CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Selasa, 12 April 2016

OPTIMISME ATAU KODALISME : MEKAR APRIL 2016

Kodalisme. Kata dasar dari kodal. Sebuah bahasa umpatan dari daerah Kualan bagi orang-orang yang ngeyel, bandel, tidak mau ambil pusing. Umpamanya semangat kodal itu seperti ini : tahu dan yakin bahwa kegiatan ini sangat berguna untuk diri mereka sendiri, membantu ketrampilan mereka (misalnya okulasi), tapi tidak serius, masih curiga hanya menguntungkan orang lain. Untuk apa jadi orang terampil terampil amat. Untuk apa di pindah ke ladang bibit unggulnya. Yang pentingkan sudah bisa. Nah...seperti itu semangat kodalisme.
Mekar edisi April kali ini mengangkat semangat kodalisme ini, karena masih terdapat beberapa anggota KSM yang menganut paham ini. Yang diangkat lebih pada refleksi dan mengingat kembali pada motivasi awal, kenapa semua kegiatan pemberdayaan ini bisa berlangsung selama kurang lebih 4 tahun. Semoga dengan ini, semangat kodalisme tersebut menjadi berkurang dan bertransformasi menjadi semangat optimisme untuk meningkatkan taraf hidup para anggota.
Anda dapat membaca edisi Mekar April 2016 di KSM binaan CKK, atau anda dapat mengunduhnya di sini
 

Minggu, 10 April 2016

Hanya anda sendiri yang mampu merubah wajah kampung anda, Caritas tidak, Pemdes tidak, bahkan Toke pun tidak……..




berbagi dalam setiap pertemuan kelompok
Karet adalah salah satu komoditi yang telah menghidupi kita selama ini. Tanpa karet, anda tidak bisa menyekolahkan anak anda. Tanpa karet anda tidak memiliki sepada motor. Dengan karet pula anda telah membayar cicilan pinjaman di CU. Karet ini pula yang membuat dapur anda mengepul terus. Dengan kata lain, karet adalah salah satu urat nadi kehidupan  Dusun Jangat, Kontok,  Sie Bansi dan Giet.
Sebagaimana anda telah buktikan sebagai  keluarga petani yang dengan susah payah mencari cara agar asap dapur terus mengepul, kita telah sepakat sebagai KSM  terus berjuang mengajak anggota bahu-membahu membangun kehidupan yang lebih baik, dengan cara memperkenalkan pengelolaan Kelompok yang terukur, menambah pengetahuan tanaman karet yang lebih terukur dan terawat, bahkan kelompok diajari untuk menyusun proposal yang benar, ibu ibu diajari mencatat keluar masuk uangnya. Terkadang perjuangan ini tidak berhasil. Masih banyak anggota yang acuh, dan sekadar ikut. Yang lainnya memang merasa kegiatan seperti ini sia-sia saja. Ada juga yang bermental “kodal”, sudah tahu bahwa kegiatan ini sangat membantu, sudah tahu ketrampilan menciptakan bibit karet unggul bisa mendatangkan tambahan penghasilan, tetap saja melihat setiap gerakan KSM mengada-ada saja. Kalau diajak melihat kembali apa yang telah dilakukan bersama, banyak yang pada lari ke hutan dengan berbagai alasan. Berburulah, cari lauklah, cari ubi kayu.oh kodalllll

Entahlah, apa bapa ibu sadar selama ini banyak kegiatan dan cara telah kita buat bersama agar cita-cita mulia, yaitu kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera kelak tidak hanya menjadi impian, tapi kenyataan, sedikit demi sedikit terbukti dari hasil capaian kita melalui tahap tahap kegiatan. Kegiatan yang berawal dari keinginan bapak ibu sendiri untuk mengelolanya, tidak tergantung dari bantuan luar melulu, boleh jadi  menjadi cara baru berkegiatan karena dari tahun ke tahun sebelumnya, tidak ada cara ini. Caranya sederhana saja yakni berkumpul meluangkan waktu dengan berbagi pengetahuan, menyusun rencana kegiatan bersama, melaksanakan dalam aksi, mengevaluasi bersama fasilitator yang sejak awal bersedia hadir berbaur bersama anda. Anda  menyebutnya Community managed livelihood promotion, promosi penghidupan yang dikelola oleh mansyarakat.
duduk membuat RK bulanan/tahunan
Model pendampingan ini muncul untuk menjadikan dusun Jangat, Giet, yang selama ini selalu dianaggap   tidak berdayanya(rentan), menjadi masyarakat Jangat, Kontok, Sie Bansi dan Giet yang mandiri, tangguh, tanggap,memiliki kemampuan merubah kehidupan kalian sendiri. Yakinlah,  Orang/lembaga akan  gembira membantu kalian ini, karena kalian  bersemangat membantu diri kalian sendiri, tidak “kodal”. Ingatlah tidak akan ada orang yang mampu mengubah wajah dan kehidupan kampung anda, Caritas tidak, Pemerintah Kabupaten juga tidak, toke anda juga tidak, kecuali bapak ibu sendiri bertekat untuk merubah kehidupan anda sendiri. Kunci ada pada kekuatan anda sendiri.

praktek okulasi karet yang rutin hingga terbiasa
Yang anda lakukan selama  hampir empat tahun adalah pekerjaan sederhana seperti,  belajar berproses, belajar mengelola kelompok melalui pelatihan pelatihan seperti kepemimpinan, mendokumentasikan setiap kegiatan, belajar membuat proposal yang benar secara kelompok, tidak ada rekayasa. Belajar pengetahuan budidaya tanaman muda seperti sayur-sayuran. Belajar menciptakan bibit karet unggul dengan mata entres yang unggul. Para ibu belajar mencatatkan penghasilannya sehari tetapi juga pengeluaran tiap hari dalam buku. Tujuannya agar memperoleh ilmu pengetahuan dan ketrampilan  dan  apa yang kita kerjakan terukur, transparan, jujur, demokratis dan saling membantu.

Praktisnya selama ini kita telah belajar berorganisasi dalam KSM, sebab seorang diri kita tidak akan mampu mengubah kampung halaman kita. Praktisnya kita sudah praktek meningkatkan kemampuan diri pribadi, menciptakan bibit karet unggul,  agar bapak ibu mampu menjadi guru yang baik bagi anak-anak bapak yang kurang beruntung dalam pendidikan, tidak bisa lanjut sekolahnya. Praktisnya, bapak ibu telah belajar menyusun proposal yang benar, karena kedepan bantuan desa akan mengalir kepada kelompok-kelompok yang solid kuat dan tangguh dan tidak “kodal”.

Semua kegiatan kita berbiaya besar, namun manfaatnya juga sangat besar. Semua telah kita kelola (managed) secara terukur. Cara belajar meng-akses dana bibit/awal atau yang kita kenal dengan istilah “seedfund” adalah cara belajar dan mengelola livelihood yang benar. Sekadar berbagi dari apa yang dilihat, dirasa. Salam CMLP.

Sabtu, 09 April 2016

Jalan Panjang menuju Perubahan mindset (2)




Pada tanggal 30-31 Maret 2016 kami mendapat kesempatan untuk hadir, melihat, merasakan kembali hidup ditengah komunitas Jangat, Kontok, Sie Bansi dan Giet. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat perkembangan yang sudah terjadi, menggali dan mengidentifikasi capaian-capaian, mengenali tantangan dan tidak lupa saya mencoba melihat dampak pendampingan Caritas bagi penduduk lain yang tidak memperoleh kesempatan untuk didampingi.
Bagi KSM rapat bulanan sebagai sarana untuk kemandirian kelompok, manfaatnya sangat mereka rasakan, disanalah mereka mendiskusikan rencana mereka, menyusun rencana kerja mereka, meski tantangan utama mereka yang terjadi adalah pengurus kadang tidak mempersiapkan dengan baik, sehingga kehadiran fasilitator lalu sangat dominan. Ini kurang sehat bagi pergerakan organisasi kelompok.

Meningkatkan kemampuan kelompok untuk bisa membuat proposal sederhana berdasarkan kebutuhan yang riil dan nyata, adalah sebuah kebutuhan pokok saat ini. Pemda, Kecamatan,Desa, menyiapkan banyak bantuan yang bisa diakses dengan mengajukan proposal. Alangkah berguna dan sangat membantu kalau kesempatan ini dimaksimalkan bersama fasilitator. Hanya sangat disayangkan kelompok tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal. Proposal asal jadi dan terkesan asal sesuai dengan pesanan. Ini kurang baik untuk kemandirian kelompok.

Menarik untuk mencermati pengalaman anggota kelompok ketika mengisahkan pengalaman mereka meningkatkan ketrampilan mereka mengokulasi bibit karet unggul. Ada kebanggaan mampu menghasilkan bibit karet unggul dari tangan mereka sendiri. Hanya saja ketika ditanya apakah keahlian anda ini mampu menjadikan kegiatan ini sebagai lahan pekerjaan baru yang mendatangkan penghasilan tambahan. Mereka tidak yakin mereka masih belum mantap, bahkan memberi kesan ini pekerjaan untuk belajar saja, bukan untuk kehidupan.

Pendampingan lain yang tak kalah penting adalah meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan tanah pekarangan atau tanah lahan karet untuk tanaman sela. Awal awalnya mereka sedemikian anthusias, namun untuk masa tanaman berikutnya mereka lesu, alasannya tanaman tidak subur, banyak hama, hasil kurang, pekerjaan ribet. Sangat bisa difahami, karena selama ini tanaman muda seperti sayur, kacang, mentimun, terung, cabe adalah tanaman tambahan untuk memanfaatkan kesuburan tanah bakaran untuk ladang padi. Tidak usah merawat namun akan hidup subur. Hanya saja karena semua orang menanam pada waktu yang sama, hasil berlimpah dan tidak ada yang mau beli.

Jalan panjang menuju sebuah perubahan cara kerja, cara pikir, cara pandang, cara tutur, cara laku masih sangat jauh, kendati Caritas sudah hampir 4 tahun hadir menemani mereka. Ketergantungan anggota untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi masih tinggi. Hubungan antar anggota dan pengurus belum terjalin baik. Belum ada rasa memiliki. Padahal praktek pengorganisasian masyarakat pada level kearifan lokal sudah sangat biasa dik kampung. Pengetahuan ketrampilan yang sangat erat dengan mata pencaharian mereka seperti menanam karet baik yang lokal maupun secara unggul, belum menjadi sebuah milik yang harus diperjuangkan mati-matian. Belum merasa rugi kalau praktek okulasi belum berhasil. Pencatatan atau buku kas harian masih dianggap sebagai beban.

Sangat tidak mudah mengubah mindset kelompok yang terbiasa tergantung, dimanja alam, serba enteng dalam memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu pendampingan yang terus menerus dan tidak beroirentasi hasil dan capaian  melulu tetap menjadi rekomendasi kami ke depan. 

Saat ini pemerintah telah mengirim pendamping-pendamping desa yang direkrut dan mengetengahkan profesionalisme tinggi, namun ke depan tetap saja sangat diperlukan pendamping yang memiliki hati, dan bersedia hadir (benar-benar tinggal bersama komunitas untuk saling belajar).

Memperkenalkan cara bekerja dengan terukur, berdasarkan  data sangatlah tidak mudah, oleh karena itu mencatat, mendokumenkan data dengan cara tabulasi  data lapangan menjadi cara belajar yang baru dalam pemberdayaan kelompok. Refleksi bulanan untuk para pendamping akan sangat membantu memberi penguatan  dan tetap annthusias dalam pendampingan.(PA)

Jalan Panjang menuju sebuah perubahan mindset.




 Dusun Kontok, Jangat,  Sie Bansi dan Giet adalah sebuah kawasan perbukitan yang potensial, kaya dengan hasil kayu, karet, sayur mayur alami. Di  setiap sudut sungai atau kali dipastikan ada tambang emas. Hewan piaraan seperti babi, sapi, kambing, ayam,  bebas berkeliaran, bisa dipastikan kotorannyapun ada dimana-mana. Desa Kualan Hulu dan Merawa menjadi salah satu pemasuk hasil hutan ke wilayah Balai Berkuak, dan merupakan wilayah yang penting bagi politikus yang mengais suara agar bisa duduk, namun setelah itu lupa segala-galanya.

Perkampungan, yang dulunya adalah pedahasan tempat mencari kehidupan sudah berdiri lama dan kehidupan masyarakatnya bergantung pada karet dan bertanam padi serta tanaman muda. Akses transportasi sangat buruk. Perbaikan jalan sekadar memberikan kesempatan untuk  melaksanakan aspirasi politisi atau anggota wakil rakyat dari dapil ini. Belum pernah terdengar perbaikan jalan dengan plang papan nama diatas 2 miliar. Usulan perbaikan jalan melalui musyawarah pembangunan desa dengan jumlah dana sekadarnya akan menghasilkan mutu jalan yang jelek. Akses menuju dusun itu terkenal dengan jalan turun naik dan berbukit terjal. Hanya keseriusan Pemda Ketapang melalui Dinas Pekerjaan umumnya dan dengan alokasi dana diatas 5-10 miliar yang mampu mengubah wajah kampung menuju kehidupan yang lebih baik. Namun ini tidak akan pernah ditindaklanjuti, karena belakangan diketahui masyarakat Simpang Hulu lebih tertarik dengan mendirikan gedung serba guna,  rumah pertemuan adat, hari perayaan gawai adat dengan usulan proposal biaya tinggi.

Bagaimana sebenarnya model kehidupan penduduk dusun Kwalan hulu, utamanya Kontok Jangat, dan desa Merawa dusun Sie Bansi dan Giet? Empat  tahun yang lalu, Caritas Keuskupan Ketapang (CKK) mengadakan studi kelayakan mengenai livelihood, hasil kajian menyimpulkan bahwa mata pencaharian utama masyarakat di empat dusun itu menggantungkan hidupnya dari menoreh karet dan bertanam padi. Namun karet yang mereka sadap sekarang ini adalah peninggalan dari generasi sebelumnya, dengan model penanaman secara tanam tinggal. Habis berladang padi, hamparan tanah ditanami karet cabutan, sesudah ditanam lalu ditingggalkan begitu saja tanpa perawatan. Ini model dan cara tanam yang sudah hidup bertahun tahun, bahkan sudah menjadi cara bertanam yang sudah melekat seperti tai kucing rasa coklat.

Selamatkan penghidupan kami. Selamatkan karet kami, selamatkan tanah kami. Ajari kami cara merawat tanaman penghidupan kami agar tetap menghasilkan dan kami bisa hidup dengan lebih baik. Itulah sepenggal harapan dan cita-cita masyarakat ketika menyadari bahwa warisan model penghidupan yang ditularkan moyang mereka adalah mengelola tanaman kebun karet. Setiap pertemuan kelompok lalu menjadi wadah yang sangat baik untuk berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan yang sangat baru adalah belajar membuat rencana kerja bersama dalam kelompok. Hasilnya? Tersusun rencana kerja bulanan, bahkan tahunan; apa yang akan dikerjakan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka merawat tanaman karet yang diwariskan orang tua mereka dengan cara yang lebih baik dan terukur dari hasil.

Namun ketika mereka melihat bahwa prosesnya panjang, tidak segera memberikan hasil, mereka mulai tidak sabaran. Mereka mulai malas berbagi ceritera sukses dalam pertemuan kelompok, dan yang lebih parah lagi ketika musim tebang tiba, sangat sulit meminta mereka untuk bertemu dalam kelompok. Kalender musim seperti membuka lahan baru, musim membakar, diteruskan dengan musim menanam atau menugal, kemudian dilanjut dengan merumput, setelah itu musim panen, belum lagi musim buah bisa dipastikan akan sangat membantasi pertemuan-pertemuan kelompok. Budaya royong dengan sistim membayar waktu kerja kembali kepada tetangga akan berlangsung berbulan bulan, dan kami yakini hadir dalam pertemuan kelompok adalah saat-saat yang sangat berharga dalam sebuah pendampingan komunitas. Sekali lagi royong ataupun pengari istilah orang Giet  bukan kebiasaan yang buruk ataupun jelek, bahkan ini dapat menjadi warisan budaya yang baik. Hanya saja dalam konteks jaman dengan aneka kemajuan dan keperluan hidup yang begitu tinggi, dan kejar-kejaran waktu sangat berharga. Bagaimana cara mengelola pertemuan bersama komunitas agar menjadi kelompok yang mandiri, bagaimana pertemuan dapat menjadi saat yang indah untuk berbagi ceritera tentang praktek pengadaan bibit karet yang unggul, ibu ibu bisa berkisah tentang pendapatan bulan ini dalam pencatatan keuangan yang sederhana. Tidak ketinggalan bapak-bapak berkisah tentang kebun sayur yang kurang berhasil karena gagal membuat pupuk kompos. Ini akan menjadi pertarungan yang sengit  dalam rangka perubahan cara laku, cara kerja, cara pikir, cara beradat. (PA)

Senin, 04 April 2016

Cara Sukses Ebun Mengokulasi Batang Bawah Menjadi 670 Stum


Stum Ebun Yang Siap Akan Ditanam April Nanti

Pada saat kunjungan staf Karina Lora Egaratri bulan Januari lalu, Emilianus Ebun telah berjanji  bahwa “dia harus sudah menanam 664 karet unggul klon PB 260 nya di lahan paling lambat Juni nanti.” Ebun demikian panggilan karibnya menambahkan “cita-citanya adalah lewat karet unggulnya kelak bisa mengatasi kemiskinan keluarga dan akan selalu memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami serta dengan karet unggul pula ia bisa membuktikan kepada teman lingkungannya bahwa karet unggul lebih baik produksi lateksnya dibandingkan karet alam.” Total batang bawah yang dimilikinya berjumlah 2.530, diantaranya masih ada 1.525 batang bawah layak okulasi namun belum diokulasi.  Bulan Febuari lalu, Ebun sudah memiliki 346 stum di lahannya. Maret ini rencananya akan menambah 92 stum lagi, jadi total stum yang tertanam menjadi 436, tinggal sisa 228 stum lagi untuk memenuhi target 664 stum. Bulan Juni nanti  capaian Ebun sudah mencapai 65,5%.


Rapat Koordinasi Persiapan Royong Okulasi Ebun (14/3) 

Untuk mencapai targetnya, Ebun sudah berhasil dapat 670 stum dari hasil mengokulasi 976 batang bawah dengan cara royong 7 orang dan meminta bantuan 2 fasilitator di bulan Maret. Ebun yang juga menjabat bendahara KSM ini memanfaatkan kesempatan kunjungan pendampingan 2 fasilitator  (14/3) dan 5 anggota royongnya (Cintult, Emin, Anyan, Kobun, Margono, Mungkin) untuk mengokulasi.  Ebun mengatakan dengan yakin  kepada fasilitator “bantuan Adi dan Budin akan memberi semangat kepada kami, dan mereka 5 orang adalah cukup terampil menurut saya, tambah lagi cuaca sore yang mendukung pasti banyak berhasil okulasinya.”


Royong Okulasi Batang Bawah di Lahan Ebun
Bapak 2 putri 1 putra ini kerapkali dipanggil belengkek oleh teman-temannya, dalam kegiatan KSM ia sangat aktif dan selalu mendorong teman-temannya agar tetap berusaha dan jangan mudah putus asa, karena “tawaran dan cara baru memang sulit tapi kalau kita yakin dan berdasarkan pengalaman justru itu adalah jalan serta alat untuk bisa mengubah hidup kita lebih baik nanti, percayalah!!! Ungkapnya di sela diskusi rapat bulanan. Febuari 2015, ia pernah menderita sakit ginjal kronis, sudah operasi dan tranfusi darah di rumah sakit Yos Sudarso Pontianak, dan dokter yang merawat sempat mengatakan kepadanya “ bahwa dia tipis harapan untuk pulih kembali.” Namun, berkat berserah penuh dan yakin akan mujizat kesembuhan dari Tuhan, pada bulan April ia telah sehat seperti sediakala. “Walau pun demikian si belengkek ini telah menjadi sosok motivator bagi anggota KSM lainnya dengan berkomitmen tinggi berkegiatan KSM dan selalu menjaga stamina/kesehatannya dengan hati-hati,” kata adi di forum rapat refleksi pasca pendampingan Maret (4/4).  Di sela istirahat okulasi, Ebun mengatakan didepan teman-temannya bahwa “ Ia akan mengalahkan target Cintult bulan April nanti dengan mengandalkan 670 stum dan akan mengokulasi lagi.” ADI






Husin Berhasil Melampui Visi Karetnya

Husin begitulah panggilan para karibnya di KSM, perantau dari Kabupaten sekadau kecamatan Nanga Taman Desa Nanga Taman ini telah telah memperisteri seorang gadis Giet Rinata namanya bersama Febrianti buah hati mereka yang baru berusia dua bulan (balita). Ayah satu anak ini mulai bergabung menjadi anggota KSM SPA sejak September 2015. “Saya dan isteri tertarik bergabung di KSM karena ada pendampingan rutin dari Caritas, di Sekadau, belum ada model pendampingan seperti ini,” katanya kepada fasilitator Budin. Dia juga menambahkan “lewat pendampingan caritas bercita-cita ingin meningkatkan tarap hidup keluarga, punya 200 pohon karet unggul, dan punya pengalaman pengetahuan budidaya karet unggul & budidaya tanaman muda sebagai modal mata pencaharian/penghasilan tambahan kedepan.”


Husin menambahkan “Waktu SMP, dari guru mulok saya, saya pernah belajar menyambung pucuk tanaman terung agar usia tanaman tersebut lebih lama lagi produksinya dan juga bisa punya antibodi terhadap serangan penyakit, nah sekarang saya praktekan lagi.” Ketika fasilitator mengobservasi memang tampak sekali bahwa sambung pucuk terung pipit (batang bawah) dengan terung hibrida (dahan atas) yang dipraktekannya di pekarangan tumbuh dengan subur. Budin menyarankan agar “perlakuan tanaman pekarangan jangan lupa dengan cara organik yang pernah diajarkan waktu sekolah lapang (SL), dan manfaatkan sumber daya alam yang ada ya?” demikian katanya mengingatkan Husin.


Mulai januari – Maret adalah siklus pertama pekarangannya, Husin mengatakan kepada adi dan Budin bahwa “hasil panen kacang panjang, terung, dan timun hanya dikonsumsi sendiri, dan dibagikan kepada mertua dan tetangga saja karena menurutnya ini baru uji coba dan hasilnya pun masih sedikit.” Rencananya, “ untuk siklus kedua akan lebih banyak lagi menanam bibit yang sama di bedeng agar bisa dijual,” katanya. Ketika ditanya soal pembagian tugas dengan istri, dia menambahkan “berkebun pekarangan saya lakukan setelah menoreh karet, seperti di siklus pertama penyiapan lahan dan penanaman saya tangani, nanti kalau sudah perawatan saya bergiliran dengan istri,” demikian katanya.



Sebagai bukti komitmennya ia berjanji dengan realistis kepada staf Karina (kunjungan Lora Egaratri, jan,2016) akan menanam 200 stum di lahan. Per Maret, Husen sudah berhasil menanam 220 pohon karet unggul di lahannya dan melampui capaian target dan indikator logframe untuk menghasilkan stum dari okulasi sendiri (sumber:data tabulasi Maret 2016). Husen masih memiliki sisa 42  batang bawah sudah okulasi namun belum dibuka bungkusan jendelanya, dan 7 bulan kedepan peluangnya untuk menambah jumlah stum bertambah lagi karena memiliki ratusan batang bawah baru yang ditanamnya di kebun entres & di pekarangan namun belum dihitung oleh fasilitator. (Budin)



www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com