PSE-Caritas Ketapang

Website Resmi Caritas Keuskupan Ketapang

CMLP

BELA RASA

 

Ketahanan lingkungan dan kualitas ekonomi sebagian masyarakat Desa Kualan Hulu Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan. Alasan mencari nafkah, terjadi maraknya aktifitas illegal mining oleh warga lingkungan menjadi rusak air sungai utama tercemar kotor hingga tidak layak dikonsumsi, potensi stunting pun menambah populasi data stunting desa dan kecamatan, anak-anak tereksploitasi bekerja di lokasi tambang menjadi perekek(mendulang emas) demi membantu orangtua menambah penghasilan. Air sungai mulai tercemar karena adanya illegal mining dan beberapa anak mulai tereksploitasi untuk bekerja sebagai pendulang emas.

"Walau pun demikian masih ada sekelompok masyarakat yang masih punya visi dan bersikap kritis," kata Petrus Apin, Manajer Program Caritas PSE Keuskupan Ketapang, yang biasa disapa Papin.


"Mereka yang sudah menerima kajian ABCD (Asset Based Community Development), dampingan Caritas PSE Keuskupan Ketapang dan Caritas Indonesia yang didukung oleh Caritas Australia, ibarat secercah cahaya mau menjadi sebatang lilin pertama menerangi kegelapan bermimpi mau mengembangkan komunitas mereka sendiri," tambah Papin.

Setelah melakukan kajian dengan metode ABCD tersebut, Caritas PSE Keuskupan Ketapang kemudian melakukan pendampingan pada warga dalam budidaya tanaman kopi di wilayah desa tersebut. Program ini disambut baik oleh Kelompok Tani Tanjung Serunai.

Dono, Sekretaris kelompok mengatakan, “Tanam kopi menjanjikan, mengingat 90% warga Desa Kualan Hulu suka kopi sementara sampai saat ini kebutuhan kopi bubuk masih didatangkan dari kecamatan.”

“Menurut target di tahun pertama 15 anggota kelompok masing-masing akan menanam 300 pohon, jadi semua berjumlah 4.500 pohon kopi di desa nantinya,” kata Kupong, Ketua Kelompok Tanjung Serunai.  Program ini dilakukan secara gotong royong, baik saat membuka lahan, membibit, menanam, dan merawat. Dalam bahasa lokal, seorang tokoh bernama Kek Barek, mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan secara bersama, ocek balah ba siruh aih balah ba kapak  (ringan sama dijinjing, berat sama dipikul).


Tahun 2022 ini, fokus dari para anggota kelompok tersebut adalah belajar meningkatkan kemampuan bertanam kopi dan bertani menetap di lahan basah (ranah) dulu.

“Kami tidak mau terulang seperti dulu lagi selalu ikut babi ngerebung (ikut-ikutan orang ujungnya tidak fokus/tidak berhasil),“ demikian kata Hendrianus Hendarno, salah seorang anggota kelompok.

Dijadwalkan pada Agustus 2022 ini, Caritas PSE Ketapang akan mengumpulkan warga pemilik pohon kopi di Gereja Santa Maria Bunda Allah, Botong untuk memfasilitasi Sekolah Lapang dengan mesin untuk mengupas kulit kopi. 

(pa, as, mdk)

Tulisan ini juga terbit di Media Belarasa Kita, Caritas Indonesia , bulan Agustus 2022

| Blogger Templates - Designed by Colorlib