotong.

“Pertemuan ini menjadi penting karena pengawasan dan monitoring menjadi alat kelengkapan CCLA untuk  memastikan apakah kesepakatan berjalan atau tidak”, ungkap Jusuf Mulyono fasilitator Caritas Keuskupan Ketapang.
Lebih jauh Dia mengingatkan kembali kesepakatan yang telah ditandatangani dalam papan kesepakatan. 5 hal kesepakatan itu paparnya singkat   adalah:
·       sosialisasi secara menyeluruh melalui pertemuan-pertemuan;
·        penanaman berbagai jenis pohon yang menyimpan air;
·        mencegah kebakaran dengan membuat jalur-jalur bersih
·     membentuk team pengawas desa untuk menjaga serta menjatuhkan sangsi adat bagi yang melanggar kesepakatan.

Kepala Desa Sepotong, Petrus Loji berpendapat, kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam melestarikan lingkungan kerja sama Caritas Ketapang dan Usaid Ifacs ini sungguh menggerakan masyarakat kami. Kami sangat mengapresiasi, imbuhnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa akan menggunakan alokasi dana desa (ADD) untuk menghijaukan daerah aliran sungai utamanya zona air bersih untuk masyarakat ini dengan menanam tanaman seperti kopi, kemiri. “Harus kita buktikan dengan tindakan nyata”, tegasnya dalam pengarahan singkat.

Diskusi yang seru ini juga berkembang pada soal keberlanjutan. Senada dengan program perencanaan dari Desa, guru agama wilayah Paroki Septong Aloysio mengingatkan bahwa program seperti ini harus berlanjut, jangan hanya berhenti pada kesepakatan papan saja.

Sementara itu Sekdes yang juga hadir pada kesempatan itu mengingatkan kepada peserta diskusi bahwa tantangan kedepan sangat berat. Mudah berbicara, mudah omong mudah menanda tangani  kesepakatan, tapi dalam pelaksanaan kerja, banyak yang acuh.
“Saya sudah mencatat 10 perangkat desa untuk menjadi pengawas tetap, kita lihat nanti”, tantang  Suanto.

Kedepan kami sangat berharap kita tetap kompak, tidak menunggu perintah, karena air ini untuk desa kita, ungkap guru SMP  Alfonsus,Alpino. Lebih jauh dia mengajak para peserta diskusi untuk aktip berpartisipatif bergerak menjaga api musim kemarau ini.

Sebelumnya, Desa Kepari yang menjadi tetangga Warga Sepotong juga mengadakan forum diskusi untuk membahas kesepakatan yang telah tertulis dalam papan kesepakatan  menjaga bukit Tambun, 13/8-2014. Mereka bahkan menandai kesepakatan tersebut dengan adat bebantant 25 Juli 2014 yang lalu. Salam CCLA. (Community Conservation Livelihood Agreement)

Minggu, 17 Agustus 2014

Hening sudah


Asal bisa lewat
hening sudah hatiku,
keluh warga Giet
tapi sampai kapan
wahai hamba-hamba pelayan bangsa,

warga ingin jalan yang lebih baik
warga ingin pendidikan yang lebih baik
warga ingin kesehatan yang lebih baik
warga ingin penghidupan yang lebih baik,

tugas kami memohon
namun bukan karena belas kasihan, melainkan
sadar bahwa kami pewaris kehidupan ini,
yang punya tanggung jawab mengaturnya.
(cmlp-2014)

Hening sudah; jalanku tak kunjung hebat


hening dalam suasana 69 tahun merdeka
hutanku dibabat sang penguasa yang hebat,
tetapi juga oleh rakyat yang yang dipaksa terlibat,
hal hasil.....
jalan-jalan ku tak kunjung hebat,

Hening sudah,

69 tahun merdeka, semoga pemimpin berkaca,
karena rakyat mulai tak kenal kasta.
md.17.8.14

Hening Sudah: Tergerus


Hening Sudah

Tergerus dan akan tergerus terus
akibat salah urus
oleh satu saja manusia yang rakus,

Hening sudah dikau sumber airku
menarilah tapi jangan jauh berlari
tegak berdiri
sampai waktu memisahkan diri.
md

Hening Sudah: sepi sunyi sendiri

Hening sudah
Sunyi sepi sendiri 
meranti ku kini,
berdiri seorang diri
tiada yang peduli

Hening sudah,
segalanya tinggal kisah  iba
menanti cerita ria dari kakek yang sudah renta,
Betara, kembalikan merantiku lagi agar heningku   dapat kureguk kembali.md



Hening sudah: Merana





Hening sudah.
Hutanku merana, tinggal tunggu asa,
mereka berlomba-lomba, memaksa nyawa,
hingga yang tersisa adalah luka menganga.
Hening sudah,
paru-paru dunia tersiksa oleh dera sang penguasa,
tidak lokal, tidak international, bahkan multinasional,
transaksional.
Hening sudah,
akan kah menguap belarasamu kawan?




Sabtu, 16 Agustus 2014

team UAJ

dari kiri, iwan, Rektor UAJ, Pak Yongki,Pak Suparno, Wiji

Bpk Yongki Bapak Uskup dan Bpk Mariatma (rektor UAJ)

UAJ kirimkan 50 mahasiswa KKN ke Keuskupan Ketapang


dari kiri Bapak Yongki, Mgr Pius, Rektor UAJ,Bapak Mariatma
  
Caritas Ketapang- Universitas Atmajaya Jogjakarta (UAJ) akan mengirim 50 mahasiswanya ke wilayah Keuskupan Ketapang untuk program Kuliah Kerja Nyata. Kelimapuluh  mahasiswa UAJ itu akan berada di Kabupaten Ketapang dari  Desember 2014 hingga Januari 2015.

Demikian disampaikan wakil ketua LPPM, Ir. Yongki Surya Dharma, MT,  dalam lawatannya ke Wisma Keuskupan Ketapang, Jumat (14/8) kemarin.

“Pintu masuk kegiatan kami ini melalui Keuskupan Ketapang,” Kata Yongki.

Kerjasama ini  dimulai sejak MOU antara UAJ dengan Bapak Uskup Ketapang di tandatangani 2 bulan yang lalu. Yang bertanda tangan adalah Bapak Uskup Pius Riana Prabdi  dan Yongki selaku wakil UAJ.

Tujuan dari pengiriman mahasiswa untuk KKN ke wilayah Keuskupan Ketapang ini menurut Yongki, antara lain untuk memetakan persoalan-persoalan masyarakat di wilayah pedalam yang berada dalam wilayah Keuskupan.

Sementara itu Keuskupan ketapang menunjuk Pastor Vinsensius Bangun Wahyu Nugroho, ketua Komisi PSE merangkap sebagai koordinator kegiatan. Pastor paroki pedalaman dan para pastor dari regio-regio, yang mewakili wialayah regio Utara, regio Tengah, regio Selatan, regio Timur, dan regio Pantai sebagai tuan rumah.

“Ini kesempatan baik, tidak saja buat Keuskupan Ketapang, tetapi juga baik buat insan pendidikan tinggi seperti UAJ untuk  memotret kehidupan warga dan umat Ketapang dari insan calon-calon pemimpin yang akan terjun langsung dalam praktek kuliah nyata”, ungkap Bapak uskup yang akrab disapa Mgr. Pius.

Lebih jauh Mgr. Pius memaparkan, kehadiran investor yang membuka perkebunan di Ketapang  membawa banyak perubahan, seperti akses jalan ke kampung mulai terbuka, namun tidak jarang muncul konflik diantara penduduk, dengan berbagai kepentingan.

Selain Uskup Ketapang, Romo Bangun menambahkan bahwa pengalihan hutan untuk perkebunan ataupun pertambangan mengakibatkan terjadinya banyak hutan dan tanah beralih fungsi. Sungai yang dulu jernih, kini menjadi keruh. Lingkungan hutan yang hijau kini banyak yang telah di-steaking (direbahkan atau diratakan, Red) sehingga sejauh mata memandang yang ada adalah hamparan kayu rebah dan kering siap dibakar. Tentu saja ini akan mengakibatkan udara  semakin panas. Selain itu tambah dia, penjualan tanah yang masif tak terhindarkan lagi. Karena itu Romo Bangun  melalui komisi Justice and Peace Keuskupan Ketapang berusaha mengadvokasi masyarakat agar menjaga dan melindungi tanah mereka dari serbuan berbagai macam kepentingan.

Sementara itu Yayasan Usaba (YUSABA) Rm. Pamungkas menyampaikan bahwa kwalitas  pendidikan yang sangat rendah dan tingkat kehadiran guru sering dipertanyakan warga kampung pedalaman.

Beberapa Kecamatan di pedalaman ini kata Pamungkas kini telah berdiri SMP, SMA dan sekolah kejuruan. Tentu ini akan memberi peluang untuk anak-anak pedalaman menimba ilmu sebelum ke bangku kuliah.

“Hanya persolanannya, seberapa jauh anak-anak pedalaman mampu bersaing ketika mutu pendidikan dipertanyakan,” ungkap Romo yang juga guru SMAK Semandang ini.

Rektor UAJ, Mariatma memberikan kesempatan beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Baik yang direkomendasikan oleh sekolah, maupun oleh pastor paroki.

“Pintu masuk kami adalah Keuskupan, ini  tonggak sejarah bagi lembaga kami, “ kata Mariatma. Dia juga sangat berharap ini menjadi awal yang baik untuk kerjasama UAJ dengan Keuskupan Ketapang. Mulai dari bidang sosial budaya, pendidikan, kesehatan lingkungan, peternakan, pertanian, perkebunan, meski sebatas hadir melihat, memetakan persoalan (profiling).

Pertemuan pihak UAJ dengan Keuskupan Ketapang Ini juga dihadiri oleh Vikjen Keuskupan Ketapang, Rm Sutadi dan bendahara UAJ, Suparno.

Diakhir pertemuan, Yongki mengatakan mahasiswa yang akan mengambil kuliah kerja nyata di wilayah Keuskupan Ketapang, akan berangkat dengan menggunakan Kapal Laut. Diharapkan mereka sudah sampai di Ketapang 20 Desember 2014.  Setelah mendapat pembekalan tambahan tentang adat budaya dan informasi lainnya dari Uskup Ketapang, peserta akan disebar di 4 wilayah regio Keuskupan Ketapang. Well-done.(md)

Jumat, 08 Agustus 2014

Foto-foto kegiatan KSM Jangat dan uncak Kontok

mengukur lahan baru
urunan beli kawat pagar

duduk berkisah

memagari kebun entres

Memagari kebun sumber mata entres KSM Uncak Kontok



Caritas Ketapang- Bapak Aloysius selaku koordinator lapangan CMLP terkesima menyaksikan anthusiasme warga untuk melindungi kebun entres ketika mengadakan kunjungan  lapangan ke komunitas Uncak Kontok, 22 Juli 2014. Dia mengungkapkan kegembiraannya ketika melihat warga memagari kebun entres masyarakat dengana kawat berduri. Menurut dia hal tersebut sangat menggugah dan memberi semangat baru untuk pendampingan CMLP tahap 2.

"Keberlanjutan program seharusnya berjalan seperti itu, kalau mereka mau semakin riselien dan ketika kami mundur dari pendampingan, justru warga tetap melanjutkan", imbuh bapak Aloysius Rachmad ketika mengadakan kegiatan baseline data  dan orientasi pendampingan CMLP 2.

Perlu diketahui kelompok swadaya masyarakat yang menamakan diri KSM Uncak Kontok, dan Ka Jaka,  kini sudah berusia dua tahun, mendapat pendampingan dari Caritas Keuskupan Ketapang bekerja sama dengan Karina dan Caritas Austria.

“Awalnya kami kawatir ditinggalkan sendiri tanpa dampingan, namun kami tetap berlatih dan merawat sumber mata entres kami”, ujar Liter ketua kelompok Kak Jaka, ketika ditanya selama ini apa kegiatan mereka.
“Pendampingan model PLDM yang berbasis pada proses, butuh waktu dan mahal, ujar Adyanto yang menjadi pendamping kelompok ini.

Mendampingi komunitas dengan metoda community managed, dimana komunitas adalah subyeknya,  sepakat belajar membangun diri mereka dari apa yang mereka miliki, belajar membuat proposal  dengan  cermat mencatat dan menghitung kebutuhan, menganalisa situasi dan keadaan kampung secara bersama dalam kelompok, adalah pendekatan yang coba diperkenalkan kepada KSM ini. Kami berharap mereka punya kemampuan untuk mandiri dan tidak tergantung dari bantuan pihak luar, Ujar bapak Aloysius mengakiri perbincangan kami.


Kamis, 07 Agustus 2014

Monitoring Juli 2014

lauk dori

tetap setia menanam batang bawah

panas-panas

Lahan SPA Masih Terawat Baik



Caritas Ketapang,Team CKK, yang terdiri dari Koordinator lapangan, fasilitator, mengadakan pendataan baseline, untuk mengawali kegiatan pendampingan CMLP tahap dua 20 Juli 2014 ke Giet. 

Kunjungan ini dalam rangka memastikan kepada KSM Siling Pancur Aji, bahwa  CMLP tahap dua akan berlanjut. "Sungguh kami terkejut namun bangga" Ujar  Bapak Aloysius Koordinator lapangan Devisi CMLP Caritas Keuskupan Ketapang ketika ditanya kesan-kesan kunjungan pertama periode ke dua Community managed livelihood promotion (CMLP).

"Walau kami tidak didampingi lagi, kami tetap menjaga lahan entres kelompok kami, dan kami tetap menanam batang bawah, ujar pak Pede menyambut kami di lahan demplot milik kelompok.

KSM Siling Pancor Aji terlihat masih sangat serius dalam kegiatannya. Walaupun sudah sekitar 4 bulan tidak didampingi Caritas Keuskupan Ketapang dengan intensif, ternyata KSM ini masih giat menjaga lahan entres mereka. Terpantau oleh Fasilitator CKK saat  team Caritas berkunjung ke kelompok SPA.

"Awalnya juga kami pesimis, ternyata  batang bawah karet lokal bakal okulasi  yang tumbuh di antara entres karet unggul masih tetap terawat baik", ucap pak Yulianus anggota KSM yang menyambut team di lokasi demplot milik KSM.(ckk)

Menari



Menari

"Kegembiraan yang kami  rasakan lengkap sudah" ucap Gontang sambil menari, pada kegembiraan ulang tahun KSM Pancur Silinbg Aji. Menari sambil mengenakan seragam KSM biru dengan hiasan daun yang disematkan diikat kepalanya, terlihat lucu.

 "Kami berterimakasih karena CKK berkenan tetap mendampingi kami, kami berjanji akan bekerja keras bersama kelompok, ucap pak Yulianus.

Sesudah itu acara dilanjutkan dengan  menikmati perjamuan makan bersama anggota KSM Siling yang biayanya mereka tanggung bersma-sama, sambil  bersenda gurau dan menari. 

“Hari ini saya bahagia sekali. ini adalah hari yang sangat dinantikan seluruh anggota. Bagi kami, ini adalah cara kami untuk menghargai semua usaha yang dulu belum pernah kami lakukan melalui KSM”, kisah  Pak  Pede, sekretaris KSM Siling Pancor Aji.(Aloy)

Makan Bersama di Hari Jadi Siling Pancor Aji ke-2


CKK- Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Siling Pancor Aji, kampung Giet Desa Merawa, yang usianya Genap 2 tahun , mengadakan syukuran bersama di rumah ketua kelompok,dengan makan bersama  21 Juli 2014. 

Pristiwa ini pantas kami kenang dan syukuri karena pendirian kelompok ini punya sejarah yang baru dan unik, dan berdiri karena kami  ingin membangun kehidupan kami dengan lebih baik, kata pak Pede, sekretaris KSM.

Menurut Ketua KSM Pancor Siling Aji, pak Mungkin, ada  12 langkah pembelajaran yang harus  dilalui sebelum akhirnya  disepakati untuk mengorganisir kegiatan bersama   dalam sebuah kelompok. Butuh persiapan dan waktu untuk membenetuk kelompok yang muncul dari kebutuhan kami,imbuhnya.

Kini mereka senyum-senyum membayangkan kegiatan yang pernah mereka lakukan bersama fasilitator, kerena model ini baru dan tidak biasa dengan cara seperti itu. "Dari bangun tidur banyak kegiatan kami lakukan, seperti noreh, cari makanan babi, berladang, nyinso kayu entah untuk dijual ataupun untuk rumah,tetapi ketika disuruh menyebut apa lagi menulisnya, kemudian memberikan urutan penting dengan skore, pusiiiing kata Pak Pede. Tapi, menurut pak Mungkin, "lucu juga ketika kami disuruh mengambil kerikil, dan meletakan kerikil itu di beberapa kaleng"

Kini Pak Mungkin dan teman-temanya kelompok PSA menyadari  bahwa cara-cara seperti itu memberi pembelajaran dan ingatan bahwa dalam hidup ada  hal-hal yang perlu  didahulukan. Dari banyak pertemuan banyak hal penting yang bisa dirembug bersama, dan itu tidak bisa kami kerjakan sendiri-sendiri imbuh pak Mido. 
Inilah buktinya bahwa bekerja bersama dalam kelompok mandiri menarik perhatian banyak orang, meski hasilnya belum nyata benar. proses, proses sambut pak Patah bersemangat.(korlap,7 Agustus 14)



Rabu, 06 Agustus 2014

D.A Diocese Accompaniment (Penemanan Caritas Keuskupan)


Dana Inisiatif

Caritas Keuskupan Ketapang- Penyusunan Proposal dengan judulMeningkatkan Kapasitas Kelompok Tani Dan Asupan Gizi Anak-Anak Melalui Pelatihan Budidaya Karet Dan Pengolahan Bahan Pangan Lokal”, oleh team Caritas Keuskupan Ketapang (CKK) untuk mengakses dana inisiatif sedang dalam proses penilaian. Anggota team Karina untuk Penemanan  Caritas-Caritas Keuskupan yang familiar dengan sebutan DA(diocese accompaniment), Doni Akur, Senin, (4/8/2014) siang, menyampaikan hasil koreksi atas draf proposal  kepada kami. Proposal akan segera dibawa ke komite penilian, apakah lolos atau tidak, sabar saja, tulisnya via e-mail.

Penemanan Caritas Keuskupan yang berujung pada penulisan proposal inisitif yang dipromosikan Karina bekerja sama dengan Caritas Italiana adalah sebuah model pembelajaran yang sistimatis, terukur dan refleksif, bagaimana seharusnya lembaga Caritas yang bergerak dalam pelayanan pemberdayaan komunitas hadir memberikan pelayanan. Sebuah model penemanan yang menurut pengalaman kami setelah 6 bulan ditemani menjadi tonggak pendampingan baru bagi Caritas kami, karena untuk pertama kalinya kami dengan gamblang melihat jati diri kami (identitas Caritas), struktur management, dan konteks. 

Kalau mau jujur, modul yang dihasilkan dari pendampingan dengan beberapa Caritas Keuskupan oleh Karina (DA) dan telah dishare ke Caritas kami, juga menjadi tonggak baru untuk bekerja dengan profesional dan pelaporan dengan sistim standard, juga akan menjadi support yang baik,sekalipun oleh mereka atau Caritas yang merasa sudah terbiasa dengan proyek kerja sama international.

Caritas Ketapang yang kini sudah memasuki  tahun ke 6, berdiri 25 September 2008, sangat beruntung mendapat pengalaman projek dengan sistim pengelolaan yang standard dengan  Community managed (CM) sebagai sebuah metoda pendekatan untuk pemberdayaan comunitas. Pengalaman berproyek, (mohon maaf masih pakai kata proyek, yang mestinya harus dihindari dalam bahasa pemberdayaan Caritas, kritik mbak Wanti), menjadikan kami semakin menyadari betapa tuntutan profesionalisme, accuntabilitas, sistim pelaporan yang ketat dan transparan, sangat penting. Dan ternyata dalam pendampingan DA hal tersebut menjadi  pokok pembahaasan. 

Tiga dimensi utama, yakni Identitas(nilai), Struktur(management), dan konteks (profiling)benar-benar harus menjadi pemahaman yang mendalam untuk setiap Caritas.  Bukan karena pendampingan ini sudah biasa dilakukan, melainkan pemahaman ini perlu difahami bersama agar proses berjalan. Kadang muncul kesombongan, dengan mengatakan, kami memiliki cara yang lebih baik, untuk apa ikut proses. Mengapa harus buang-buang waktu yang prosesnya sudah pernah kami lakukan. Untuk apa capek-capek membuat assessment dan profilling, kita sudah terbiasa kerja menghadapi masyarakat.

Kalimat mengapa harus lama-lama berproses kalau ada yang bisa lebih cepat, toh yang penting hasilnya. Itulah  agoransi yang seharusnya tidak boleh menjadi claim lembaga pelayanan Caritas. Tiga dimensi pendampingan, Identitas (nilai), tata kelola, dan konteks pelayanan harus menjadi gerakan tree in one. Tiga didalam satu. Komitmen yang kuat sekalipun, kalau tidak dimanaged dengan baik, bersama dan dalam konteks komunitas (pemetaan persoalan) akan sia-sia hasilnya. Proyek oke, fine, tapi pelayanan business as usual.

Catatan penting lain adalah, penemanan DA kalau mengikuti alur dan prosesnya dengan tekun pada akhirnya akan menghasilkan sebuah design program yang bagus dan dipercaya. Artinya apa? Setiap program pelayanan akan berbasis dari persoalan real komunitas, disambut dengan komitmen yang tulus, dihajar oleh tatakelola yang akuntable, porfesional. Maka menurut saya DA bukanlah program dampingan pelengkap penyerta bagi Caritas Keuskupan. Bagiku sumbangannya sangat besar. Orangnya prabowo bilang TMS, terstruktur masif dan sistimatis, itulah yang kurasakan. Sangat bermakna ketika team kami diuji dalam mengusung program inisiatif dengan design proposal yang baik, baik dari komitmen, baik dari struktur, berdasarkan konteks. Inilah pendampingan yang tak ternilai harganya bagi Caritas Keuskupan Ketapang.

Untuk pelayanan pada masyarakat yang rentan dari akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya religi, kita harus bolak balik ke komunitas, memastikan kerentanan mereka, merumuskan bersama dengan mereka, ber- PRA dengan mereka,apa iya itu persoalan mereka, atau ini hanya asumsi baik kita saja. Sesudah itu kita harus duduk kembali menganalisa persoalan, mencari akar masalah, mengajak komunitas bercita-cita akan keadaan hidup yang lebih baik. Dan semuanya itu harus dalam proses, tidak bisa diperpendek waktunya hanya karena capek, atau pertemuan membosankan, biarkan mengalir, sampai komunitas happy dengan apa yang mau dibuat bersama. Kalau itu sudah menjadi keputusan komunitas, beban caritas akan ringan, kata bapak Doni ketika mendampingi kami berproses di desa Tanjung Beulang, Kecamatan Tumbang Titi.

Di Sintang dan Ruteng Program DA dikenang sebagai gerakan pemersatu Caritas dengan Komisi-Komisi yang ada di Keuskupan. Informasi yang sering muncul adalah  Caritas Keuskupan tahunya hanya mengelola proyek. Tapi berapa orang yang sungguh mau mengerti bahwa untuk melakukan pelayanan (proyek) butuh pemahaman yang mendalam dalam tiga dimensi yang saling bertemu, nilai cinta yang dibawa dengan profisional dan vocasional dalam komonitas yang rentan (konteks). Oleh karena itu rasanya sayang pendampingan ini tidak dilanjutkan, biar semakin banyak Caritas seperti kami, Identitas rapuh, apa lagi structur managemen nol , tapi pelayanan luas, mendapat energi baru.

Didera berbagai kesulitan antara lain komitmen yang kendor, kekurang mandirian  finansial, keterbatasan struktur manegement, keterbatasan baseline data, sering membuat kami serba bingung melangkah. Hal ini diitambah lagi masing-masing komisi yang bergerak dalam pemberdayaan, mengklaim ini wilayah pemberdayaan komisi. Yang jelas kami harus belajar terus, karena hidup adalah proses belajar. Tanpa ada batas umur,tanpa ada kata tua, jatuh, berdiri lagi, kalah, mencoba lagi, gagal, bangkit lagi,sampai Allah memanggil "Waktunya pulang"

Enam bulan perjalanan DA membuat kami cukup merenung, ternyata untuk bercaritas yang benar harus memiliki komitmen yang tinggi, analisa yang baik terhadap identitas, struktur dan rencana kerja konteks, dan selalu kembali pada action plan. Dan mengakses dana initiatif adalah cara uji Caritas apakah dalam rencana pelayanan ke depan, kegiatan pelayann akan semakin profesional dan mandiri atau tidak. Trimakasih Dony, Mbak Wanti, team DA Karina. (md)

Minggu, 03 Agustus 2014

Memberdayakan anak remaja


 Kegiatan Camping Rohani Anak Remaja
di Simpang dua, 26-29 Juli 2014
Siapa yang tidak suka melihat anak mengisi liburannya dengan penuh suka cita dan persahabatan.




Memberdayakan anak-anak lewat kegiatan Camping Rohani


Caritas Ketapang. Dalam rangka mengisi liburan Sekolah, Caritas Keuskupan Ketapang bekerja sama dengan Komisi Karya Kepausan Indonesia, dan Paroki St.Mikael Simpang dua dan Imago Dei Jakarta, menyelenggarakan kegiatan Camping Rohani anak-anak remaja se-regio utara 26-29 Juli 2014 di pusat paroki St. Mikael Simpang Dua.

"Kalian datang untuk persahabatan dan kegembiraan cinta, bernyanyi memuji Tuhan melalui sabda-sabdanya, dan bermain bersama sahabat-sahabat yang baru anda kenal itulah anak-anak yang cerdas dalam Tuhan, dan itulah maksud dari Bible Camp, "You are called to be smart in Jesus" , papar R.D Istejamaya direktur KKI Keuskupan Ketapang dalam sambutan pembukaan yang melibatkan 500 anak dan remaja dari paroki Katedral Ketapang, Sandai, Menyumbung, Randau, Sepotong, Balai Semandang, Balai Berkuak, dan Simpang dua.

Imago Dei, sebuah perkumpulan keluarga-keluarga yang memiliki perhatian kusus pada pembinaan anak-anak remaja, mereka adalah awam yang harus bekerja untuk kehidupannya, namun masih membagikan pengalaman imannya untuk kegembiraan anak-anak dalam Tuhan. Misalnya Oce, Mayo, Rut, dan Yonatan adalah keluarga yang memanfaatkan hari libur untuk kegiatan ini. Mereka sudah mengarungi Keuskupan di Indonesia ini, bahkan sampai di Keuskupan Agat. "Seminggupun kami mau, karena Oce dan Mayo, Rut dan Yonatan, menyenangkan dan hebat" sambut  Winda anak dari Banjur,sebuah stasi Paroki Simpang dua yang mendapat kesempatan ikut camping ini. Umumnya anak-anak menikmati tahap demi tahap acara camping ini.

Sehari sebelum kegiatan anak-anak, panitya mengadakan pelatihan untuk para pembina yang mendampingi anak-anak mereka, sehingga merekalah yang kemudian menjadi sahabat, orang tua bagi para peserta camping remaja ini. Hadir 65 pendamping yang diberi ketrampilan untuk mendampingi anak kelak di paroki atau stasi-stasi. Umumnya mereka adalah para guru, beberapa ketua umat. "saya sangat anthusias dan ini bekal yang sangat membantu saya nanti di sekolahan" jawab ibu Ernawati seorang guru di SMP ketika diminta kesan-kesannya.

Ini juga menjadi kesempatan dan peluang dan pembelajaran untuk para pendamping/facilitaor Caritas ketika menghadapi komunitas dampingan. Perlu cara-cara yang smart untuk mengajak orang berkumpul. Banyak permainan yang dikuasai, sehingga ketika tiba saatnya untuk icebreaker tidak kalang kabut, tutur Marsel yang ikut aktif mengorganisir bible camping ini.(md)

Hening sudah: hilang

 Hutanku hilang dan tak kan pernah muncul lagi





Sabtu, 02 Agustus 2014

Hening sudah: pasrah

Kwalan Hulu,

Para penambang mendapat kebebasannya, mereka keruk dan sedot pasirmu untuk mendapatkan emasmu. Alurmu yang dulu indah meliuk-liuk kini datar dan tidak terlihat lagi. Mereka kirim penyakit dan kebencian untuk orang-orang hilir. Mereka semua pasrah. Pejabat pasrah, rakyat hilir juga pasrah tak berdaya. Bukan hening lagi. juli 2012

Hening sudah:Riwayatmu





Sungai Kwalan Hilir. Tempat memancing, tempat untuk hening dari suasana panas akibat bagian lain hutan sudah dibabat, kayu-kayunya di steking istilah orang kampung ( diratakan dengan alat berat). Ini riwayatmu 3 tahun yang lalu.

Masihkan tempatmu menjadi tujuan para pemancing dan pemukat?
Masihkah dirimu jadi tempat menyelam ketika musim kemarau tiba?
Dan tempat mandi gadis-gadis dan ibu-ibu para lelaki di atas lanting darurat?

Atau airmu keruh dan tak kan pernah jernih lagi.


Minggu dalam perjalanan pulang turnee 2012

lanjutan Upacara Nopas Laman Nyiang Kampong


Pengembangan CCLA



Tiga bulan  sebelum upacara Nopas laman Nyiang Kampong dilaksankan, team Caritas Keuskupan Ketapang yang menjadi partner Usaid Ifacs telah mengadakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pelestariaan hutan. Awalnya adalah kegiatan sosialisasi dan orientasi kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dan tokoh anak muda di dua komunitas yaitu Sepotong dan Kepari. Tujuan dari disseminasi dan oreientasi ini adalah memperkenalkan program pendampingan Caritas Keuskupan Ketapang dalam melindungi dan melestarikan hutan yang berbasis livelihood dengan praktek pertanian yang baik, pelatihan ekonomi rumah tangga dan  tak kalah penting adalah penguatan kelompok swadaya masyarakat, yang nantinya akan menjadi penjaga dan pelindung dibentangan hutan yang telah dipetakan dan yang dilestarikan. Hadir waktu itu 86 tokoh dari dua desa tersebut. Mereka dengan suka hati menerima  rencana kehadiran kami melalui program pemetaan (CCLA), pelatihan dan praktek lapangan untuk  dan penguatan kelompok  dengan metoda live in atau immersion dari fasilitator kami.
Melalui metoda immersion, Caritas Keuskupan Ketapang, hadir di tengah komunitas anak muda untuk menarik perhatian mereka akan nilai-nilai berharga dari hutan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan mereka. Acara mereka tidak spektakuler, rekreasi ke hutan, dan sumber air, pulangnya mereka membawa anak pohon karet untuk disemai sebagai batang bawah.. Inilah cara kami menginisiasi dan mengajak anak muda untuk memulai sebuah kegiatan cinta lingkungan.
Selanjutnya kegiatan mengenali nilai-lilai berharga(nilai tinggi) dalam kawasan hutan menjadi topik bahasan secara intensif dengan mengundang 40 pemuda dari dua komunitas dampingan. Mau tidak mau kami harus memberikan pemahaman katagori dari isi hutan yang memiliki nilai-nilai yang sangat berharga. Salah satu point yang harus kami ulang-ulang agar menjadi pemahaman yang mendalam tentang Nilai konservasi tinggi (berharga) dari hutan adalah : nilai yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara langsung seperti pangan, Air, Sandang, Bahan untuk rumah dan peralatan, Kayu bakar, Obat-obatan, Pakan hewan. Itulah NKT 5 &6. Betapa pentingnya untuk melibatkan para peserta training memberikan ranking untuk nilai-nilai tersebut sehingga ketika mereka berpartisipasi untuk pemetaan, dan mendatangi titik-titik koordinat yang telah ditentukan oleh para tua-tua adat, benar-benar mereka kenali sebagai  kawasan yang memang harus dijaga dilindungi karena memberikan penghidupan langsung untuk mereka.
Dari seluruh rangkaian pengembangan kegiatan CCLA, mulai dari indentifikasi nilai-nilai tinggi, sampai pembuatan papan peta kesepakatan, duduk bersama para pemangku kepentingan yang sebagian besar terdiri dari para tokoh adat adalah kegiatan yang sangat menentukan. Dalam pertemuan inilah ditentukan titik-titik koordinat dan titik diagonal yang panjang lebar diperdebatkan. Dalam pertemuan konsultasi inilah penentuan arah kesepakatan baik titik maupun hasil dari nilai-nilai tinggi yang akan dipetakan dan kemudian dilindungi menjadi kegiatan penentu. Dan disini pula mereka berikrar dan bersepakat, untuk menjaga hutan, menanam pohon bernilai ekonomi, menjaga kawasan bukit Tambun yang penuh dengan lalau dan madu, tidak menuba ikan dan meracuni sumber mata air. Dan yang sangat menarik dan langka   menyucikan hutan yang dilindungi yang sudah dipetakan dengan upacara Nopas Laman Nyiang  Kampong. Siapa yang melanggar kesepakatan dan ketentuan ini melanggar adat dan akan diberi sangsi adat. (md)



www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com