PSE-Caritas Ketapang

Website Resmi PSE-Caritas Keuskupan Ketapang

VIDEOS

Rabu.7.10.20 Inspirasi pagi

Lk.11:1-4, “pada pesta Maria Ratu Rosario”

“Memelihara kebiasaan baik”

Bermula pada sebuah salib dan untaian pendek yang terdiri dari tiga manik manik kecil dan sebuah manik manik besar, kita mengucapkan doa aku percaya, doa Bapa kami, dan 3 salam Maria, selanjutnya lima kelompok sepuluh manik-manik,untuk mendaraskan doa salam Maria diselingi dengan manik manik besar kusus untuk doa Bapa Kami. Itulah lingkaran Doa Rosario. Doa sederhana untuk melatih dan memelihara kebiasaan baik. 


Tercatat dalam sejarah gereja pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun tampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut. Kemudian  doa sederhana ini menjadi tradisi yang penting dalam kehidupan doa, tradisi  suci yang dihormati gereja pada hari ini. 


Seperti Doa Bapa kami adalah doa yang sederhana, namun kaya makna merefleksikan secara mendalam pristiwa kehidupan kita sebagai mahluk ciptaan-Nya, yang harus memiliki relasi yang baik dengan Bapa. Mahluk lemah yang mampu memuliakan Bapa memohon kehadirannya menjalankan roda kehidupan seperti yang dikehendaki-Nya. Doa yang mengajarkan kita berbagi rejeki, hidup saling menghormati dan menghargai serta memaafkan. 


Sering mendaraskan doa rosariio, maupun doa Bapa kami, adalah kebiasaan yang baik yang sangat membantu kita untuk membangun kehidupan yang mengandalkan kekuatan Tuhan, bahwa kita bukan siapa siapa, seperti diucapkan Maria, Aku ini hanyalah hamba-Mu, Tuhan. Tetapi juga membangun kesadaran bahwa hidup yang harmonis dan indah terjadi ketika kita mampu saling memaafkan satu sama lain. Seperti seorang ayah yang mendapatkan kembali keluarganya ketika menerima “maaf” dari istri dan anaknya atas kesalahannya selama ini, lalai, kurang berkomitmen, lupa janji suci, melalang buana entah kemana.


Teringat akan dongeng yang menceritrakan seorang ayah yang mengajarkan anaknya untuk membangun sebuah kebiasaan baik. Sang ayah mengatakan, anakku dalam dirimu akan selalu ada pertarungan dahsyaat antara dua srigala, srigala yang jahat dan srigala yang baik. Srigala yang jahat adalah perasaan marah, iri hati, sombong, malas, dendam, tigak mau memaafkan. Sementara srigala yang baik adalah perasaan ramah, sabar, penuh perhatian, rendah hati, pemaaf, penuh cinta. Lalu sang anak bertanya dengan polos, “srigala yang mana yang akan menang?” Dengan bijak sang Ayah menjawab: anakku mau pelihara srigala yang mana?


Selamat pagi sahabat, saudari saudaraku, jika kebiasaan buruk yang kita pelihara, berarti kita membiarkan srigala yang jahat menguasai hidup kita. Banyak orang mengatakan bahwa musuh terbesar sesungguhnya ada dalam diri kita.


Maka dari itu jangan membiarkan diri jatuh dalam pencobaan dan memimpin hidup kita. Tetap sehati dalam doa dan saling mendoakan, itulah berkat yang indah. Tetap berbagi kebaikan sekecil apapun. Tuhan memberkati.



| Blogger Templates - Designed by Colorlib