Caritas Ketapang

Website Resmi Caritas Keuskupan Ketapang

CMLP

BELA RASA

Keluarga Agus dan Setiana, berupaya memenuhi pangan mereka dari pekarangan rumah. Dari sumber karbohidrat baik jagung, beras, maupun sayur mayur, bumbu-bumbuan sampai buah-buahan ditanam di pekarangan rumah mereka di Balai Berkuak. Tanaman-tanaman ini mereka tanam secara alami, tanpa bahan-bahan kimia baik pestisida maupun pupuknya. Mulai dari penyemaian bibit, perawatan, mereka gunakan pupuk organik dan pestisida alami.

Yohanes Budin, S.P. staf lapang Caritas Keuskupan Ketapang mengapresiasi langkah Agus dan Setiana yang mampu mandiri memenuhi kebutuhan pangan keluarga dari kebun mereka. Pasangan di Balai Berkuak ini beraksi mewujudkan kedaulatan pangan hingga keluarga itu memiliki keputusan mengenai bahan pangan yang akan mereka konsumsi, bukan menggantungkan diri dari pasokan pasar. Mereka juga ditengah pandemic ini mau menerapkan new normal 4 H yaitu hidup: produktif-sehat-berbagi-hemat.


Pemerintah, perlu mendukung sistem pangan tradisional, dengan tidak membabati hutan-hutan mereka, tidak mencemari alam, dan mendorong masyarakat bertani alami. Bukan sebaliknya, malah memaksa petani pakai benih-benih hibrida yang harus dipakai dengan pestisida dan pupuk kimia buatan.

Langit berawan tipis, mentari pun leluasa menerangi Dusun Balai Berkuak, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang, Kalimantan Barat, siang itu medio Agustus lalu. Sebuah rumah  dengan pekarangan penuh tanaman, dari sayur mayur sampai pohon buah-buahan tumbuh di lahan sekitar ±400 meter² itu. Rumah itu didiami satu keluarga, pasangan, Agus dan Setiana serta 3 anak mereka, 1 menantu, dan 2 cucu.

Di lahan itu, beberapa bedeng jagung tumbuh berjejer tegak segar dengan buah masih muda. Tiga bedeng kacang tanah tumbuh sehat. Ubi jalar di beberapa ujung bedeng. Ada singkong, pare baru berbuah, bumbu hutan (sangkubak) dan cabai. Ada pula, pohon rambutan, salak, durian, manga, dan pepaya.

“Dari lahan ini, saya dan keluarga bisa makan sayur gratis. Puji Tuhan, kalau cuma sayur, tidak usah beli lagi,” kata Agus.

Awalnya, Agus dan istrinya bingung mau tidak punya lahan untuk bercocok tanam. Suatu saat, kata Yohanes Budin, seorang pendamping dari Caritas berkunjung dan menyarankan meminjam lahan tidur milik tetangga untuk berkebun.

Dia pun menggunakan mesin cultivator mengolah lahan tersebut. Setelah tanah digembur, bibit disemai, setelah layak baru ditanam. Usahanya, usaha berjalan mulus, dari situlah awal mula mereka banting setir mengelola pekarangan rumah mulai dari lahan kecil ke pertanian. Tanaman-tanaman ini mereka tanam secara alami, tanpa bahan-bahan kimia pupuknya. Mulai dari penyemaian bibit, perawatan, mereka gunakan pupuk organik dari limbah ternak. “Hasil panen sayur, utama dikonsumsi sendiri juga dibagi ke kerabat dan tetangga. Mereka bisa ambil sendiri secukupnya dan gratis.”

Sejak pandemi, Agus sering berbagi dengan tetangga dan kerabat dekatnya. Dia merasa sangat bahagia bisa membantu orang lain. Lena, tetangganya mengatakan, pak Agus baik hati dan tidak pelit. “Saat lewat di sana, kalau sudah siap panen, saya sering dapat bagian. Ya, semoga makin lancar. Saya mau juga niru pak Agus. Sayangnya, enggak punya lahan di pekarangan.”

 

Berikut videonya:


 

 

| Blogger Templates - Designed by Colorlib