CARITAS KEUSKUPAN KETAPANG

Caritas Keuskupan Ketapang adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang hadir untuk menggerakkan komunitas dalam meningkatkan ketangguhan diri dan pengorganisasian diri sebagai upaya mengurangi kerentanan

DIMENSI DASAR CARITAS #1

Memiliki Identitas Caritas yaitu Melayani dengan Kasih (Deus Caritas Est), dan bekerja berdasarkan visi dan misi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh Caritas Keuskupan Ketapang

DIMENSI DASAR CARITAS #2

Memiliki struktur pelayanan dengan manajemen yang baik, efisien, efektif, berkomitmen tinggi

DIMENSI DASAR CARITAS #3

Melayani berdasarkan Konteks (profilling) yang mengacu pada prioritas isu-isu kerentanan yang dihadapi masyarakat di wilayah Keuskupan Ketapang menuju masyarakat yang resilien terhadap bencana yang sewaktu-waktu mengancam.

ALAMAT CARITAS

Jln. R.M. Sudiono No.11,KETAPANG 78813, Ketapang - Kalimantan Barat - INDONESIA Telp. +62534-32344, Email: caritasketapang@gmail.com / berkuak@gmail.com Website: www.caritasketapang.org

Minggu, 13 September 2015

Kelaminan...Kelaminan


Sang Surya pun menangis,memerah.

Caritas Ketapang – Ketika Bapak Presiden memerintahkan Kapolri dan Mentri lingkungan hidup dan kehutanan menindak tegas perusahan yang melakukan pembakaran lahan dan hutan, bila perlu mencabut ijin perusahan yang lalai, ada secercah harapan bahwa jajaran pemda di Ketapang ini akan bergerak cepat. Masalahnya asap yang tebal sudah sangat mengganggu aktivitas kehidupan.

Tidak tanggung-tanggung, Bapak presiden mengeluarkan perintah itu dari lokasi kebakaran lahan di desa Pulau Geronggang, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatra Selatan, 6 September. Sungguh luar biasa. Pastilah beliau merasakan betapa perihnya mata kena asap.

Kompas Com, menceritrakan, bahkan, untuk sampai di lokasi Presiden harus menempuh perjalanan darat sekitar 3 jam melewati jalan berdebu. Luar biasa.  Tidak terbayangkan oleh ku salah satu penghuni Ketapang, Pak Presiden di dampingi Pj. Bupati Ketapang dan BNPBD tak ketinggalan SKPD-nya bakal ke Kepuluk-Indotani Sie Melayu dalam rangka hadir menyaksikan pemadaman api. Pasti akan menggemparkan. Pastilah sebelumnya Pemerintah akan sibuk memperbaiki jalan Pelang-Tumbang titi, ketimbang memadamkan api dari lahan gambut yang hanya mengeluarkan asap karena repak-repak kayu bagian atas sudah rata terbakar sementara dikedalaman 2 meter tanah gambut api masih gentayangan.

Sekali lagi bayangkan, keputusan itu diambil dari lokasi kebakaran, pertanda kehadiran dan belarasa yang amat tinggi dari pemimpin bangsa. Perih mata,  sesak nafas, galau hati,yang dirasakan orang di lokasi kebakaran dan masyarakat pada umumnya, ikut beliau rasakan. “ Saya perintahkan untuk ditindak setegas-tegasnya perusahan yang tidak mematuhi” ujar presiden Jokowi.,

Kurang apa lagi ya. Surat perintah dan keputusan presiden sudah diamanahkan dan  diwartakan bahkan  dari lokasi terdampak. Sekali lagi kalau saja perintah ini dibuat di Kepuluk-Indotani atau Pelang, pastilah heli-heli yang melintas di atas kota ale-ale lebih rame lagi, dan bisa lebih dipastikan  orang Pontianak  tidak akan teriak-teriak, “ kelaminan..kelaminan eh maksudnya kelaliman, kelalaiman", asap dikirim oleh orang Ketapang. Penderitaan ini diakibatkan oleh kelambanan Pemda Ketapang untuk merespon perintah presiden. Nah itu kan.

Sehebat apapun surat perintah dan keputusan yang datang dari pusat sana, kalau pemimpin di daerah tidak punya visi, misi, yang dekat warga, dan tidak memiliki sifat kepemimpinan yang kuat dan berkarakter, serta, siap mendengarkan dan  tanggap, persoalan asap yang mengakibatkan perih mata, sesak dada, dan pedih hati akan terulang setiap musim kemarau tiba.

Nah ini dia, mari kita pilih dan  bangun kepedulian terhadap pemimpin dekat rakyat,yang tidak rakus, yang punya wawasan lingkungan, yang tahu persoalan lingkungan, yang tidak akan menjadikan wilayah pedalaman sumber keuangan dangan mengeluarkan izin-izin untuk menciptakan pembukaan lahan hutan kembali, yang berimbas sampai kemana-mana, bahkan dunia. Ingat pesan kek Gandhi, “ alam ini akan selalu mampu memenuhi kebutuhan bagi penghuninya, tapi tidak cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan satu manusia yang rakus”. Itu saja sih.

Smpang dua,13 September 2015

suklan

.

Sabtu, 12 September 2015

MUSIM PENGHUJAN SALAH, KEMARAU PUN SALAH


Saat berada di luar rumah, mata perih dan nafas sesak. Bahkan awan pun tidak terlihat. Kejadian ini sudah berlangsung sekitar hampir dua minggu di wilayah Kabupaten Ketapang. Hal ini disebabkan oleh kabut asap yang semakin tebal.

Kemarau berkepanjangan mengakibatkan beberapa kawasan terbakar. Ketapang dikenal mempunyai lahan gambut yang cukup luas, dan celakanya lahan gambut tersebut pun ikut terbakar. 

Upaya pemadaman juga sudah dilakukan. Tetapi lahan gambut yang sudah terbakar sangat susah untuk dipadamkan. 

Kabut asap yang disebabkan oleh terbakarnya lahan tersebut sudah dirasakan cukup mengganggu aktifitas warga Kabupaten Ketapang. Banyak jadwal penerbangan yang delay atau bahkan terpaksa harus di cancel karena tebalnya kabut asap. Jarak pandang saat berkendara pun semakin terbatas.
Beberapa Kabupaten di Kalimantan Barat sudah menghimbau agar sekolah-sekolah, sesuai dengan kebijakan Pemerintah Daerah masing-masing, agar meliburkan sekolah-sekolah karena dikhawatirkan asap yang semakin tebal akan mengganggu kesehatan anak sekolah.

Menurut pantauan BMKG (10/9/2015), Ketapang merupakan wilayah terbanyak yang menghasilkan titik panas di Kalimantan Barat. Dari seluruh 113 titik panas yang ada, 76 di antaranya berada di wilayah Kabupaten Ketapang. Miris.

Setelah ketidakpastian musim yang berlangsung selama ini, kemarau kali ini memang cukup panjang. Sungai-sungai mengering. Bahkan warga Ketapang pun sudah merasakan sulitnya mendapatkan air bersih.

Kondisi jalan yang berdebu juga menambah kendala dalam transportasi, apalagi bagi warga yang harus bepergian keluar dari kota Ketapang menuju kecamatan-kecamatan di luar kota (jalan tanah). Debu dan asap semakin memperpendek jarak pandang. Debu yang tebal di sepanjang jalan kadang membuat kendaraan sepeda motor menjadi oleng dan terjatuh.

Yah…musim penghujan jalan berlumpur, musim kemarau semuanya berdebu. Serba salah.



Sesak dadaku, perih mata-hatiku



Batu Daya, yang indah dikelilingi sawit.

Hari-hari kemarau panjang, menjadi penderitaan yang berkepanjangan. Kabut yang tebal  membuat dada sesak, mata jadi perih, hati galau. Pastilah debu jalan akan  semakin tebal saja di jalan tanah merah yang akan kulewati dalam rangka kunjungan umat ke stasi Kambera. Masyarakat mengeja dengan Komora, sebuah desa ditepi perkebunan sawit PT SMP, Batu  Daya, wilayah Kec.Simpang Hulu Kab.Ketapang Kalimantan Barat.

 Hari ini hari jumat pagi seperti biasa, aku berangkat menuju Stasi dengan kendaraan motor kesayanganku KLX 150, jenis trail. Melewati kampung-kampung, terasa nyaman, karena masih  ada kegiatan dan suara kehidupan yang beragam. Ada kokok ayam, suara binatang piaraan ada tai kambing dimana-mana ada  babi bekubang ditengah jalan, sapi lewat. Ah pokoknya asyik deh.

Siangnya melewati perkebunan sawit, pk.11.00, jalan tanah kering, bekas debu masih melekat di dedaunan sawit, kiri kanan jalan, belum lagi diselimuti asap yang tidak jelas dari mana. Di depanku pandangan tertutup oleh debu mobil truk pengangkut sawit. Mau pelan di belakang mobil truck, akan semakin sesak dada dan pandangan mata gelap. Satu-satunya pilihan ngebut berusaha melewati truk. Disinilah bahayanya naik kendaraan di lahan sawit..

Memang sih, jalan-jalan di sawit jauh lebih baik kwalitasnya, dan dirawat, dibandingkan dengan jalan-jalan pedalaman yang menghubungkan kampung yang satu dengan kampung yang lain. Orang bilang jalan di perkebunan itu jalan investasi  kusus, sementara jalan di kampung itu jalan urusan pekerjaan umum yang ditangani Pusat, Provinsi, Pemda, ah negara mana lagi dan kapan akan digarap juga tidak jelas. Kayaknya dari dulu jalan gitu-gitu saja. Ini foto asli lo, bukan rekayasa.
sampai kapan jalan begini terus

Menjengkelkan juga, kemana harus mengeluh. Pemimpin yang familiar dengan  pedalaman saja ndak peduli meski punya legitimasi, apalagi mereka yang tidak pernah merasakan pahit getirnya hidup sebagai orang pedalaman.
Ya lalu apa, mau mengeluh dan mengumpat pemimpin terus. 
Maka, yuk kita cari pemimpin yang mau mendengar, merasakan, melihat, mau menangis melihat kampung halaman yang jarang disentuh. Ayo cari pemimpin yang visioner, yang memiliki gagasan besar ke depan, tidak memerintah melulu, yang tidak diatur-atur, yang jelas tidak korupsi deh untuk membayar segala deal-deal politiknya. Itu aja sih.
Kamora,12 Sept 2015.
Suklan
Suka jalan-jalan

Jumat, 11 September 2015

BERLADANG ALA PETANI TRADISIONAL

Mengapa, setiap kali bencana kebakaran hutan, selalu yang disalahkan petani peladang tradisional. Sudah bertahun-tahun mereka berladang dengan sistim slash and burn, menurut istilah yang sering mengemuka. Namun mereka dengan saksama memperhitungkan segala sesuatunya agar pembakaran ladang tidak merugikan orang lain. Kapan angin tidak berembus kuat, bergotongroyong membersihkan batas dengan ladang tetangga untuk memastikan api tidak merambat kemana-mana.

Ada kearifan lokal yang mereka pegang teguh, yaitu aturan adat, mereka akan memberikan sangsi adat yang berat, bila  pembakaran ladang mengakibatkan kebun tetangga sampai terbakar. Mereka akan menahan diri untuk tidak segera membakar kalau mereka tidak yakin dalam waktu dekat akan ada sedikit hujan. Mereka juga melakukan ritual adat untuk meminta ijin kepada para roh leluhur sebelum melakukan pembakaran lahan. Di beberapa komunitas dayak malah ada musik dari bambu yang mengiringi kegiatan pembakaran.

Pemilik lahan yang sudah siap membakar akan sabar menanti kesiapan tetangganya, bila dan kapan mereka ada waktu untuk bersama-sama menjaga agar api jangan sampai merayap ke kebun tetangga.

Perlu waktu untuk membuat batas dengan membersihkan batas sampai tidak mungkin api menyeberang. Pada waktu pembakaran mereka telah menyiapkan perlengkapan jerigen/ken yang berisi air, atau pompa bila memungkinkan. Semuanya mereka lalukan agar dapat memotong atau mencegah api tidak merayap kemana-mana.

Caritas Keuskupan Ketapang, mencoba mengikuti sebuah kegiatan bagaimana petani tradisional mempersiapkan pembakaran ladang mereka. Mari kita saksikan video di bawah ini. (samsi+budin)


Rabu, 09 September 2015

BUKAN ETALASE, MELAINKAN POLA : MEKAR EDISI SEPTEMBER 2015

Kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama dalam pelayanan Caritas Keuskupan Ketapang. Dalam Mekar Edisi September kali ini, ingin mengajak para pembaca sekalian untuk ikut memahami bagaimana sebuah pemberdayaan yang baik dan benar itu dilaksanakan. Bukan etalase, melainkan pola, merupakan salah satu credo pendamping yang selalu menjadi acuan bagi Caritas dan seluruh fasilitatornya dalam melaksanakan tugas pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, Mekar kali ini ingin menampilkan satu cerita sukses dari salah satu anggota KSM yang telah merasakan manfaat dari pemberdayaan yang telah dilakukan oleh CKK, yaitu bercocok tanam tanaman muda.
Anda bisa mendapatkan MEKAR di paroki anda masing-masing, di KSM dampingan Caritas, atau anda juga bisa mengunduhnya di sini

Selasa, 08 September 2015

KSM Pateh Banggi dan Siling Pancor Aji Ingin Memanfaatkan Dana Desa.



Sungai Gonggang sangat  potensial untul PLTA
“Penyaluran dana desa th.2015 sebesar Rp.20,77 triliun untuk 74.093 desa masih tersumbat. Puluhan ribu desa belum terima sepeserpun. ( Kompas,27 Agustus 2015)
Mentri Keuangan Bambang Brojonogoro bahkan mengatakan sebagaian besar dana desa masih tertahan di rekening kabupaten. (Kompas com ,3/9/2015)

Menteri Desa dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal (PDT) Marwan Jafar mengatakan, pemerintah daerah yang menahan anggaran dana desa bisa dijatuhi sanksi oleh Kementerian Dalam Negeri. Sanksi yang diberikan bisa penundaan pemberian dana desa, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Alokasi Umum (DAU).
"Pokoknya kalau nggak segera, mereka kita sanksi. Kami bisa delay untuk anggaran desa berikutnya, kalau mereka nggak serius menyalurkan," ujar Marwan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (7/9/2015). 
"Sangat disayangkan kalau demikian jadinya nasib dana desa, yang rugi kita juga", ungkap pak Mungkin yang telah dua tahun didapuk menjadi ketua pengurus Kelompok Swadaya Masyarakat Siling Pancor Aji.

Ada yang mengatakan pemimpin daerah Kabupaten takut dikriminalisasi KPK, takut dana dikorupsi yang dapat berujung pada terjeratnya banyak aparat desa.

Semestinya kekawatiran itu tidak boleh muncul, asal saja hakekat penyerapan  dana dan penggunaan dana desa, perencanaan programnya, disusun ditingkat komunitas Desa. Sementara para pemangku kepentingan benar-benar memiliki niat yang jujur, tranparan dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan.

bertemu dengan Bpk.John Lai dari Dinas ESDM
Oleh karena itu Komunitas SPA desa Merawa dusun Giet, mencoba menyampaikan program jangka pendek ke Desa untuk   memanfaatkan aliran air sungai guna penerangan listrik tenaga mikro hydro. Kepala  Desa telah memberikan  persetujuan. Lalu  mereka  meminta rekomendasi pak Camat, untuk selanjutnya pergi ke Dinas Energi Ketapang.

Langkah yang sudah diambil, membuat studi kelayakan partisipatif sederhana. Kemudian bersama-sama  dengan pendamping menganalisa dan menyusun apa-apa yang diperlukan,  termasuk mencari tahu harga-harga bahan, dan merumuskan dalam bentuk proposal yang sederhana. Mereka melakukan dengan penuh anthusias.

Untuk mengantar proposal ke Dinas Energi dan Sumber daya Mineral, mereka menunjuk pak Mungkin sebagai ketua kelompok pergi ke Ketapang membawa proposal, didampingi Jelly sebagai fasilitator. Mereka menggunakan uang kas kelompok untuk biaya transport ke Ketapang, sambil berharap pemangku kepentingan di Kabupaten mempelajari dan mempertimbangkan proposal mereka. (jelly)


www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com