CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Rabu, 20 Januari 2016

BERBAGI KISAH SUKSES CKK : MEKAR JANUARI 2016

Success story atau kisah sukses merupakan sebuah kisah yang harus dibagikan untuk tetap menjaga motivasi dan praktik-praktik baik dalam sebuah komunitas. Dalam Mekar Edisi Januari 2016 ini, kami mencoba mengangkat kisah-kisah sukses yang ada dalam komunitas dampingan Caritas Keuskupan Ketapang. Beberapa di antaranya sudah masuk dalam berita KARINA (karina.or.id), dan diakui ini merupakan kisah sukses yang dapat menginspirasi orang banyak. Masih banyak lagi kisah sukses yang ada dalam KSM dampingan CKK yang (mungkin) akan kembali dikisahkan dalam Mekar edisi XI, Februari 2016.
Mekar dapat anda dapatkan dan anda baca di KSM dampingan CKK atau anda dapat mengunduhnya di sini

Selasa, 19 Januari 2016

SECERCAH SINAR TERANG DARI BENUA TUDA



Pelaksanaan program CMLP fase II kerjasama CKK – Carina telah memasuki penghujung program.Buah dari proses implementasi program terhadap penerima manfaat sudah mulai terasa gredetnya pada saat ini. Dampak program disamping tercapai sesuai target program, juga telah dapat menciptakan masyarakat yang berdaya,kreatif-inovatif  dan kritis konstruktif dalam mengidentifikkasi sumber masalah dan potensi di lingkungannya.

Masalah social ekonomi yang dihadapi masyarakat di wilayah dampingan CKK program CMLP fase II notabene adalah sulitnya akses terhadap informasi,akses transportasi sulit, monopoli terhadap akses ekonomi vital dan political will penguasa setempat yang belum bersinergi dengan  kondisi riil masyarakat. Kondisi ini semakin diperparah dengan ‘terjun bebasnya’ harga karet yang merupakan salah satu sumber ekonomi masyarakat yang bersifat cash crop yang terhitung dari medio 2015 sampai saat ini hanya Rp. 3500,- - Rp,4500,- per kg ditingkat pedagang pengepul kecil dan Rp.6500,- per kg di tingkat pedagang pengepul besar tingkat kecamatan.

“Harga kebutuhan pokok di tingkat pedagang di kampung saat ini meroket naik ! Tidak sesuai dengan tingkat pendapatan masyarakat. Gula pasir Rp. 15.000,- - Rp.18,000,- per kg, beras kualitas sedang Rp. 15.000,- per kg,” ungkap Pak Martinus Mong (45 tahun) , bendahara KSM Pateh Banggi-Dusun Sei Bansi/Mengkaka ,Desa Merawa dengan nada kesal.

Sebagai manifestasi dari proses pencerahan dan pengayaan CKK program CMLP fase I- fase II telah memberikan inspirasi bagi Pak Martinus Mong dan kawan-kawan KSM Pateh Banggi untuk menginisiasi dan mengoorganisir anggota KSM dan masyarakat yang terpapar oleh rendahnya harga karet dan melambungnya harga sembako dan solusinya. Ide dan keingingan Pak Martinus Mong dkk dalam mencari keadilan dan kesejahteraan tersebut bak gayung bersambut dari KSM-KSM dampingan CKK program CMLP dan petani di wilayah kabupaten Ketapang lainnya yang dimediasi langsung oleh USAID IFACS dan CKK. Inisiasi pertama dimulai dari pertemuan antara perwakilan anggota 4 KSM dampingan CKK dan utusan petani lain di wilayah Kabupaten Ketapang dengan pabrik karet PT.Kirana Prima yang diinisiator oleh USAID IFACS dan CKK bertempat di Sandai, Kec. Sandai Kab. Ketapang pada maret 2015.

Follow-up dari pertemuan tentang rencana kerjasama pemasaran langsung masyarakat dengan pihak pabrik terus dilakukan beberapa seri pertemuan  lanjutan, dan khususnya dengan KSM Pateh Banggi, Dusun Sei Bansi/Mengkaka, Desa Merawa telah dilakukan pelatihan peningkatan kualitas bokar bekerjasama dengan pabrik karet PT. Kirana Prima. Pasca pelatihan, anggota KSM Pateh Banggi yang dimotori Pak Martinus Mong, dkk telah mencoba satu kali mengoorganisir pemasaran bokar langsung ke pabrik PT. Kirana Prima di Tayan dengan harga kualitas   sheet angin Rp. 10.000,- per kg. di tingkat pabrik.

Keberhasilan dalam membangun kerjasama dengan pihak pabrik tersebut telah memberikan ‘secercah sinar terang’ dan harapan bagi anggota KSM Patih Banggi dan petani karet lainnya dalam meningkatkan social ekonomi mereka dari ketidakberdayaan, kooptasi dan perangkap modernisasi serta liberalisasi ekonomi.

Perjuangan Pak Martinus Mong dkk dan anggota KSMnya belumlah selesai. Gerakan kerjasama dan pemasaran langsung yang dilakukan Pak Martinus Mong dkk dianggap para pedagang pengepul di kampong  memutus ratai bisnis dan mengurangi rente keuntungan mereka yang telah terbangun lama dan sistematis. Masalah ini masih  berproses dan mencari solusi terbaik antara petani dengan pedagang. Pak Martinus Mong dkk dan petani karet lain tetap berjuang dengan optimis mencari keadilan, seiring berjalannya waktu maka keadilan akan datang ! Save Pak Martinus Mong, cs !   (by: mark_benua)

Mensiasati Krisis dengan Mengoptimalkan Aset Riil Keluarga





Ada sebuah keluarga kecil dan sederhana yang tinggal disebuah pemukiman Giet, Atam nama kepala keluarganya, bersama istrinya Lino Dolita memiliki permata hati seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih 5 tahun bernama  Refanus. Dalam kehidupan sehari-harinya bapak satu anak ini bekerja sebagai guru honorer mengajar siswa /I di Sekolah Dasar Negeri Giet pagi sampai siang, sedangkan sore sampai menjelang magrib bekerja mencari nafkah di hutan tembawang miliknya.  Dalam kesehariannya juga ia terlibat di kegiatan KSM Siling Pancor Aji, silih berganti tugas yang diembannya setiap hari ke sekolah, ke KSM, dan untuk keluarga.

Akhir-akhir ini masyarakat umum dan masyarakat khususnya Giet mengalami masalah krisis ekonomi keluarga karena kurang stabilnya keuangan keluarga dan tantangan mendongkrak pertumbuhan ekonomi keluarga sejak harga karet turun. Komoditi karet menjadi andalan pendapatan keluarga selama ini, karena satu komoditi saja sebagai sumber pemasukan keluarga, banyak keluarga terpapar mengalami krisis, daya beli masyarakat rendah mengakibatkan perputaran uang di Giet menjadi lemah di segala lini. Pedagang pun semakin berhati-hati memberi bantuan sembako kepada masyarakat penoreh takut hutang menumpuk dan usaha dagang terancam rugi besar.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangat Atam dan istrinya, pasutri ini mampu menggerakkan seluruh kemampuan dan potensi ekonomi yang ada dikeluarganya guna mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Ujar Atam waktu kedatangan tim CKK 12/01/2016 kunjungan monitoring impelementasi pembukuan PERT dan pembukuan keuangan KSM, “Kami sudah berhasil membangun 4 jenis sebagai sumber pemasukan keluarga yaitu 1)tunjangan dana terpencil guru honorer, 2)jual karet, 3)jual buah-buahan lokal, 4)dan jual sayur mayur pekarangan dan ladang. “  Kiat dan sikap dari istri tercinta yang mau kerjasama, mau terbuka, mau disiplin dan mau jujur menjadi modal keluarga muda ini muncul kesadaran dan motivasi yang kuat untuk mencapai pertumbuhan dan kehidupan ekonomi yang baik. Jika mengalami kesulitan perencanaan keuangan, pasangan suami istri ini mampu melakukan pengendalian berupa perencanaan ekonomi rumah tangga dan pengendalian pelaksanaannya sehari-hari secara taat dan disiplin, tidak kalah pentingnya lagi si ayah Refanus menceritakan pengalamannya dengan penuh semangat, “ bahwa cara pengendalian pengeluaran adalah menyusun skala prioritas kebutuhan dan alokasi sumber ekonomi keluarga yang didasarkan atas tingkat kemendesakan kebutuhan dan bukan sekedar keinginan.” (Papin)

Kamis, 07 Januari 2016

Menanam Sayur di Karung Bikin Anten Tertarik

Menanam sayur di karung Anten di program tanaman muda KSM PB di Sei Bansi, desa Merawa menandakan anggota KSM mampu memanfaatkan sumberdaya lokal menjadi strategi dan praktek baik di kelompoknya. Menanam sayur di karung di teras menurutnya adalah salah satu upaya mencegah gangguan ternak liar seperti babi dan sapi, lagi pula mudah di pindahkan dan merawatnya kapan saja. Sebab, Anten menyimpan “sayur portable” di atas kayu di terasnya dengan ketinggian kurang lebih 1 meter dari tanah.

"Ini contoh baik bagi anggota KSM lainnya, awalnya anggota menanam sayur di bedeng di lokasi demplot dan di lokasi karet unggul pribadi, tak ada yang aman dari serbuan ternak liar. Namun saat pendampingan fasilitator November 2015, ide “sayur portable” itu muncul, ini inspirasi dari anggota KSM Ruteng, “ kata fasilitator Jely di kantor CKK

Menurut Anten, ide dari Ruteng tersebut amat bermanfaat bagi kami. Mengingat selama ini cara yang kami lakukan dan kami sudah hampir putus asa dalam melakukan budidaya tanaman muda. "Budaya menanam sayur ini sudah hampir 4 tahun dilakukan anggota KSM di kebun entres dan di pekarangan rumah tinggal diinovasi saja, artinya ide dan kreatifitas mengurangi resiko gangguan ternak itu tidak begitu sulit dan sangat membantu, dan saya sudah melakukannya," tegas Anten.

Tugas bersama anggota dan pengurus KSM PB ke depan adalah mendorong sesama anggota agar saling berbagi dan menyemangati. Cara “sayur portable”, menurut Anten, sudah mencerminkan keseriusannya menjalankan RK KSM. (Jely)




Rabu, 06 Januari 2016

CARA SUKSES KSM UK MEMILIKI KAS

Salah satu kemandirian kelompok   dalam fiansial ialah ketika mereka para anggota memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk iuran dana dalam menunjang kegiatan mereka. Kebiasaan itulah yang sekarang ditularkan terus menerus dalam kelompok. Meskipun selalu saja ada kesulitan. Namun itu dilihat sebagai tantangan dan peluang.
Sejak tahun 2012 berdiri s/d tahun 2014 KSM UK (uncak Kontok) mengalami kesulitan mengumpulkan iuran untuk kas kelompok. Anggotanya selalu merasa tidak cukup uang untuk menyisihkan rejekinya untuk iuran kas bulanan, dan banyak alasan anggota lainnya lebih memilih membelanjakannya untuk kepentingan pribadi daripada untuk iuran padahal cuma 15.000/orang/bulan. Pengurus pun menyadari, bahwa tidak selamanya Caritas akan selalu mensupport kegiatan KSM, apalagi hanya sekedar konsumsi rapat dan gotong royong seharusnya menjadi tanggungjawab anggota KSM sendiri sebagai kelompok yang mandiri. Waktu pun berjalan, KSM sudah banyak mengalami sukaduka menjalani pengorganisasian kelompok, di pertengahan tahun 2013 ketika odi perawatan kebun demoplot, muncul ide 3 orang (Husin, Ebun, dan Cintult) mau menghidupkan kembali iuran kas dengan cara arisan dan investasi menanam kakao di lahan. 
Cara pertama, arisan dilakukan sebagai acara penutup sebulan sekali setelah kegiatan wajib perawatan kebun entres dan rapat rutin bulanan selesai. Masing-masing anggota wajib menyetor 15.000 dengan peruntukan 10.000 masuk kas, 5000 menjadi dana transit KSM untuk biaya berobat bilamana sewaktu-waktu anggota membutuhkan. Sejak Januari 2015, rata-rata anggota aktif menyetor bulanan ada 20 orang, jika dinominalkan adalah 300.000 per bulan, menurut laporan monitoring total kas per Oktober Rp.2.334.000 (dua juta tiga ratus tiga puluh empat ribu rupiah). Sampai saat ini sudah ada 2 anggota (Ebun dan Emin) menerima manfaat program berobat, masing-masing mereka menerima kalim sebesar Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah). Kesepakatan pengklaiman, anggota hanya boleh mengklaim biaya berobat sebesar Rp. 50 ribu  dalam setahun kalau sakit. Cara arisan ini memerlukan 26 kali putaran berdasarkan jumlah anggota dan dengan kata lain masing-masing anggota tidak menyetor kas secara bulanan, namun setiap setoran 15.000 per orang tadi sebenarnya bisa saja langsung masuk kas tanpa arisan, tapi semangat dan motivasinya adalah yang penting ada kas masuk. Setiap bulan bagi penerima arisan harus melunasi tunggakan wajibnya, kalau ada sisa boleh diambil....he he he he lucu juga ya. Cara kedua, menanam 87 pohon kakao di sela pohon entres, dan sekarang sudah berusia kurang lebih 3 tahun dan sudah panen 3 kali dan hasil penjualan masuk kas berjumlah Rp39.600 (tiga puluh sembilan ribu enam ratus rupiah) lumayan. Di sela rapat rutin pak Cintult dan pak Ebun menyesali kenapa tidak menanam kakao dari awal KSM berdiri, mungkin kas kita sudah banyak dan KSM kita bisa mandiri soal keuangan. (Adi)

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com