PSE-Caritas Ketapang

Website Resmi PSE-Caritas Keuskupan Ketapang

VIDEOS

Senin.31.8.20 Inspirasi pagi
Lk.4:16-30 “Narzis”
Ada berbagai macam model penghinaan atau penolakan. Ada yang lewat phisik, dan kata kata kasar. Saya pernah mengalaminya. Waktu itu saya duduk makan melantai bersama pasangan yang baru saja menerima sakramen perkawinan. Tiba tiba ada seorang bapak setengah baya, menonjok kepala saya dengan kakinya dari belakang sambil mengatakan, kenapa kamu tidak memberkati anak saya juga. Lalu saya menoleh ke belakang, bapak muda ini semakin berusaha untuk menonjok kepala saya dengan kakinya.

Saya bangkit dengan gerakan reflex mau meninju bapa itu, tapi ketua umat yang duduk disamping saya memegang saya agar saya tidak meladeni orang ini, karena orang ini baru saja keluar dari penjara. Marah dan terasa terhina benar. Belakangan saya baru tahu, dia kecewa dan marah karena anaknya belum juga diberkati oleh pastor. Pristiwanya terjadi di sebuah stasi di Balai Berkuak th. 2003.

Penghinaan dengan kata-kata dan bukan phisik bisa terjadi dimana saja. Kali ini warga Nasaret heboh dengan kehadiran Yesus yang tampil luar biasa sesudah sekian tahun tidak muncul di kampong dimana Ia besar bersama teman sepermainan, atau mungkin anak muda teman temannya. Pujian kekaguman tiba tiba berubah menjadi semacam penolakan bahkan mungkin penghinaan. “Ah bukankah Ia ini anak Yusuf si tukang kayu itu?”

Dibalik pernyataan ini mereka tidak menghargai dan mempercayai kemampuan dan kuasa Yesus. Mereka merendahkan kemampuan Yesus. Seorang nabi dihormati dimana mana kecuali di kampungnya sendiri, ucap Yesus.

Yesus lalu menyingkapkan kebenaran yang terpendam dalam pikiran mereka, “Hai tabib, sembuhkanlah diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" (ay. 23). Yesus tak tak terpancing untuk melakukan mujizat seperti yang mereka kehendaki, malah menyamakan mereka dengan orang-orang pada zaman Elia dan Elisa yang tak mendapat berkat.

 Mereka jadi marah, dan hendak melemparkan Yesus dari tebing.  Yesus  berjalan lewat dari tengah-tengah mereka lalu menghindar. Dia tak tersentuh oleh kemarahan orang-orang yang menolak kebenaran itu. 


Terkadang kita menjadi narsis, mudah tersinggung, merasa diri lebih, merasa diri hebat, lebih pintar, lebih segala galanya. Terkadang kita seperti tokoh Yunani yang bernama Nasisius yang mencintai   bayangan sendiri. Mudah mengeluarkan pernyataan yang memojokan dan merendahkan orang lain. Selfie dimana mana tanpa mengindahkan orang lain.

Terkadang, tidak selalu, ya begitulah. Maka kita perlu belajar mawas diri dan bersikap rendah hati, saling menghormati. Tidak mudah, tapi bisa dicoba.

Selamat pagi sahabat, saudari saudaraku. Tuhan memberkati. (ign made)

Sharing Sr. Antonella Osf


Mohon maaf Romo Hp saya error 2 hari dan ini baru bisa pakai lagi... Tks banyak Romo untuk inspirasi paginya yang bagus...Yesus ditolak dikampungnya sendiri.. Namanya ditolak oleh siapapun dan dimanapun pasti terasa sakit ya Romo.... Apalagi Yesus ditolak karena alasan latar belakang keluarganya. Mereka tidak mau tahu kualitas pribadinya namun berorientasi pada lingkungan/keluarganya...Iya bagaimanapun juga seseorang menjadi orang tidak terlepas dari keluarga. Semoga kita tetap mencintai, menghargai dan bangga akan  keluarga kita bagaimanapun kondisi mereka...Karena mereka tetap berperan besar terhadap apapun keadaan kita saat ini...Tuhan memberkati....
| Blogger Templates - Designed by Colorlib