Sabtu, 12 September 2015

Sesak dadaku, perih mata-hatiku



Batu Daya, yang indah dikelilingi sawit.

Hari-hari kemarau panjang, menjadi penderitaan yang berkepanjangan. Kabut yang tebal  membuat dada sesak, mata jadi perih, hati galau. Pastilah debu jalan akan  semakin tebal saja di jalan tanah merah yang akan kulewati dalam rangka kunjungan umat ke stasi Kambera. Masyarakat mengeja dengan Komora, sebuah desa ditepi perkebunan sawit PT SMP, Batu  Daya, wilayah Kec.Simpang Hulu Kab.Ketapang Kalimantan Barat.

 Hari ini hari jumat pagi seperti biasa, aku berangkat menuju Stasi dengan kendaraan motor kesayanganku KLX 150, jenis trail. Melewati kampung-kampung, terasa nyaman, karena masih  ada kegiatan dan suara kehidupan yang beragam. Ada kokok ayam, suara binatang piaraan ada tai kambing dimana-mana ada  babi bekubang ditengah jalan, sapi lewat. Ah pokoknya asyik deh.

Siangnya melewati perkebunan sawit, pk.11.00, jalan tanah kering, bekas debu masih melekat di dedaunan sawit, kiri kanan jalan, belum lagi diselimuti asap yang tidak jelas dari mana. Di depanku pandangan tertutup oleh debu mobil truk pengangkut sawit. Mau pelan di belakang mobil truck, akan semakin sesak dada dan pandangan mata gelap. Satu-satunya pilihan ngebut berusaha melewati truk. Disinilah bahayanya naik kendaraan di lahan sawit..

Memang sih, jalan-jalan di sawit jauh lebih baik kwalitasnya, dan dirawat, dibandingkan dengan jalan-jalan pedalaman yang menghubungkan kampung yang satu dengan kampung yang lain. Orang bilang jalan di perkebunan itu jalan investasi  kusus, sementara jalan di kampung itu jalan urusan pekerjaan umum yang ditangani Pusat, Provinsi, Pemda, ah negara mana lagi dan kapan akan digarap juga tidak jelas. Kayaknya dari dulu jalan gitu-gitu saja. Ini foto asli lo, bukan rekayasa.
sampai kapan jalan begini terus

Menjengkelkan juga, kemana harus mengeluh. Pemimpin yang familiar dengan  pedalaman saja ndak peduli meski punya legitimasi, apalagi mereka yang tidak pernah merasakan pahit getirnya hidup sebagai orang pedalaman.
Ya lalu apa, mau mengeluh dan mengumpat pemimpin terus. 
Maka, yuk kita cari pemimpin yang mau mendengar, merasakan, melihat, mau menangis melihat kampung halaman yang jarang disentuh. Ayo cari pemimpin yang visioner, yang memiliki gagasan besar ke depan, tidak memerintah melulu, yang tidak diatur-atur, yang jelas tidak korupsi deh untuk membayar segala deal-deal politiknya. Itu aja sih.
Kamora,12 Sept 2015.
Suklan
Suka jalan-jalan

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com